Ambon Yang Selalu Manise

Sejak dulu, Ambon memang menawan. Paduan kekayaan alam, dan kentalnya kekerabatan antar masyarakat menjadikan kawasan ini layak masuk daftar wajib kunjung di tanah air.

Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari kawasan yang tergabung dalam propinsi Maluku ini. Bahkan, pahitnya pertikaian sepuluh tahun silam, tidak mampu menghilangkan manisnya Ambon. Seperti yang saya temui ketika berkunjung ke sana baru-baru ini. Keindahan pantai-pantainya yang berpasir putih, debur ombak, dan hamparan terumbu karang serta gemerisik daun-daun sagu, menyajikan bentang alam yang kerap membuat kita tertegun.

Tidak sulit mencapai ambon. Setiap hari ada penerbangan dari Jakarta ke sana. Hanya menghabiskan waktu sekitar 3 jam di angkasa, suasana dan pengalaman indah baru, dijamin bakal meninggalkan jejak sepanjang hayat.

Dari Bandara Internasional Pattimura, kita akan menyusuri pinggir pantai, mengikuti lekuk Teluk Ambon untuk mencapai kota Ambon. Di perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 45 menit, kita bisa menikmati pemandangan teluk Ambon yang sibuk. Perahu nelayan berderet-deret dan perahu transportasi hilir mudik mengantarkan warga. Di sisi lainnya, bukit dengan pepohonannya memberikan kesegaran hijau yang memberikan keteduhan di tengah cuaca Ambon yang relatif panas.

Di sejumlah tempat yang dilewati masih tersisa jejak kerusuhan sepuluh tahun lalu. Tetapi, semangat, hubungan antar warga maupun fasilitas fisik tetap dominan. Dalam perjalanan menuju Ambon, jangan sampai melewatkan desa Wayame. Di sini kentalnya kekerabatan dan solidaritas warga Ambon terbukti. Desa ini sama sekali tidak tersentuh kerusuhan, saat semua wilayah Ambon memanas. Kawasan ini memegang teguh keharmonisan, nilai-nilai sejati masyarakat Ambon yang sempat dilupakan.

Gudang Rempah Rempah

Di Kota Ambon, banyak kawasan yang dapat kita kunjungi sebagai bagian dari wisata sejarah. Di pusat kota ada benteng Nieuw Victoria, yang dibangun oleh VOC pada tahun 1775, sebagai pusat penyimpanan rempah-rempah. Saat ini benteng dijadikan markas kodam Pattimura, sehingga tidak dapat dimasuki secara bebas. Kita harus meminta ijin khusus, jika mau mengeksplorasi isi benteng Nieuw Victoria.

Pasar Mardhika, jangan sampaiaa terlewat untuk disambangi. Selain kita bisa menjadi bagian dari dalam dinamika kesibukan perdagangan, pasar ini memiliki nilai sejarah penting bagi Ambon. Dari pasar inilah upaya-upaya perdamaian dan meredam pertikaian antar golongan digulirkan dan membawa hasil.

Pasar ini juga menjadi jendela betapa kayanya alam di kawasan Maluku. Mata saya berbinar-binar menemukan berbagai jenis rempah-rempah, gunungan biji pala yang ukurannya besar dan sehat, cengkeh dan kenari dijual dalam bentuk tumpukan kecil. Di pojok lainnya ikan asar, yaitu ikan asap yang biasanya dibuat dari ikan cakalang atau tuna, disusun oleh mama-mama penjualnya.

Pantai Bergradasi

Nah, jika ingin menikmati suasana pantai yang lebih tenang dengan pasir putihnya, dan dikelilingin oleh air laut gradasi biru dan karang-karang penjaganya, semuanya ada di Pulau Pombo. Letaknya tidak jauh dari Pulau Ambon, hanya sekitar 20 menit dari tulehu, dermaga yang biasa melayani perjalanan dengan speedboat dari pulau Ambon ke Pulau Haruku dan pulau-pulau lain di sekitarnya.

Hamparan terumbu karang yang masih sangat baik kondisinya menyapa sebelum tiba di Pulau Pombo. Bahkan jika lupa membawa peralatan snorkeling, kita bisa menikmati keindahan terumbu karang dengan mata telanjang dari atas perahu. Memang beberapa bagian lautnya tidak dalam sehingga melihat ikan badut, dan berbagai ikan karang lainnya yang berseliweran di antara terumbu karang seperti melihat di akuarium saja, begitu dekat.

Hingga saat ini pulau Pombo lebih banyak dinikmati oleh kumpulan kucing liar, karena kerap dijadikan tempat pengasingan bagi kucing-kucing nakal yang mengganggu perkampungan nelayan. Tetapi jangan khawatir dengan nasip si manis, selain masih banyak kepiting di pantai, para nelayan kerap mampir untuk memberikan sedikit hasil tangkapan mereka, saat istirahat selepas menangkap ikan di laut.

Sayangnya, pada hari-hari terakhir ini, makin banyak nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan bom untuk mendapatkan hasil dengan cepat tanpa mempedulikan dampaknya. Sebagian nelayan khawatir praktek pengeboman ikan ini merusak terumbu karang yang merupakan tempat ikan berkembang biak dan akhirnya akan menurunkan hasil tangkapan ikan mereka juga.

Pantai yang jauh dari ingar bingar juga dapat dinikmati di Pantai Pasir Putih di kawasan jezirah Leihitu. Sekitar 45 km dari kota Ambon. Di sini, pantai dengan batang-batang pohon tumbang menyajikan komposisi pemandangan yang indah dan sedikit melankolik. Saat pasang tiba, deretan pohon seperti tumbuh di atas laut, unik. Jangan ragu untuk berenang di sini karena pantainya landai.

Sagu Sumber Kehidupan

Pohon sagu merupakan tanaman yang sangat penting bagi masyarakat Ambon, dan masyarakat di kawasan timur Indonesia. Berbagai kebutuhan sehari-hari, dari makanan pokok, yaitu bubur pepeda, pagar, dinding rumah, atap, hingga kayu bakar berasal dari pohon sagu. Hampir mirip dengan pohon kelapa yang memiliki banyak fungsi dan kegunaan bagi masyarakat pesisir. Deretan pohon sagu dapat kita temui dengan mudah di pantai-pantai khususnya di kawasan pedesaan.

Pentingnya sagu dalam kehidupan masyarakat Ambon dapat dilihat dari berbagai penganan. Dari makanan pokok, pepeda, hingga kue-kue kering yang sering disajikan dan dijadikan buah tangan dari Ambon.

Jangan lupa untuk menikmati pepeda, bubur sagu hangat makanan utama orang Ambon dilengkapi dengan ikan kuah kuning asam. Bagi yang belum biasa menyantap pepeda, bersiap-siap saja mengalami kesulitan memutuskan bubur sagunya. Tetapi bubur sagu hangat yang meluncur di mulut berpadu dengan kuah ikan asam kuning, benar-benar menghadirkan sensasi rasa yang berbeda. Tak heran bila banyak yang ketagihan.

Kebanyakan kue-kue kecil di ambon juga berasal dari tepung sagu. Sebut saja bagea, baik yang manis, asin, ataupun yang dicampur dengan kenari. Lalu ada kue sagu manis, yang sangat mirip dengan kue betawi, sagu rangi. Sagu manis biasa disajikan pada pagi hari.

Tepung sagu dijual di pasar dalam bentuk basah, dikemas dalam bentuk ember kecil dari daun sagu. Biasa di sebut tumang. Sagu basah ini tahan disimpan hingga satu bulan. Sementara untuk masa penyimpanan yang lebih lama, tepung sagu dikemas dalam bentuk lempengan-lempengan kering, baik kotak maupun bundar.

Serba Pertama

Pulau Ambon juga merupakan pulau yang banyak menjadi tempat pertama kali di kawasan Maluku. Di Ambon tepatnya di Jazirah Leihitu, terdapat Masjid Tertua, yang sejak dibangun pada tahun 1414 dan sudah berpindah tempat hingga tiga kali. Masjid tua Wapauwe yang saat ini terletak di negeri Atetu, awalnya dibangun di Wawane. Kemudian pada tahun 1614 dipindahkan ke Tehela, 6 kilometer dari Wawane. Pada tahun 1664, dipindahkan lagi ke tempatnya yang sekarang. Bangunan induk masjid Wapauwe dibangun tanpa menggunakan paku. Atapnya terbuat dari atap sagu dan ijuk, sementara tiap sudut mata angin memiliki ukiran khas.

