Dari Empal Gentong Sampai Wisata Keraton Di Cirebon

Akhir tahun lalu, saya jalan-jalan ke Kota Cirebon. Selain ingin lepas sejenak dari riuhnya ibukota, saya juga ingin mengenal lebih jauh destinasi jalan-jalan saya. Setelah memilih destinasi dan menyesuaikan budget, akhirnya saya memilih Kota Cirebon sebagai tujuan penjelajahan saya kali ini. Kota Cirebon tidak terlalu jauh dari Jakarta dan ternyata Cirebon menyajikan tempat-tempat wisata yang beragam, mulai dari wisata kuliner sampai wisata keraton.

Sabtu pagi, 24 Oktober 2010, saya sudah berada di Stasiun Bekasi. Namun sayangnya tiket kereta Kutojaya sudah habis, padahal saya ingin naik kereta itu karena berangkatnya cukup pagi. Akhirnya saya membeli tiket tanpa tempat duduk seharga Rp. 26.000,- agar saya lebih cepat sampai di Cirebon dan mempunyai lebih banyak waktu untuk menjelajahi Cirebon. Suasana kereta cukup ramai pagi itu, namun saya terus menyusuri gerbong-gerbong siapa tahu ada tempat duduk yang kosong. Untungnya masih ada tempat duduk “nganggur” di gerbong makan, saya kemudian menikmati perjalanan kereta itu bersama penumpang lain.

Saya memperkenalkan diri sebagai seorang pelancong yang baru pertama kali mengunjungi Cirebon. Saya ngobrol dengan sesama penumpang sambil membuka itenerary saya. Beberapa penumpang merekomendasikan kepada saya beberapa tujuan wisata di Kota Cirebon. Selain itu mereka juga memberitahukan hotel atau penginapan yang murah di Cirebon. Saya begitu menikmati perjalanan di atas kereta Kutojaya itu. Dengan para penumpang kereta Kutojaya yang ramah-ramah, perjalanan sejauh 182 kilometer dari Bekasi ke Cirebon terasa begitu cepat. Sesaat sebelum kereta berhenti di Stasiun Cirebon, tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat baru saya di kereta Kutojaya itu.

Setelah menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kota Cirebon, saya langsung mencari makan karena saya tidak sempat sarapan di Bekasi. Seperti rekomendasi sahabat saya di kereta tadi, saya langsung menuju Warung Empal Gentong Mang Darma yang masih berada di dalam Stasiun Cirebon. Empal Gentong memang makanan khas Cirebon yang sangat terkenal, makanya warung Empal Gentong Daging Sapi Mang Darma selalu penuh. Setelah memesan dan menunggu beberapa waktu saya akhirnya bisa duduk dan menikmati empal gentong. Sebenarnya empal gentong dimakan bersama dengan nasi atau lontong, namun saya memilih nasi saja karena rasanya perut belum lengkap tanpa makan nasi. Begitulah umumnya orang Indonesia.

Menurut saya, empal gentong ini terlihat seperti campuran antara gulai dan soto. Istimewanya, empal gentong ini menggunakan usus, babat, dan daging sapi. Setelah dicampur dengan bumbu-bumbunya, empal gentong dimasak di dalam gentong (periuk tanah liat) di atas kayu bakar. Uniknya, kayu bakar yang digunakan untuk memasak empal gentong ini hanya kayu pohon mangga. Dengan bumbu dan alat masak yang istimewa, empal gentong memang mempunyai rasa yang sangat khas. Tidak hanya itu, setelah masak dan disajikan di mangkok, empal gentong akan ditaburi dengan kucai dan sambal. Sambalnya juga istimewa karena sambal yang digunakan adalah bubuk cabai kering giling yang pedasnya sangat pas dengan kuah empal gentong. Mak nyusss!

Setelah makan empal gentong, saya keliling stasiun dulu karena Stasiun Cirebon sedang diperbaiki, ada penambahan beberapa jalur kereta yang baru. Setelah itu saya melihat-lihat bangunan Stasiun Cirebon yang cukup unik. Bangunan stasiun yang bergaya Belanda ini dibangun tahun 1920 dan masih berdiri kokoh sampai sekarang. Keluar dari stasiun beberapa tukang becak menawarkan jasanya kepada saya. Sebenarnya saya ingin mencoba naik becak khas Cirebon, namun karena jarak hotel sangat dekat dengan stasiun maka saya jalan kaki saja. Saya berkeliling sebentar untuk survei harga hotel di sekitar stasiun, di sepanjang Jalan Siliwangi itu memang banyak terdapat hotel-hotel dengan harga bersahabat. Saya akhirnya memilih hotel Cordova yang berada tepat di depan Stasiun Cirebon dan saya hanya perlu membayar Rp. 70.000,- untuk standard room.

Setelah bersantai sejenak di hotel yang nyaman ini, saya kemudian jalan-jalan di sepanjang Jalan Siliwangi. Selain banyak terdapat hotel dan penginapan, di jalan utama Kota Cirebon ini juga banyak terdapat beberapa gedung pemerintahan, seperti Kantor DPRD Kota Cirebon dan Kantor Walikota Cirebon. Di depan gedung Griya Ciayumajakuning, saya berfoto di depan Topeng Raksasa. Ternyata seminggu sebelum saya jalan-jalan ke Cirebon, di gedung itu dilaksanakan Festival Topeng Nusantara yang diikuti seniman topeng dari seluruh Indonesia. Yang saya perhatikan, di Jalan Siliwangi itu terdapat beberapa warung Sega Jamblang, makanan khas Cirebon yang lain. Namun siang itu, warung-warung Sega Jamblang belum buka, “Nanti sore sampai malam bukanya, Mas,” begitu kata orang yang saya tanyai di tepi jalan itu.

Di Jalan Siliwangi itu, becak-becak hilir mudik dan beberapa kali saya ditawari jasa tukang becak. Namun saya lebih suka jalan kaki untuk menikmati suasana Kota Cirebon yang santai dan udaranya sejuk. Sebelum bundaran Jalan Siliwangi suasana semakin ramai karena di sebelah Selatan jalan itu terdapat Alun-alun Kejaksan dan Masjid At-Taqwa. Alun-alun Kejaksan yang cukup luas itu digunakan untuk tempat berkumpul, ada beberapa kerumunan pemuda yang duduk di alun-alun itu. Di Masjid At Taqwa banyak terdapat orang yang duduk-duduk sambil menikmati suasana Alun-alun Kejaksan yang ramai itu. Masjid yang sangat megah ini memang menjadi tempat favorit bagi warga Kota Cirebon. Di depan Masjid At Taqwa itu juga terdapat rumah dinas walikota Cirebon yang bergaya khas rumah Cirebon.

Setelah itu, saya menyusuri Jalan Veteran, dari Jalan Siliwangi saya belok kiri ke arah Utara. Jalan Veteran ini terlihat lebih sepi dibanding Jalan Siliwangi, namun suasana di jalan ini tak kalah menarik. Beberapa puluh meter dari Bundaran Siliwangi itu, saya menemukan Cepot Center. Cepot Center ini merupakan basecamp bagi para pecinta sepeda onthel di Kota Cirebon. Menempati sebuah bangunan tua, Cepot Center ini penuh dengan sepeda-sepeda onthel, meskipun hanya ada beberapa anggota di dalam gedung ini. Tidak jauh dari Cepot Center saya menemukan beberapa penjual bunga di trotoar jalan. Beberapa penjual bunga yang umumnya ibu-ibu tua itu membuat suasana Jalan Veteran itu begitu klasik. Dari orang yang saya tanya di tepi jalan, ternyata itu adalah Pasar Kembang Cirebon. “Bunga-bunga di sini dipakai untuk orang yang mau ke keraton, Mas,” ucap bapak-bapak di tepi jalan.

Saya terus menyusuri Jalan Veteran yang berujung di pertigaan yang terdapat markas TNI AD, bangunannya cukup tua. Saya kemudian belok kanan menuju Pelabuhan Cirebon. Memasuki pelabuhan ini, saya membayar tiket masuk sebesar Rp. 2.000,-. Jalan masuknya sama dengan jalur truk-truk berkontainer, namun kemudian saya belok kanan untuk memasuki kawasan Pantai Kejawanan. Pantai Kejawanan ini masih dalam kawasan Pelabuhan Cirebon. Di samping bisa menikmati pemandangan kapal-kapal di pelabuhan, saya juga bisa menikmati suasana pantai Cirebon di sore yang cerah. Di pantai itu juga ada beberapa pemancing ikan dan penjala udang. Saya ngobrol dengan penjala udang itu dan darinya saya baru tahu arti nama Kota Cirebon. Udang yang banyak terdapat di Cirebon adalah udang Rebon, makanya seperti umumnya nama kota di Jawa Barat yang diawali dengan kata Ci (sungai), kota ini kemudian dinamakan Cirebon (Sungai Udang Rebon).

Udang Rebon

Setelah menikmati senja yang indah di Pantai Kejawanan, saya kemudian pulang ke hotel. Karena sudah cukup malam, angkot sudah jarang sehingga saya harus jalan kaki meskipun kaki saya sudah mulai capek. Dalam perjalanan pulang ke hotel, perut saya sudah mulai lapar dan kebetulan ada angkringan. Selain karena lapar, saya juga tertarik dengan penampilan angkringan yang trendy ini. Nama Nasi Kucing yang umum di daerah Jogja atau Solo diplesetkan menjadi Nasi Koe Cing. Dengan penampilan yang didominasi warna kuning ini, angkringan Nasi Koe Cing menawarkan semua menu angkringan pada umumnya, mulai dari nasi kucing sampai gorengan. Istimewanya, angkringan ini menyajikan menu spesial Ceker Aduhai. Saya kemudian membungkus beberapa menu dan kemudian saya bawa ke hotel.

Sesampai di kamar hotel, saya makan nasi kucing dengan lahapnya. Meski porsinya sedikit namun mengenyangkan perut saya. Setelah mengisi perut, saya langsung istirahat sejenak karena kaki saya badan saya sudah pegal-pegal. Berjalan-jalan menyusuri hampir separuh dari keseluruhan Kota Cirebon ini ternyata melelahkan juga. Tak terasa saya tertidur, bangun-bangun saya langsung mandi karena saya tidak ingin melewatkan malam di Cirebon ini tanpa makan Sega Jamblang. Menurut karyawan di hotel, Sega Jamblang yang paling terkenal di Cirebon adalah Nasi Jamblang Mang Dul yang terletak di dekat Grage Mall. Karena Sega Jamblang Mang Dul cukup jauh dari hotel, maka saya mencari Sega Jamblang di sekitar Jalan Siliwangi saja.

Nasi Jamblang

Keluar dari hotel, suasana di Jalan Siliwangi semakin ramai karena saat itu malam Minggu. Kaum muda-mudi meramaikan dua sisi jalan raya itu dan juga beberapa klub motor yang berkumpul di beberapa tempat di sepanjang jalan itu. Saya menemukan warung Sega Jamblang yang cukup ramai, namanya Sega Jamblang Pedesan Entog. Di Kota Cirebon, Sega Jamblang merupakan makanan yang paling banyak dicari setelah Empal Gentong. Nama Sega Jamblang berasal dari nama daerah Jamblang, di sebelah Barat dari Kota Cirebon, yang menjadi asal usul makanan khas Cirebon ini.

Yang menjadi ciri khas Sega Jamblang adalah alasnya yang berupa daun Jati, yang dipercaya bisa membuat nasi tetap pulen. Sega Jamblang disajikan secara prasmanan dengan beberapa menu umum, seperti sambal goreng, tahu sayur, semur hati, perkedel, ikan asin, dan tempe. Nasi jamblang yang saya santap cukup istimewa karena ada menu spesial yaitu pedesan entog. Sega Jamblang ini di Jaman Belanda diperuntukkan untuk pekerja paksa sehingga harganya sangat murah. Sampai sekarang juga masih murah, saya hanya “kena” Rp. 10.000,- untuk Sega Jamblang Pedesan Entog itu.

Setelah puas menyantap Sega Jamblang saya kemudian pulang ke hotel lagi karena malam sudah sangat larut. Sebelum masuk hotel, saya mengabadikan pemandangan suasana malam hari di depan Stasiun Cirebon. Suasana yang sangat akrab bagi saya, namun saya harus istirahat karena esok hari saya harus melanjutkan petualangan saya menyusuri sisi lain Kota Cirebon.

Setelah bangun keesokan harinya, badan rasanya masih capek dan pegal. Namun keinginan untuk menjelajahi keraton-keraton di Kota Cirebon bisa mengalahkan rasa lelah itu. Keluar dari hotel, saya terkejut karena Jalan Siliwangi ramai sekali di Minggu pagi itu. Tidak hanya mobil yang hilir mudik, becak dan sepeda pun berseliweran. Saya kira awalnya memang banyak pesepeda yang menggunakan jalan itu seperti car free day di Jakarta. Namun saya mendapatkan jawabannya ketika sampai di depan Gedung Balai Kota Cirebon. Ternyata hari itu dimulai etape ketiga balap sepeda Tour d’Indonesia yang dimulai dari Gedung Balai Kota itu. Beberapa waktu kemudian jalan dikosongkan untuk penyelenggaraan balap sepeda itu, saya beruntung bisa menyaksikan start etape ketiga balap sepeda Tour d’Indonesia itu.

Setelah menyaksikan start Tour d’Indonesia, saya kemudian menyusuri Jalan Siliwangi untuk mencari sarapan. Setelah mencari-cari, akhirnya saya mencoba menu sarapan khas Cirebon, yaitu Bubur Sop Ayam. Awalnya saya heran, apakah makanan khas Cirebon ini berupa bubur yang dimakan dengan kuah sop ayam? Karena penasaran saya memesan Bubur Sop Ayam Mang Kappi di depan Alun-alun Kejaksan. Seperti bubur pada umumnya, bubur sop ayam ini dibuat dari bubur nasi. Namun, istimewanya, bubur sop ayam ini diberi kuah bening dari sari kaldu ayam. Tidak hanya itu, bubur unik khas Cirebon ini ditambah dengan mie soun, kacang kedelai, irisan kecil kol, tauco, kentang, dan kerupuk kanji yang sudah diremukkan. Satu lagi, bubur sop ayam ini juga ditambahkan cabai bubuk kering seperti yang digunakan untuk empal gentong. Untuk menikmati bubur istimewa ini saya hanya perlu membayar Rp. 8.000,-.

Jalan-jalan menyusuri sejarah Kota Cirebon langsung saya mulai setelah menyantap bubur sop ayam itu. Kota Cirebon ini cukup istimewa sejarahnya karena dalam Kota Udang ini terdapat empat keraton yang berbeda, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keraton Keprabon. Sesuai itenerary saya, rute pertama yang harus saya tempuh adalah dari Alun-alun Kejaksan ke Keraton Kasepuhan. Rute pertama ini saya menggunakan angkot karena jaraknya cukup jauh, ongkos angkot yang mengantarkan saya ke Keraton Kasepuhan hanya Rp. 2.000,-. Suasana di Keraton Kasepuhan begitu ramai ketika saya datang, banyak rombongan anak sekolah dari luar kota yang jalan-jalan ke Keraton Kasepuhan. Tiket masuk untuk pengunjung Keraton Kasepuhan ini hanya Rp. 3.000,-, namun bila pengunjung datang dengan rombongan akan disediakan seorang pemandu yang berpakaian tradisional Cirebon.

Keraton Kasepuhan merupakan keraton pertama di Cirebon yang memiliki wilayah seluas 10 hektar. Layaknya keraton-keraton Jawa yang lain, Keraton Kasepuhan terletak di Selatan alun-alun. Di sebelah Barat alun-alun terdapat Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Keraton Kasepuhan sangat mudah dikenali dari gapura-gapuranya yang terbuat dari batu bata merah. Batu bata merah ini menjadi ciri khas bangunan-bangunan resmi di Kota Cirebon. Setelah memasuki gapura keraton, saya menemukan Bangsal Jinem, sebuah bangunan keraton yang didominasi warna putih. Di halaman depannya terdapat patung sepasang harimau putih yang menjadi simbol kekuasaan Prabu Siliwangi. Di komplek keraton ini saya juga menemukan Kereta Singa Barong dan beberapa peninggalan Kerajaan Kasultanan Cirebon.

Masjid Raya Cirebon

Setelah menyusuri sejarah Keraton Kasepuhan, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Keraton Kanoman. Namun suasana di siang itu gerah juga, saya akhirnya tertarik untuk minum es kelapa muda di depan Keraton Kasepuhan. Setelah itu, saya menuju Keraton Kanoman. Menurut penjual es kelapa muda itu, untuk ke Keraton Kanoman saya tinggal jalan kaki, “Dari masjid (Masjid Agung Sang Cipta Rasa), lurus saja, nanti sampai Pasar Kanoman belok kiri,” begitu ucapnya. Saya kemudian jalan kaki lewat di depan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, di depannya banyak penjual Nasi Lengko. Ingin rasanya mencoba satu lagi makanan khas Cirebon ini namun waktu saya untuk menjelajahi Kota Cirebon sepertinya terbatas. Akhirnya saya sampai di Pasar Kanoman yang ramai sekali.

Saya malah asik menikmati suasana Pasar Kanoman. Di sepanjang jalan di tengah pasar itu, saya melihat ramainya para pedagang yang menjajakan jualannya, mulai dari pedagang pisang sampai pedagang burung. Di tengah pasar tradisional yang sangat padat itu juga terdapat banyak tukang becak yang berbaris rapi. Asik menyusuri jalan di tengah pasar itu, saya baru sadar kalau saya sudah terlalu jauh. Katanya tadi, Keraton Kanoman itu tidak terlalu jauh. Saya malah sampai di ujung pasar. Namun di sana saya malah menemukan sebuah vihara, sayangnya Vihara Pemancar Keselamatan itu sedang tidak menerima para pengunjung. Setelah bertanya lagi, ternyata saya kelewatan Keraton Kanoman. Saya harus “balik kanan” dan setelah ketemu sekumpulan tukang becak tadi saya harus masuk ke pasar dan di belakang pasar itu lokasi Keraton Kanoman.

Setiba di depan alun-alun Kanoman, kaki saya terasa capek karena nyasar di Pasar Kanoman tadi. Akhirnya saya singgah di masjid di dekat alun-alun itu, dan ternyata Masjid Jami Jagabayan itu merupakan masjid tertua di Kota Cirebon. Setelah beristirahat sejenak di masjid itu, saya kemudian masuk ke Keraton Kanoman dengan membayar tiket Rp. 3.000.-. Keraton Kanoman ini luasnya lebih sempit dibandingkan Keraton Kasepuhan, di bagian depan saya langsung disambut dengan sebuah gapura tunggal yang besar dan berdinding putih. Di dalam kompleks Keraton Kanoman ini terdapat 27 bangunan kuno. Di Keraton Kanoman, Sunan Gunung Jati pernah meninggalkan jejak kakinya dan bahkan masih ada sampai sekarang. Selain itu ada juga kereta Sunan Gunung Jati yang bernama Paksi Naga Liman yang berbentuk seperti Buraq.

Setelah menyusuri bangunan-bangunan kuno di Keraton Kanoman, saya kemudian keluar dari pintu belakang keraton. Dari sana saya menyusuri gang-gang kecil di tengah pemukiman penduduk untuk mencapai Keraton Kacirebonan. Di perjalanan menuju Keraton Kacirebonan itu, saya menemukan gapura menuju Makam Syekh Maulana Maghribi. Namun lokasi makam itu cukup jauh dari gapura itu, maka saya memutuskan untuk melanjutkan ke Keraton Kanoman saja. Tak berapa jauh berjalan kaki, saya akhirnya sampai di Keraton Kacirebonan. Setelah masuk ke dalam, saya disambut oleh juru kunci Keraton Kacirebonan. Saya kemudian membayar tiket masuk Rp. 3.000,-, setelah itu juru kunci keraton mengantarkan saya dan menjelaskan beberapa hal tentang keraton yang dibangun pada tahun 1800 ini. Di keraton ini, benda-benda bersejarah, seperti keris, wayang, perlengkapan perang, dan gamelan disimpan dengan baik.

Setelah menyusuri Keraton Kacirebonan, saya awalnya ingin menuju keraton terakhir, yaitu Keraton Keprabon. Namun akhirnya saya memutuskan untuk langsung ke Grage Mall, rasanya kurang lengkap kalau tidak singgah ke mall terbesar di Kota Cirebon. Dari Keraton Kacirebonan saya naik angkot ke Grage Mall. Di mall yang berada di Jalan Kartini itu, saya hanya jalan-jalan. Karena waktu terbatas, saya harus segera kembali ke hotel. Dari Grage Mall saya tidak membutuhkan waktu banyak untuk sampai kembali ke hotel. Setelah duduk santai beberapa waktu, saya kemudian check-out dan langsung menuju kembali ke Stasiun Cirebon. Untungnya saya masih mendapatkan tiket kereta Cirebon Express (Cirex) seharga Rp. 70.000,-.

Kereta Cirex yang akan mengantarkan saya kembali ke Jakarta baru akan tiba setengah jam lagi, maka saya masih punya waktu untuk menikmati menit-menit terakhir di Kota Cirebon. Saya kemudian membeli oleh-oleh khas Cirebon di toko khusus oleh-oleh di depan Stasiun Cirebon. Setelah itu, saya masuk ke stasiun dan tak lupa untuk makan dulu karena perjalanan Cirebon-Jakarta memakan waktu tiga jam. Saya makan empal gentong lagi, tapi kali ini beda tempat dari sehari sebelumnya. Bila kemarin saya makan empal gentong di Mang Darma, sekarang saya makan empal gentong di Bu Darma. Rasanya kuahnya empal gentong Bu Darma tak sekental yang kemarin, namun tetap nikmat. Saya juga sempat memesan tahu gejrot untuk saya makan di atas kereta. Dan ketika kereta Cirex datang, dalam hati saya berucap, “Terima kasih Cirebon untuk dua hari yang sangat istimewa ini.”

13849 Total Views 12 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

3 Comments

  1. joko p jakarta March 5, 2012
  2. Roy Ibrahim April 10, 2012
  3. Reviardi April 13, 2012

Leave a Reply