Dua Diantara Seribu Keindahan

Dari ratusan pulau yang membentang di gugusan Kepulauan Seribu, dua pulau sudah berhasil saya jelajahi. Dua pulau tersebut adalah Pulau Tidung dan Pulau Onrust. Khusus untuk Pulau Tidung, saya sudah dua kali jalan-jalan ke sana.

Berangkat menuju Kepulauan Seribu dapat dimulai dengan menaiki kapal dari Muara Angke. “Bau laut” sudah bisa kita cium dari sini. Semakin ke tengah lautan, udara yang lebih segar bisa kita rasakan. Jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari di daratan Jakarta yang masih didominasi dengan polusi udara hasil asap knalpot kendaraan di tengah kemacetan.

Bersama empat teman, @giewahyudi, @denignasher, Karina dan Goedel Mood (keempatnya adalah blogger) kami bertolak menuju Tidung, menaiki kapal.

pulau%20tidung%201 Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Perjalanan selama di laut lumayan seru, ombak cukup besar buat saya dan @giewahyudi. Dari atas dek kapal, kami menikmati panasnya matahari dan tiupan angin laut yang segar. Tak sempat tidur selama perjalanan, karena pemandangan lebih indah untuk dilewatkan.

pulau%20tidung%2014 Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Burung-burung yang melintas dan deretan pulau dengan karakteristik yang berbeda, menjadi pemandangan sepanjang dua setengah jam terombang-ambing di atas lautan. Berangkat pukul 07.30 pagi dari pelabuhan Muara Angke dan mendarat jam 10.00 di Pulau Tidung.

pulau%20tidung%202 Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Tiba di Pulau Tidung, kami serombongan langsung menuju penginapan yang sudah disediakan oleh Mas Romy (pengelola tour and travel). Sebuah rumah dengan AC yang sangat nyaman. Es sirup dingin langsung menawarkan dahaga selama perjalanan. Istirahat sebentar, menata tas di penginapan, dan langsung makan. Menu cumi goreng, ikan bakar dan sayur asem, hmmmm nikmat!

Kami ditawari untuk istirahat selama satu jam sebelum nanti akan dibawa ke Pulau Payung dan Pulau Tidung Kecil untuk snorkeling. Tapi kami semua sepakat menolak untuk diam-diam saja di penginapan. Kami langsung mengambil sepeda yang terparkir di halaman rumah dan mengayuhnya ke bagian barat Pulau Tidung.

pulau%20tidung%203 Tak Terlindung Di Pulau Tidung

pulau%20tidung%204 Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Ternyata, Pulau Tidung tak sekecil yang saya bayangkan. Saat jalan-jalan pertama kali ke Pulau Tidung, saya tak sempat menjelajah sampai ke bagian barat, yang pantainya juga ada beberapa spot yang bisa dikunjungi. Di depan kantor Kecamatan Pulau Tidung, terdapat taman dengan pepohonan yang rindang. Kami parkir sepeda di sana, dan berlari menuju pantai. Sayang, di atas pasir putihnya, tumpukan sampah menghalangi kami berlari-lari di sepanjang bibir pantai. Air laut dan awan di atas pantai sendiri tampak biru dan indah. Lumayanlah buat dinikmati. Tak terasa, sudah mendekati jam dua belas, saatnya untuk kembali ke penginapan, karena kami akan snorkeling. Yihaaa!

Alat-alat lengkap berupa snorkel, kaca mata, fin dan pelampung sudah disiapkan oleh Mas Romy. Kami mencobanya yang sesuai dengan ukuran. Daaaan, meluncurlah kami ke pantai, ditemani oleh seorang guide, Mas Anwar. Sebuah kapal khusus disewa untuk mengantar rombongan kami menuju spot-spot yang indah dengan karang dan ikan warna warni.

Bagi yang merasa nggak bisa berenang, tapi pengen bisa menikmati rasanya snorkeling di Pulau Tidung, nggak perlu khawatir. Ada pelampung yang menemani kita dan dipandu oleh guide yang sudah pengalaman. Teman-teman saya aja @denygnasher, Goedel Mood dan Karina dari awal juga mengaku sama seperti saya, tidak bisa berenang, tapi nyatanya, bisa berjam-jam menikmati pemandangan bawah laut Pulau Tidung Kecil. Sayang, ombaknya cukup besar saat itu, dan angin juga bertiup kencang, menjadikan semuanya lemas padahal masih ingin menikmati laut.

pulau%20tidung%207 Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Selesai snorkeling, masih dengan kapal sewaan, kami dibawa ke tempat yang paling dikenal di Pulau Tidung. Apa lagi kalau bukan jembatan cinta. Jembatan Cinta adalah jembatan yang menghubungkan antara Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Jembatan panjang terbuat dari kayu tersebut, memiliki bagian yang melengkung setinggi lima meter, dan sering dipakai untuk menguji nyali: terjun menuju laut. Sore itu, tak satupun dari rombongan kami berani mencoba. Mungkin juga karena sudah lelah melawan ombak saat snorkeling tadi. Akhirnya kami hanya bertepuk tangan saat ada rombongan lain yang terjun dari atas Jembatan Cinta Pulau Tidung.

Kembali ke penginapan, kami bergantian mandi. Makan malampun sudah terhidang di atas meja. Nyaammmm, kami mengisi perut yang sudah kosong. Saya, lalu tertidur di depan televisi. @denygnasher tampaknya juga merem di kursi. @giewahyudi dan Goedel Mood mengobrol sambil minum kopi di teras depan, sedang Karina sambil leyeh-leyeh, nonton televisi. Sebenernya kami semua kecewa, karena rencana dari awal kami ingin foto-foto saat sunset, tapi waktunya sudah nggak kekejar lagi. Yah, SLR-nya @denygnasher nganggur jadinya.

pulau%20tidung%206 Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Jam delapan, semuanya dipanggil ke tepi pantai untuk menikmati ikan bakar dan minum es kelapa muda. Hmmm, nikmatnya… Sambil melihat bulan, meskipun cuaca tidak cerah dan sedikit mendung, segarnya angin pantai membuat suasana romantis.

Setelah perut kenyang dan malam juga sudah larut, kami kembali ke penginapan, dan semua tergeletak tepar dengan suksesnya. Tak ingin melewatkan sunrise seperti halnya sunset kemarin, alarm sengaja distel jam 04.30 biar bisa siap-siap dulu. Lanjut dengan tidur nyenyak. Dinginnya AC sudah nggak dirasa lagi, badan capek semua, dan kami kompak berucap: Selamat Malam…

pulau%20tidung%208 Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Sesuai dengan alarm, kami semua bangun tepat waktu. Nggak ada yang mengeluh kecapean, semuanya semangat ingin mengejar sunrise. Jam lima, kami mengayuh sepeda menuju Jembatan Cinta, dimana matahari yang cantik biasa memunculkan diri. Apa daya, jembatan cinta pagi itu terlihat tak bergairah. Langit mendung. Fotografer dengan kamera-kamera SLR yang lebih dulu tiba di Jembatan Cinta juga lunglai. Sepertinya bakal gagal mendapatkan objek buruannya. Kami serombongan memutuskan berjalan melintasi jembatan menuju Pulau Tidung Kecil. @denygnasher menangkap beberapa moment dengan SLR-nya, meski tak seindah sunrise jika cuaca cerah.

pulau%20tidung%2010 Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Di tengah jembatan, kami mendapati tangan usil yang mencoba membakar jembatan. Hampir tidak mungkin puntung rokok biasa penyebabnya, karena angin sangat besar dari kemarin, jadi kalaupun ada yang membuang puntung rokok sembaranganpun pasti akan jatuh ke laut. Jembatan Pulau Tidung berasap dan tiangnya sudah terbakar hampir seperempat bagian. Kami berusaha memadamkannya dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.

Menginjakkan kaki pertama kali di Pulau Tidung Kecil, hujan gerimis menyambut kami. Untungnya, ada pondok penjual makanan tepat di bibir pantai. Kami berteduh sambil mengisi perut. Mie instan, bakwan yang masih mengepul dan secangkir kopi, menghangatkan badan. Lanjut ke makam panglima hitam saat hujan reda.

pulau%20tidung%209 Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Pulau Tidung Kecil tidak berpenghuni. Namun demikian, ada rumah penjaga yang pada siang hari ada petugasnya. Untuk mencapai makam panglima hitam, harus berjalan melewati semak-semak dengan rumput ilalang setinggi dada. Siap-siap dengan celana dan kaos lengan panjang jika tak mau kulit tergores yang bisa mengakibatkan badan gatal-gatal. Panglima hitam adalah seorang yang dipercayai sebagai pahlawan saat melawan penjajah Belanda. Ada juga beberapa makam anak buahnya yang tersebar di Pulau Tidung Kecil.

pulau%20tidung%2013 Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Nah, bagian yang paling asyik adalah pantai pasir putih yang tersembunyi di sudut pulau tidung kecil. Jika di Pulau Tidung Besar anda mendapati banyak sampah di bibir pantai, di Pulau Tidung Kecil: BERSIH!

Saya dan kawan-kawan rasanya nggak pengen pulang dari pantai di Pulau Tidung Kecil ini. Tapi apa daya, waktu terbatas, jadi kami bergegas mengakhiri keindahan Pulau Tidung Kecil. Sarapan sudah menanti di seberang jembatan cinta. Mas Romy dan istrinya mengantarkan sarapan ke pantai, sehingga kami bisa menghabiskan waktu dengan mencoba meloncat dari Jembatan Cinta.

Anak-anak kecil dan remaja lokal seolah mengejek keberanian kami dengan bolak-balik terbang di udara dan menjatuhkan diri ke dinginnya air laut. Beberapa pengunjung mulai panas dan menjajal keberanian mereka. Byuuur, melompatlah ke dalam laut dari ketinggian lima meter. @giewahyudi akhirnya 3 kali melompat, setelah saya tantang dengan iming-iming hadiah. icon lol Tak Terlindung Di Pulau Tidung Karina juga sangat pemberani, terjun dari Jembatan Cinta, meski ditungguin @giewahyudi di bawah untuk dituntun berenang ke tepian. Saya? Cukup menonton dan bertepuk tangan saja.

pulau%20tidung%2012 Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Puas, akhirnya bisa menikmati libur akhir minggu dengan teman-teman blogger yang baru saya kenal. Pulang ke penginapan, mandi, dan kapalpun sudah menanti di pelabuhan siap membawa pulang kami menuju Jakarta. Di atas kapal, mencari posisi enak buat tidur. Saya, @giewahyudi dan Goedel Mood tergeletak tak berdaya. Karina saya lihat menyender di tiang kapal. Sedangkan @denugnasher, entah kenapa, energinya seperti tak habis-habis: menikmati cipratan air laut yang menerpa masuk ke dalam kapal.

Jam tiga, kapal mendarat di muara angke. Bau amis yang sangat menyengat, membuat perut lapar menjadi mual. Kami naik angkot B01 jurusan grogol dan berpisah dengan Goedel Mood yang melanjutkan perjalanan ke Depok dengan bis patas AC. Sisanya, naik busway menuju Harmony.

pulau onrust 1 300x200 Pulau Onrust, Tak Pernah Istirahat

Pulau kedua yang saya jelajahi dari sekian banyak pulau di Kepulauan Seribu namanya Pulau Onrust. Pulau dengan luas 5 Ha ini dapat kita kelilingi dalam waktu 30an menit berjalan kaki. Tidak begitu luas memang, tapi sangat eksotis.

Pulau Onrust adalah pulau yang sangat terkenal pada jamannya. Bali? Jangan ditanya. Tahun 1700an, orang lebih kenal dengan Pulau Onrust, sama seperti kini orang mengenal Pulau Bali.

Rombongan merapat di dermaga Pulau Onrust sekitar pukul 14.00. Sudah agak sore. Koko Ray (pimpinan rombongan) langsung mengajak berkeliling sambil menceritakan sejarah Pulau Onrust, beserta seluruh bangunan yang ada di situ. Kebanyakan tinggal puing puingnya saja, meski masih ada beberapa yang berdiri tegak. Diantara yang masih kokoh adalah bekas rumah sakit dan rumah tinggal dokter. Bekas bangunan penjara juga masih ada, namun sangat disayangkan, tangan tangan jail mencorat-coret dindingnya dengan kejam.

Pulau Onrust adalah pulau yang dijadikan sebagai asrama penampungan Haji. Ada 35 blok penampungan, dimana para calon Haji diasrama sebelum diberangkatkan menuju tanah suci menggunakan kapal laut.

Pulau Onrust pernah terjadi wabah tikus yang sangat parah, hingga menewaskan banyak sekali penghuninya. Bahkan struktur bangunan di Pulau Onrust dibuat dengan memasang perangkap tikus di sekitar pondasi bangunan.

Tikus – tikus di Pulau Onrust tidak berasal dari Indonesia melainkan import dari negeri Belanda. Mereka menumpang pada kapal kapal barang yang merapat di pelabuhan dan akhirnya beranak pinak di pulau tersebut.

Kisah yang paling terkenal dari Pulau Onrust adalah kasih tak sampainya Maria Van De Veldes yang meninggal pada usia 25 tahun. Maria lahir di Belanda 1694 dan meninggal di pulau Onrust tahun 1719. Maria meninggal mengenakan baju pengantinnya, menunggu sang kekasih yang akan datang dari Belanda. Penantiannya tersebut sia sia juga seandainya Maria tidak meninggalpun, karena sang kekasih ternyata juga sudah meninggal terlebih dulu.

Pulau Onrust 4 200x300 Pulau Onrust, Tak Pernah Istirahat

Hingga kini Maria masih terus menampakkan dirinya di Pulau Onrust. Entah sampai kapan.

Oiya, makam Maria ini berada di satu lingkungan pemakaman khusus untuk orang orang Belanda. Masih banyak lagi makam lain yang lebih tua. Makam orang Belanda memang dipisahkan dari makam orang orang pribumi. Kok ada orang pribumi di Onrust? Pribumi ini adalah calon haji yang meninggal sebelum berangkat.

Ada satu lagi makam yang katanya juga keramat. Tapi saya tak melihatnya sendiri. Hanya cerita Mas Dhanang yang keliling sampe sana. Yaitu makamnya Kartosuwiryo. Buat yang jago sejarah, pastinya kenal dong siapa bapak yang satu itu. Hanya saja nggak jelas makamnya yang mana diantara dua makam yang ada di situ.

Yang menarik lagi dari Pulau Onrust adalah pohon-pohonnya yang rindang dan lebat. Pulau Onrust adalah pulau yang paling lebat pohonnya diantara semua pulau yang ada di kepulauan seribu.

~~~

Kapal dari Muara Angke menuju Pulau Tidung tarifnya Rp. 35.000,-
Sebuah Guest House di Pulau Tidung berharga antara Rp. 250.000,- sampai dengan Rp. 300.000,- dan bisa menampung hingga 10 orang.
Sewa sepeda per hari sekitar Rp.15.000,-
Peralatan snorkeling bisa juga disewa dengan biaya Rp.30.000,-
Kapal nelayan untuk mengantar snorkeling ke beberapa titik harga sewanya sekitar Rp.300.000,- bisa dibagi rame-rame hingga 10 orang.
Contoh itinerary kalau mau jalan-jalan ke Pulau Tidung bisa dibaca di sini.

Intinya, semakin besar rombongan, biaya yang dapat dibagi pun jadi semakin murah.

Yuk, jalan-jalan ke Kepulauan Seribu!

6229 Total Views 7 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

One Response

  1. Ejawantah Wisata July 23, 2013

Leave a Reply