Di Jazirah Leihitu, yang merupakan kawasan berpenduduk muslim terbesar di pulau Ambon, juga terdapat gereja pertama yang didirikan di pulau Ambon. Tepatnya di desa Hila, ada gereja tua pertama, yang kini sedang direnovasi. Gereja ini didirikan oleh warga Belanda, yang awalnya mendirikan benteng amsterdam pada tahun 1642 oleh Gerread Bammer.

Belanda memilih membangun Benteng Amsterdam karena lokasi Hilla memang sangat strategis Dari atas benteng, di kawasan laut antara pulau Ambon dan Seram dapat diamati dengan jelas. Sehingga setiap kapal yang akan memasuki kota Ambon akan diketahui lebih dahulu oleh penjaga benteng dan dikabarkan ke kota. Dulunya ada 12 meriam melengkapi Benteng Amsterdam, menunjukkan fungsinya sebagai benteng pertahanan, tetapi saat ini meriam-meriam tersebut sudah dipindahkan.

Di negeri Hitu Messing, bendera merah putih pertama kali dikibarkan di wilayah maluku pada 27 Desember 1949. Jika beruntung kita bisa bertemu dan berbincang dengan Bapak Haji Abdurrahman, salah seorang veteran yang terlibat dalam peristiwa pengibaran merah putih. Tentang semangatnya, tentang impiannya saat mengibarkan bendera merah putih di Maluku.

Kearifan Yang Tergerus

Jika sudah di Ambon, jangan lupa untuk bertandang ke tempat Om Elly, sapaan akrab Eliza Kessya di Negeri Haruku, Pulau Haruku. Jaraknya hanya 30 menit perjalanan dengan speedboat dari tulehu. Om Elly, sudah 30 tahun menjadi penjaga lingkungan di Negeri Haruku, desa kelahirannya.

Om Elly adalah kepala kewang negeri haruku. Kewang bertugas menjaga kelestarian adat dan menegakkan aturan adat sehingga kehidupan dapat berjalan harmonis. Aturan adat yang kental dengan kearifan menjaga lingkungan di negeri haruku adalah sasi lompa. Sasi atau aturan adat yang melarang penangkapan ikan lompa pada kurun waktu tertentu dengan tujuan menjaga ketersediaannya. Masyarakat tidak dilarang mengambil ikan, tetapi diatur agar tidak terjadi ekspoitasi.

Pada saat panen, atau yang disebut masa buka sasi, pembagian ikan lompa dilakukan dengan adil. Para yatim piatu dan janda diijinkan mengambil lebih dahulu, baru kelompok masyarakat lainnya. Ikan lompa ini tidak dijual lho, tapi dijadikan cadangan makanan untuk menghadapi musim paceklik.

Meski kadang lelah dan kesepian, Om Elly tidak berhenti untuk melakukan upaya-upaya agar lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di Pulau Haruku bisa terwujud. Karena keteguhannya menjaga lingkungan, Om Elly mendapatkan penghargaan kalpataru pada tahun 1985 dan Satya Wacana Pembangunan tahun 1999 dari pemerintah Indonesia.

Keprihatinannya saat ini, selain praktek pemboman ikan tidak pernah berhenti, ada rencana pembukaan tambang di Pulau Haruku yang kecil dan merupakan tempat tinggalnya sejak dulu. Spirit yang sungguh bisa membuat kita terinspirasi.

Berbincang di pinggir pantai yang cantik, sambil minum kopi Totu (kopi yang dimasak dengan rempah seperti kayu manis, cengkeh, kemudian dicampur dengan sopi, minuman khas Maluku yang beralkohol, dengan topping taburan cacahan kenari) mmm, kehangatan yang membuat Ambon selalu manise. (Cita Cinta)

3290 Total Views 5 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

One Response

  1. Linda June 8, 2013

Leave a Reply