Festival Tabot Di Bengkulu Yang Meriah

Festival Tabot Bengkulu

Setiap tanggal 1 sampai dengan 10 Muharram, masyarakat Bengkulu memiliki sebuah tradisi mengenang meninggalnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad. Tabot berasal dari Bahasa Arab “tabut” yang berarti peti. Tabot diyakiki telah ada sejak pengikut paham Syi’ah yang ada di Bengkulu membangun Benteng Marlborough (1718-1719). Asal muasal aliran Syi’ah itu sendiri dari Madras dan Bengali (India).

Selain di Bengkulu, masyarakat Pariaman di Sumatera Barat juga memiliki adat istiadat yang hampir mirip, dengan nama Tabuik. Pada perkembangannya, Tabot tidak lagi dimaksudkan untuk mengenang meninggalnya cucu Nabi, tetapi lebih kepada perayaan untuk mengormati pesan leluhur.

Kini, Tabot telah menjadi semacam Festival Kebudayaan yang diselenggaran oleh Pemerintah daerah. Tabot sendiri terbuat dari berbagai macam bahan, dengan bahan utama bambu, rotan dan karton. Biayanyapun tidaklah murah. Bisa mencapai 5 hingga 15 juta rupiah. Diadakan pula kenduri dengan berbagai macam sesaji dari mulai beras hingga emas. Alat musik yang digunakan adalah dol (sejenis bedug) dan tessa (mirip rebana). Urutannya adalah mengambik tanah, duduk penja, menjara, meradai, arak penja, arak serban, Gam, arak gedang, dan Tabot tebuang.

Mengambik tanah atau mengambil tanah, dilakukan di Keramat Tapak Padri dan Keramat Anggut tanggal 1 Muharam, sekitar pukul 22.00 WIB. Tanah kemudian disimpan di Gerga Berkas dan Gerga Bangsal. Selanjutnya adalah duduk penja. Penja itu sejenis miniatur telapak tangan dengan jari-jarinya. Dicuci dengan air limau setiap tahunnya, tanggal 5 Muharram jam 16.00 WIB. Pada tanggal 6 dan 7, kedua kelompok saling mengunjungi, yang disebut Menjara.

Meradai adalah kegiatan mengunpulkan dana yang diadakan tanggal 6 Muharram oleh anak-anak yang berumur 10 hingga 12 tahun. Arak penja dan arak seroban dilakukan berturut-turut pada malam hari tanggal 8 dan 9 Muharram, dengan meletakkannya di dalam Tabot. Tanggal 9 adalah masa Gam atau berkabung, tenang dan tidak boleh ada kegiatan apapun. Selanjutnya, dari masing-masing Gerga, Tabot diarak dan bertemu di suatu titik (bersanding). Pada akhirnya berkumpul di lapangan Merdeka Bengkulu. Di hari terakhir, 10 Muharram Tabot dibuang di rawa di sekitar makan Imam Senggolo atau Syekh Burhanuddin.

Jika anda ingin melihat meriahnya rangkaian upacara Tabot ini, datanglah ke Tapak Paderi di Bengkulu. Tidak dikenakan biaya masuk karena upacara diadakan di tempat terbuka. Dari Bandara Fatmawati, jaraknya sekitar 15 kilometer. Dengan menggunakan taksi, biaya yang dikeluarkan tak sampai Rp. 100.000,- Karena berada di kota, Tapak Paderi memudahkan anda menikmati fasilitas mulai dari penginapan, rumah makan dan lainnya. (Gambar: Nurul Iman Supardi)

6420 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply