3 Taman Di Kebun Raya Bali

Ada 3 taman di Kebun Raya Bali yang sangat khas, ketiga taman itu adalah:

Taman Panca Yadnya

Kehidupan masyarakat Hindu selalu berkaitan dengan upacara keagamaan. Dan tumbuhan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan tersebut. Masing-masing bagian tumbuhan digunakan, mulai dari bunga, daun, buah, atau kayunya, memiliki arti khusus dalam setiap pemanfaatannya.

Harmoni  yang elok antara budaya Hindu Bali dan Kebun Raya Bali dapat dilihat di taman Panca Yadnya seluas 5,53 hektar. Ada sekitar 225 jenis tumbuhan dari berbagai kabupaten di Bali menjadi koleksi taman itu. Tumbuhan yang dikoleksi merupakan tanaman yang biasa dipakai sebagai bahan bangunan, hiasan pura, sesaji dan kegiatan upacara keagamaan lainnya.

“Di Bali, masyarakat menggunakan sekitar 300 jenis tanaman untuk upacara. Canang atau sesaji diletakkan di tiap ruangan dalam rumah juga di mobil dan jalan depan rumah.” tutur Bayu. “Coba bayangkan berapa banyak bagian tumbuhan yang digunakan untuk keperluan itu, setiap hari.”

Tak heran jika, menurut Bayu, ada jenis tumbuhan tertentu yang sudah mulai langka di Bali, yang akhirnya harus didatangkan dari pulau lain di Indonesia seperti janur. Oleh karena itu, Kebun Raya sebagai lembaga konservasi eks-situ tumbuhan memiliki peranan strategis bagi upaya penyelamatan dan perlindungan keanekaragaman jenis tumbuhan yang sudah terdegradasi di habitat asli mereka.

Nama Panca Yadnya mengacu kepada lima aktivitas utama kegiatan persembahan masyarakat Hindu di Bali, yaitu Dewa Yadnya (persembahan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa), Pitra Yadnya (persembahan kepada leluhur), Resi Yadnya (persembahan sebagai balas jasa kepada para pendeta atas bimbingannya), Manusia Yadnya (korban suci untuk keselamatan umat manusia), dan Bhuta yadnya (persembahan kepada Bhuta Kala).

Di taman Panca Yadnya, anda akan menemukan berbagai tanaman untuk upacara yang menarik, antara lain cempaka (Michelia champaca L) Trijata (Medinilla speciosa Bl), Uduh (Caryota mitis lour.) dan Majegau (Dysoxylum caulotachyum) yang merupakan maskot flora propinsi Bali.

Taman Begonia

“Keunikan lain dari Kebun Raya Bali adalah tempat ini mempunyai koleksi Begonia terbanyak di dunia. Dari sekitar 200 spesies di dunia, 25% bisa dijumpai di sini. Bahkan sudah ada komitmen, setiap ada jenis Begonia baru yang ditemukan akan dikirim koleksinya ke sini.” Ujar Bayu.

Ya, Begonia merupakan koleksi unggulan Kebun Raya Bali saat ini. Tanaman hias itu cukup unik karena memiliki daun yang tidak simetris dengan berbagai bentuk dan warna yang menarik. Tidak heran jika Begonia mulai banyak dilirik oleh masyarakat untuk dikoleksi. Begonia alam pada umumnya mempunyai perawakan yang sederhana, kurang menarik dan hidup liar. Sedangkan Begonia eksotik kebanyakan berasal dari luar negeri dengan berbagai bentuk yang unik.

Koleksi begonia ditata dalam sebuah taman tematik di rumah kaca seluas 692,35 meter persegi dengan konsep natural menyerupai alam aslinya. Begonia alam ditanam terpisah dengan begonia eksotik tak hanya diperoleh dari hasil sporasi ke berbagai daerah di Indonesia, koleksi Begonia di Kebun Raya Bali merupakan hasil peranakan atau pertukaran biji dengan instansi lain dari luar negeri.

Dari banyak jenis begonia yang telah dikoleksi, terdapat jenis menarik, seperti begonia acetosa, yang mempunyai daun indah berwarna hijau dan permukaan bawah berwarna merah menyala dengan tekstur lembut seperti beludru. Jenis-jenis lain yang termasuk dalam kategori begoniarex juga mempunyai tampilan daun yang beraneka warna dan sangat menarik, seperti hijau muda, hijau tua, hijau menyala, merah, lembayung, perak atau kombinasi warna-warna yang indah. Tekstur daunnya menampilkan bentuk yang unik, misalnya lembut seperti beludru, kasar, berbingkul, berkerut dan keriting. Kebun Raya Bali saat ini juga telah mengembangkan beberapa jenis begonia eksotik dan silangan baru untuk tujuan komersial.

Taman Usada

Keunikan Kebun Raya Bali tak lepas dari keberadaan Taman Usada. Dalam Bahasa Sansekerta Ausadhi, Usada berarti tumbuhan yang mengandung khasiat obat. Area taman seluas 1600 meter persegi itu memang dikhususkan untuk mengoleksi lebih dari 300 tumbuhan (berasal dari berbagai kabupaten di Bali) yang berkhasiat dalam pengobatan tradisional Bali.

Pengetahuan pengobatan tradisional itu berasal dari India yang menyebar ke Bali seiring dengan perkembangan agama Hindu pada abad ke 5 Masehi. Pengetahuan itu kemudian diwariskan secara turun temurun melalui lontar usada (manuskrip sistem pengobatan, bahan obat dan cara pengobatan tradisional yang ditulis di atas daun lontar atau siwalan).

Di taman Usada anda bisa mendapatkan penjelasan singkat mengenai berbagai tanaman yang berfungsi dalam pengobatan tradisional Bali, misalnya pegagan yang digunakan untuk pengobatan menyegarkan mulut, menambah daya ingat, menambah nafsu makan, pertolongan pertama pada luka terpotong atau memar. Atau purnajiwa (tanaman perdu yang banyak ditemukan di daerah pegunungan) yang berkhasiat sebagai obat batuk darah, tonik, aprodisiak, diuretik, serta obat migren. Ada juga toko kecil di tengah taman yang menjual beberapa bagian tanaman yang sudah dikeringkan, sehingga bisa langsung diolah menjadi minuman berkhasiat oleh masyarakat. (Reader’s Digest)

8234 Total Views 9 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply