Batik Khas Bengkulu, Dibuat Di Tanah Jawa?

Batik Bengkulu

Batik itu bukan monopolinya orang Jawa sebenarnya. Berbagai wilayah di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri dan motif-motifnyapun sangat beragam, serta memiliki nilai dan filosofinya sendiri. Termasuk Bengkulu, yang juga memiliki batik khas yang lebih sering disebut dengan Batik Besurek. Kalau diartikan ke Bahasa Indonesia, besurek berarti bersurat. Surat yang dimaksud adalah tulisan Arab potongan ayat-ayat suci Al-Quran.

Saya baca dari sebuah artikel tentang sejarah batik besurek ini bisa sampai ke tanah Bengkulu adalah dibawa oleh pedagang-pedagang dari kesultanan Demak, diadaptasi dan menjadi kain batik khas Bengkulu. Motif batiknya ada (batik Cirebonan) dipadu dengan motif kaligrafi khas daratan Sumatera.

Corak huruf arab gundul ini yang sampai sekarang digunakan sebagai motif dari Batik Besurek Bengkulu. Sedangkan motif ‘batik ala Jawa’ sudah berubah menjadi ciri khas daerah Bengkulu seperti bunga Raflesia arnoldy, bunga cengkeh, burung kuau, tanaman relung paku dan lain-lain. Warna-warni batik besurek ini juga meriah dan cerah. 😀

Batik Khas Bengkulu

Saya membelikan selembar batik besurek untuk istri. Batik cap sih, bukan batik tulis, hehehe… Murah meriah sih harganya, cukup Rp. 80.000,- saja untuk selembar kain.

Jika mau mencari oleh-oleh khas Bengkulu seperti cinderamata dan kue-kue, termasuk juga batik besurek ini, teman-teman bisa menuju ke daerah Anggut, di situ terdapat pertokoan yang menjual semuanya itu.

Setelah membeli kain batik dari Bengkulu tersebut, hingga sekarang juga belum sempat dibawa ke tukang jahit. Setelah saya baca, ternyata pemakaian batik besurek ini juga terbatas, karena tidak boleh digunakan untuk tubuh bagian bawah. Walah, nggak bisa dijahitin jadi rok berarti ya… Alasannya, karena ayat Al Quran tidak boleh dipakai sembarangan.

Nah, ngomongin soal pembuatannya, saya sebenarnya penasaran dengan sentra kerajinan batik yang ada di Bengkulu. Saya coba tanya-tanya, tak satupun mengerti letaknya. Saat saya makan bakso di sebuah warung, dengan gaya sedikit sok akrab saya mengajak ngobrol penjualnya dengan bahasa Jawa. Dari mas penjual bakso tersebut, saya mengetahui, bahwa ‘pemasok’ batik-batik yang dijual di toko cinderamata itu adalah orang Klaten (tetangga satu kampung saya!) yang mengambil batiknya dari Solo!

Jadi, batik dibuat di Solo dengan motif besurek, kemudian dibawa ke Bengkulu. Lha berarti saya beli batik dari tetangga sendiri, yang sudah ‘mabur’ dari Solo ke Bengkulu, lalu saya bawa mabur lagi dari Bengkulu ke Jakarta. Owalah. 😆

9268 Total Views 6 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments