De Ranch Maribaya Lembang, Mendadak Koboy

Gaya sih sudah mirip koboy Amerika. Dengan topi lebar dan rompi kulit. Tapi begitu melihat kuda tinggi besar yang harus ditunggangi, nyali saya mendadak ciut.

Tujuan saya berangkat ke Bandung akhir pekan lalu sebenarnya murni untuk belanja. Sudah terbanyang di kepala apa saja yang akan saya beli di sana. Tapi seorang teman berhasil membujuk saya mengurungkan niat belanja, beralih ke wisata berkuda di De Ranch Maribaya.

Bareng Bocah

Sesampainya di lokasi saya langsung menuju tempat penyewaan kuda. Satu kali putaran harganya hanya Rp. 15.000,-. Itu sudah termasuk pakaian ala koboy, topi lebar dan rompi kulit, plus seorang pemandu. Saya mengantre di belakang pengunjung anak-anak. Serasa paling bongsor deh. Malu banget nih, saingannya anak-anak. Saya menengok ke belakang, ternyata ada beberapa rombongan perempuan seusia saya yang juga akan menunggang kuda. Ah, lumayan, ada teman.

Saya sedikit grogi melihat perawakan kuda-kuda tunggangan yang tinggi besar. Saya perhatikan satu per satu kuda di sana, barangkali saja ada kuda-kuda mini, tapi kok enggak ketemu. Saya bertanya kepada salah satu penjaga kudanya , “Mang, ada kuda yang kecil enggak?” Eh, sambil senyum dia bilang, “Yang lebih besar banyak”. Duh, bikin malu aja.

Kuda yang akan saya tunggangi bertumbuh tinggi besar. Untuk naik ke punggungnya saja saya meski menggunakan step. Jadi deg-degan, apalagi si kuda tak mau diam, bergerak ke sana ke mari. Saya takut jatuh. Enggak lucu saja kalau jatuh dan terinjak kaki kuda. Ingin rasanya saya mengurungkan niat berkuda. Tapi, karena sudah bergaya ala koboi, malu kali kalau enggak jadi. Bisa-bisa saya dicap koboy cengeng oleh teman-teman yang menunggu di pinggiran sambil senyam senyum.

Menunggangi Sultan

Perlu tiga orang yang membantu saya naik. Dua orang memegangi kuda dan satunya lagi mendorong tubuh saya ke pelana. Kuda yang saya tunggangi bernama Sultan. Ia adalah kuda Sumbawa. Dari 15 kuda yang ada di sana, si Sultan yang paling jinak dan sering masuk televisi.

Meski begitu, tetap saja tidak mengurangi rasa takut saya. Dan sepertinya dia juga bisa mencium hal itu. Begitu pantat saya sampai pelana, dia bergerak-gerak tidak nyaman dan ringkikannya menandakan dia tidak suka saya tunggangi. Si pemandu mengingatkan saya lagi untuk rileks, “Tenang saja Neng, jangan takut, si kudanya gelisah kalo si Enengnya takut”. Gimana mau tenang, kalau jatuh, sakit tauuu… Setelah berssah payah saya bisa juga duduk tegak di atas pelana.

Si pemandu memberi instruksi cara memegang tali kekang yang baik. “Pegangannya jangan terlalu kencang, santai saja. Kalau mau berhenti tali kekangnya agak ditarik dan kalau mau jalan tali kekangnya dilonggarkan”, katanya. Ia juga mengatakan dalam berkuda yang penting adalah keseimbangan dan kaki-kaki harus kuat sehingga tidak mudah jatuh dan sikap tubuh mesti tegak.

Malah Ketagihan

Saya berpesan pada pemandu untuk membawa saya ke rute yang paling pendek dan jangan pernah melepaskan pegangannya. Tapi setelah beberapa menit berada di atas punggung kuda, saya mulai merasa nyaman. Langkah-langkah kaki kuda, seperti irama musik lembut yang menenangkan pikiran.

Perlahan-lahan saya bisa mengendalikan si Sultan tanpa perlu pemandu memegangi tali kekangnya. Menurut si Pemandu, Sultan termasuk kuda yang paling terlatih dan hafal track. Sultan juga jarang ngambek, artinya dia jarang sekali menjatuhkan penunggangnya. Asal jangan dipegang ekornya, dia tidak suka. Yiah, siapa juga yang mau pegang ekornya! Pegang tali kekangnya saja perlu konsentrasi gini.

Berkeliling peternakan sambil menunggang kuda sangat mengasyikkan. Lokasi De Ranch berada persis di belakang pegunungan Putri dan Tangkuban Perahu. Pemandangannya memesona. Sejauh mata memandang hanya hijaunya rumput yang terlihat. Aroma khas rerumputan hijau berpadu dengan hawa sejuk kawasan Lembang menjadi daya tarik. Berada di sini saya jadi merasa seperti sedang berada di negeri lain. Apalagi areal 5 hektare ini benar-benar di-setting seperti peternakan di luar negeri. Saya jadi merasa seperti koboy beneran.

Tanpa terasa saya telah menunggang dua putaran, itu berarti sekitar 20 menit. Saya tidak lagi merasa takut, malah ketagihan. Selesai berkuda, saya menyantap sosis bakar yang rasanya yummy banget dan meneguk segelas susu murni dingin. Hmm benar-benar nikmat.

Next time, saya pasti akan datang dan berkuda lagi. (Sumber: Cita Cinta)

6242 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply