8 Alasan Mengunjungi Jambi

Bisnis kelapa sawit, karet, dan batu bara memang terus memanen uang, tapi jika Jambi mau berpikir jangka panjang, pariwisata sebenarnya sangat menjanjikan sebagai sumber pemasukan, sekaligus solusi untuk menghentikan perusakan hutan. Rahadiansyah merekomendasikan 8 alasan untuk mengunjungi Jambi, propinsi yang dibelah Sungai Batanghari ini.

Taman Nasional Kerinci Seblat

Taman Nasional terbesar di Sumatera ini memiliki luas 1,3 juta hektar dengan 30%nya masuk kawasan Jambi. Di hutannya hidup satwa-satwa yang dilindungi semacam harimau Sumatera dan gajah Sumatera. Bunga terbesar di dunia Raflesia Arnoldi dan tertinggi di dunia Amorphophallus sp juga merekah di atas tanahnya. Highlight lain dari Kerinci Seblat adalah danau air tawar tertinggi di Asia Tenggara yang bertengger di ketinggian 1900 meter di atas permukaan laut.

Pulau Berhala

Sumber gambar dari blog ini.

Pulau Berhala

Dua propinsi memperebutkan pulau seluas 10 kilometer persegi ini, tapi setidaknya hingga awal 2012 Jambi masih diakui pemerintah sebagai pemilik sahnya. Berhala adalah pulau lepas pantai satu-satunya yang dimiliki Jambi. Pemerintah setempat hendak menjadikannya destinasi wisata, tapi ambisi ini sepertinya menuntut investasi yang tidak murah, sebab pulau Berhala belum memiliki penginapan dan akses menjangkaunya sangat terbatas. Namun untuk urusan potensi, Pulau Berhala jelas punya nilai jual untuk memikat turis. Pantainya menampilkan hamparan pasir putih keemasan yang dihiasi bebatuan besar, sementara interiornya dihuni bukit rindang yang menyimpan makam tua Datuk Paduko Berhalo dan sebuah meriam peninggalan penjajah.

Tak jauh di seberang, terdapat pulau yang lazim disatroni para penyu untuk bertelur. Cukup mengunjungi Pulau Berhala, kita dapat melakoni banyak aktivitas sekaligus, mulai dari wisata sejarah, bahari hingga ekowosata. Pulau ini bisa dijangkau dari dermaga Nipah Panjang (hubungi Slamet, warga yang bisa mengatur perjalanan ke Pulau berhala 081366791133)

Museum Negeri Jambi

Tempat ini adalah pijakan ideal untuk mengenal Jambi. Sebagian koleksinya adalah artefak kerajaan Melayu kuno, senjata tradisional, rumah adat, kain batik Jambi, tanduk kerbau berisi aksara, serta Al Quran tulisan tangan dari abad ke-19. Di lobinya, terpajang harimau beku yang tewas ditembak usai menyerang warga, kasus klasik yang mencerminkan persaingan ironis memperebutkan lahan antara manusia dan hewan di Sumatera. Museum Negeri Jambi (Jalan Urip Sumoharjo No. 01. Telp. 0741 63600) diresmikan pada 6 Juni 1988.

Durian Jambi

Bagi sebagian orang, durian masih tergolong makanan yang aneh akibat aromanya yang kadang memabukkan. Tapi Jambi adalah tempat yang tidak peduli pada orang-orang semacam ini. Datang di akhir hingga awal tahun, sejumlah jalan di kota dikuasai para pedagang durian lokal. Di banyak bantaran sungai, buah-buahan berduri tajam ini bergelantungan menggoda para penumpang speedboat. Durian Jambi memiliki kulit yang tipis, namun isinya cukup padat, yakni antara 10 hingga 11 biji. Harga di tengah kota antara Rp. 25.000,- per buah, sementara di tepian sungai lebih murah, yakni dikisaran Rp. 10.000,- Dua tempat populer untuk membelinya adalah daerah Thehok dan Selat di sebelah barat kota Jambi yang juga terkenal sebagai sentra durian.

Kompleks Candi Muarajambi

Dari segi luas lahan dan jumlah bangunan, Muarajambi bisa dibilang adalah kombinasi dari Angkor dan Bagan, dua kompleks candi terkenal di Asia Tenggara. Saat diniminasikan ke dalam daftar World Heritage UNESCO di 2009, kompleks fenomenal ini tercatat mengoleksi 82 situs di lahan seluas 2.062 hektar yang membentang sejauh 7,5 kilometer di tepian sungai Batanghari.

Namun, beberapa aktivitas ekskavasi setelah itu berhasil mendapati 2 situs baru, sekaligus merekonstruksi 8 candi ke wujud aslinya. Penggalian melibatkan dua ahli dari dalam dan luar negeri, namun akibat dari keterbatasan dana, kegiatan ini tidak berlangsung ajek. Para peneliti percaya Muarajambi merupakan peninggalan warisan Kerajaan Melayu Kuno yang berkuasa dari abad ke-8 hingga 14. Kompleks ini terletak di Kabupaten Muaro Jambi, sekitar 40 menit berkendara dari pusat kota Jambi.

Batik Jambi

Seperti di Jawa, motif batik Jambi juga terinspirasi dari objek-objek lokal. Ada motif Muara Jambi, durian pecah, juga Batanghari. Sejarah batik Jambi dimulai sebagai pakaian bangsawan di abad ke-19. Popularitasnya pasang surut mengikuti fluktuasi harga jual dan pasokan bahan baku. Aneka pakaian dan kain batik bisa ditemukan di toko-toko di kawasan kebun jeruk atau di sentra produksinya di daerah Mudung Laut. Batik tentu layak dibeli sebagai souvenir ketimbang durian yang berbau tajam dan dilarang masuk pesawat.

Kebun Binatang Taman Rimbo

Indonesia mengoleksi tiga jenis harimau, tapi kini hanya satu yang masih bertahan hidup, yakni Harimau Sumatera. Kucing predator ini mendiami hutan hujan tropis yang membentang dari Aceh hingga Lampung. Sayangnya, akibat aneksasi perkebunan dan pertanian, jumlah mereka terus menyusut dan kini hanya tersisa sekitar 400 ekor. Jika anda tak punya tenaga (dan nyali) untuk menembus hutan dan melacak mereka, Kebun Binatang Taman Rimbo memiliki empat ekor Harimau Sumatera dewasa di kandangnya.

Hewan lain yang menarik dilihat adalah binturong, hewan pemakan buah-buahan dan serangga, yang bentuk tubuhnya mirip gabungan antara musang dan Tasmanian Devil. Setelah menyaksikan satwa-satwa bergigi tajam tersebut, sempatkan waktu melihat-lihat kompleks rumah tradisional tak jauh dari pintu masuk kebun binatang. Tiap kabupaten di Jambi memiliki perwakilannya di sini, tempat yang ideal tentunya untuk mempelajari arsitektur Melayu khas lokal.

Kebun Teh Kayu Aro

Dirintis pada tahun 1925 oleh perusahaan Hindia Belanda Namlodse Venotchaaf Handle Veriniging Amsterdam (NVHVA) kebun teh seluas 3.020 hektar ini merupakan salah satu yang tertua di dunia. Waisatawan bisa menyusuri jalur-jalurĀ  yang membelah kebun, menikmati udara segar pegunungan, serta menyaksikan aktivitas para pemetik teh.

Proses pemetikan dilakukan dengan menggunakan tangan, dan bukan gunting, supaya daun teh muda tidak ikut tercerabut dari dahan. Dalam sehari, para pekerja umumnya memperoleh maksimum 10 kilogram daun teh dengan upah Rp. 600,- per kilogram. Kebun Teh Kayu Aro terhampar di kaki gunung kerinci, tujuh jam dari kota Jambi. (Rahadiansyah, Majalah Garuda Indonesia Februari 2012)

6330 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply