City Tour Banda Aceh Yang Belum Usai

Pertengahan bulan November 2012 lalu, saya bersama delapan orang sahabat berkesempatan mengunjungi Banda Aceh dan Pulau Weh. Berhubung saya berangkat terlebih dahulu dengan pesawat Garuda Indonesia pagi, sambil menunggu teman-teman datang di sore hari, saya punya sedikit waktu untuk berkeliling kota Banda Aceh.

Dari bandara Sultan Iskandar Muda saya menyewa ‘taksi’ dengan tarif Rp.70.000 saja. Jangan membayangkan taksi seperti yang ada di Jakarta ya! Taksi di Banda Aceh adalah mobil pribadi yang disulap menjadi angkutan umum. Di bandara ada papan pengumuman yang memuat tarif taksi ini, jadi tidak perlu takut kena harga sewa yang terlalu mahal. Kalau ingin lebih murah lagi, ada bus damri dari bandara tujuan masjid raya Baiturrahman. Tarifnya hanya Rp.15.000, tapi anda perlu menunggu hingga flight Lion Air mendarat sekitar pukul 14.30. Bus damri-nya baru jalan kalau penumpangnya sudah lumayan penuh.

Waktu itu adalah kunjungan saya pertama kali ke Banda Aceh. Sebelum berangkat, saya penasaran sekali bagaimana wajah kota ini setelah bangkit dari musibah tsunami 8 tahun silam. Belum lagi beberapa orang yang bilang saya harus berpakaian muslimah selama di Banda Aceh. Wuiihh, udah kebayang deh gerahnya! Ternyata setelah sampai di sana, saya melihat sendiri Banda Aceh sudah berbenah bagus sekali. Jalanan kotanya lebar dan bersih, perumahanan terbangun rapi, dan warga kotanya pun terlihat sangat ramah. Pas ngobrol soal kejadian tsunami sih tetap terlihat ada bayangan duka di mata mereka, well… no wonder since they lost everything due to the gigantic tsunami, tapi saya juga melihat semangat masyarakat Banda Aceh untuk bangkit kembali.

Soal kewajiban mengenakan baju muslim, saya sempat ngobrol dengan Pak Dahru, sopir taksi saya dari bandara, dan Kak Linda, pemilik Linda Homestay tempat saya menginap. Beliau berdua bilang, aturan kewajiban memakai baju muslimah itu hanya berlaku bagi warga Propinsi Aceh saja. Bagi wisatawan baik dalam maupun luar negeri, tidak perlu memaksakan diri memakai baju muslim. Namun, warga Banda Aceh tentu saja sangat senang kalau wisatawan mau menyesuaikan diri memakai baju sopan. Kecuali di Masjid Baiturrahman, karena masjid adalah tempat ibadah, maka kewajiban memakai baju muslimah berlalu bagi siapapun tanpa terkecuali. Saya sendiri memilih untuk mengenakan baju panjang dan kerudung selama di Banda Aceh. I respect the local rule as I want to be welcomed by them.

Dengan tambahan sejumlah uang untuk membeli bensin, saya minta Pak Dahru untuk mengantarkan saya berkeliling kota Banda Aceh. Pertama saya diantarkan ke Museum Tsunami. Museum yang dirancang oleh Ridwan Kamil, seorang arsitek lulusan ITB tersebut masih dalam proses penyelesaian. Dibeberapa bagian masih ada pekerja sedang mengelas besi dan menyelesaikan detil bangunan. Beberapa ruang peraga sudah bisa dilihat. Melihat foto-foto tsunami di dalam museum rasanya campur aduk. Daripada saya mewek nangis, saya pindah ke lantai dasar untuk foto-foto detil bendera yang tergantung di langit-langit museum. Ya, ada bendera negara-negara yang membantu Aceh bangkit dari bencana dengan tulisan kata ‘damai’ dalam bahasa negara-negara tersebut di bawahnya.

Puas berkeliling museum tsunami, saya minta Pak Dahru mengantarkan ke PLTD Apung. Sayangnya pas sampai di sana, pas masuk waktu sholat dzuhur. Kawasan PLTD Apung ditutup untuk umum. Pak Dahru menyarankan untuk beralih ke kapal “nyangkut” Lampulo, saya sih nurut saja. Ternyata, Pak Dahru pun terakhir ke daerah Lampulo beberapa hari setelah kejadian tsunami, it was eight years ago! Jalan-jalan komplek sudah berubah total, Pak Dahru pun bingung, apalagi saya yang ga tahu jalan sama sekali. Akhirnya setelah beberapa kali berhenti bertanya, sampailah kita kapal nelayan yang nyangkut di atap rumah penduduk itu. Saat kejadian tsunami, 56 warga terselamatkan oleh kapal nelayan tersebut. Sungguh suatu keajaiban.

Selesai dari kapal Lampulo, saya dan pak Dahru kembali ke PLTD Apung. Cuma sempat foto-foto sebentar karena saya tak tahan dengan panas kota Banda Aceh yang begitu menyengat. Tak terasa hampir pukul 2 siang, saya harus menuju Masjid Baiturrahman, meeting point saya bersama rombongan sebelum menuju Pelabuhan Ulee Lheu dan menyeberang ke Pulau Weh. Saya minta pak Dahru kembali mengantarkan saya ke pusat kota. Sesampainya di Masjid Baiturahman, teman-teman yang baru sampai tentunya iri dengan petualangan city tour saya. 😀

Ternyata 4 hari kemudian saya yang harus gantian iri. Berhubung flight saya pagi, saya ga bisa ikutan city tour bareng teman-teman yang ambil flight sore. Mereka keliling kota, saya harus menuju bandara untuk kembali ke Jakarta. Yang bikin makin iri, ternyata teman-teman saya sempat main ke Pantai Lampuuk. Waktu ditunjukin fotonya, saya menganga! Whoa, cantik nian! Pantai dengan pasir putih kecokelatan dan tebing-tebing yang indah. Ah, andai saya pagi itu bangun lebih pagi dan bisa menyempatkan mampir sebentar sebelum menuju bandara.

Jika suatu saat saya bisa kembali mengunjungi Banda Aceh, saya punya daftar tempat dan kegiatan yang ingin saya lakukan, yaitu;
• Main pasir di Pantai Lampuuk, plus foto-foto narsis berlatar tebing kapurnya.
• Latihan mengasah kemampuan fotografi di Gunongan dan Peutjoet Kerrkoff.
• Nongkrong sore-sore di Taman Sari sama masyarakat Banda Aceh.
• Minum kopi di kedai kopi dan makan mie aceh paling enak.

Ah, semoga suatu hari saya bisa kembali ke Banda Aceh dan menyelesaikan city tour yang belum selesai ini. (SPS)

9236 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

3 Comments

  1. Husni March 12, 2013
  2. Ejawantah Wisata June 9, 2013
  3. kurkur June 1, 2015

Leave a Reply