Berperahu di Danau Tonle Sap Kamboja

March 2nd, 2011 dalam kategori Luar Negeri ditulis oleh 2 Comments | 1 kali dibaca |

Jika Anda sempat jalan-jalan ke Kamboja, mampirlah ke Tonle Sap yang berjarak sekitar setengah jam dari pusat kota Siem Reap dengan mengendarai tuk-tuk. Fenomena danau air tawar terluas di Asia Tenggara itu cukup unik. Pada musim kemarau (November sampai Mei) airnya mengalir ke Sungai Mekong sehingga luas danau hanya tersisa sekitar 2.700 kilometer persegi dengan kedalaman hanya satu meter. Sebaliknya, saat musim hujan yang mulai datang pada bulan Juni, air mengalir kembali ke danau sehingga luasannya mekar menjadi sekitar 16.000 kilometer persegi dengan kedalaman mencapai sembilan meter.

Berbeda dengan profil danau di Indonesia, udara di sekitar Tonle Sap agak tandus dengan debu berterbangan disana-sini. Rumah-rumah perahu berjajar di sepanjang perjalanan menuju tengah danau. Rumah tinggal, toko kelontong, sekolah, gereja, bengkel perahu, bahkan tempat latihan basket terapung menghiasi tepi danau yang dijadikan biosfer oleh UNESCO pada 1997. Jajaran pepohonan yang cukup tinggi memagari pinggiran danau Tonle Sap. Pada Mei, pepohonan tersebut berada di atas permukaan air atau di darat. Sedangkan pada musim penghujan, pepohonan tersebut tenggelam di dalam air, sekaligus menjadi sumber makanan bagi ikan dan ekosistem bawah air danau.

Danau Tonle Sap memang merupakan salah satu sumber perikanan darat yang paling produktif di dunia, dan merupakan 75 persen dari seluruh sumber perikanan Kamboja. Siang itu kami dijamu makan di restoran terapung di tengah danau. Makanan khas Kamboja cukup sesuai dengan lidah Indonesia. Menunya sebagian besar berbahan dasar ikan, dengan jahe, akar lotus dan santan yang mendominasi rasa masakan.

Saat memasuki pusat danau, saya melihat sejumlah perahu kecil mendekati speed boat kami. Beberapa gadis kecil berusia 7-10 yang membawa soft drink langsung meloncat ke speed boat yang melaju cepat, dan menjajakan barang dagangan mereka. Usaha yang penuh resiko demi mencari rejeki.

Satu hal yang menakjubkan, kami tidak melihat sampah di sungai atau danau selama perjalanan dari Siem Reab sampai danau Tonle Sap, meski airnya coklat karena endapan lumpur.

(Nicolaus L. Erwin, Reader’s Digest)

Leave a Reply