Buah Pinang Pembuat Merah Mulut Masyarakat Papua

February 20th, 2011 dalam kategori Papua ditulis oleh 1 Comment | 1,880 kali dibaca |

Sebenarnya tidak hanya di Papua saja yang masyarakatnya memiliki kebiasaan memakan buah pinang. Hampir di sebagian besar wilayah di Indonesia, masyarakat tertentu memakan buah pinang sebagai kebiasaan mereka. Hampir mirip dengan kegiatan memakan permen pada masyarakat modern kita kini.  Makan buah Pinang, membuat mulut mereka bergerak, tanpa harus makan dalam arti yang sesungguhnya.

Di Papua, buah pinang ini sangat digemari, dan hampir di seluruh sudut kota, kita bisa menjumpai masyarakat Papua dengan mulutnya yang berwarna kemerahan. Itulah tanda yang paling utama dari kegiatan makan buah pinang: mulut menjadi merah seperti berdarah. Air ludah yang dihasilkanpun juga akan berwarna merah.

Adanya air ludah yang berwarna merah ini yang sedikit membuat masalah, karena ludah yang dihasilkan dari kegiatan memakan buah pinang ini harus dikeluarkan dan tidak bisa ditelan, sehingga bisa dibayangkan jika dalam sebuah komunitas, banyak sekali air ludah berwarna merah yang dibuang sepanjang jalan, di tempat-tempat umum, bahkan bisa pula mengotori dinding-dinding rumah yang seharusnya terlihat bersih.

Jika Anda menyusuri jalanan di Papua, di sekitar Bandara, di Kota Jayapura, atau di pasar-pasar tradisional sekalipun, masyarakat dengan cueknya membuang ludah berwarna merah hasil makan buah pinang tersebut. Bagi yang merasa mudah jijik, pasti akan sangat sebal jika mengetahui warna-warna merah sepanjang jalan itu adalah bekas ludah yang dibuang sembarangan.

Karena memakan buah pinang adalah sebuah tradisi, agak sulit untuk menerapkan larangan memakan buah pinang. Yang bisa dilakukan hanyalah anjuran agar membiasakan diri tidak membuang ludahnya secara sembarangan.

Rupanya, tradisi memakan buah pinang tidak hanya milik masyarakat Papua dan sebagian besar wilayah Indonesia, tetapi juga dilakukan oleh penduduk Myanmar. Bahkan di Myanmar bisa kita jumpai beberapa pedagang yang menjual racikan pinang dan sirih dalam sekali makan. Praktis, dan tinggal memakan tanpa harus meraciknya sendiri.

Leave a Reply