Glodok, dari Kelenteng hingga Gereja Bersinga

Walau struktur bangunannya tidak banyak berubah, daerah pecinan Glodok akan selalu memberikan pengalaman menarik. Sebuah gang kecil disesaki puluhan kios yang menjajakan barang dagangan. Ada yang menjual kue-kue keranjang, perhiasan, makanan, hingga koin-koin tua. Pasar itu dikenal sebagai Pasar Pancoran atau Glodok Pancoran.

Tepatnya di Jalan Kemenangan 5, sebuah kios sederhana bernama Alibaba menjajakan kue-kue basah. Kios itulah yang menopang kehidupan Wong Wan Hie, 57, dan keluarga sejak 1966.

Wong Wan Hie adalah generasi ketiga dari keluarganya yang menetap di kawasan Glodok, Jakarta. Kakeknya datang dari Tiongkok dan bekerja sebagai makelar di masa penjajahan Belanda. “Lalu, bapak saya bikin kue dan jualan. Kemudian, diteruskan ke saya,” ujarnya.

Glodok memang dikenal sebagai kawasan-pecinan tertua di Jakarta. Selain Pasar Pancoran, ada pasar di Jalan Petak Sembilan yang hanya berbeda satu gang. Mayoritas warga di sana memang berprofesi sebagai pedagang. “Semua keperluan hari raya Imlek ada di sini. Begitu juga dengan bahan restoran chinese Sebanyak 90% restoran Chinese Food di Jabodetabek, mengambil bahan-bahan di Glodok,” ujar pria yang telah menjadi Ketua RW 02 Kelurahan Glodok, sejak 21 tahun silam.

Dari ingatan masa kecil Wong Wan Hie, kawasan Glodok ini tak banyak berubah. Beberapa rumah mengadakan renovasi. Namun, tak ada perubahan mencolok. Pasalnya, kawasan ini sudah ditetapkan sebagai daerah konservasi budaya. “Sebetulnya yang di sebut Glodok itu dari Jembatan Metro ke daerah sini (Jalan Kemenangan). Glodok Harco bukan termasuk daerah Glodok, tapi sudah Mangga Besar,” lanjutnya.

Tertua

Bertandang ke daerah pecinan Glodok tak lengkap jika tak berkunjung ke salah satu wihara terbesarnya. Kamis (27/1), Vihara Dharma Bhakti tampak sedang bersiap menyambut Imlek, yang jatuh 3 Februari mendatang. Cat dinding tampak baru dipoles. Di bagian belakang, beberapa meja dan tempat lilin sedang dicat ulang.

“Sejak Desember sudah dilakukan pengecatan ulang. Tiga hari ini kami sibuk membersihkan Buddha Rupangdan Dewa rupang,” ujar Yu Ie, 35, pengurus Wihara Dharma Bhakti.

Wihara ini menjadi tempat peribadatan bagi umat Buddha, Tao, dan Konghucu. Di sini terdapat 20 altar sembahyang dan lebih dari 50 rupang dewa. Arsitekturnya betul-betul khas dengan atap yang melengkung ke atas.

Ukiran-ukiran naga, phoenix, dan fciVin pun ada di banyak sisi bangunan. “Ini kelenteng tertua di Jakarta, kalau menjelang Tahun Baru China ramai sekali. Orang-orang menganggap rasanya belum sah kalau tidak berdoa pada Kwan Im paling tua,” jelas Yu Ie.

Wihara Dharma Bhakti didirikan pada 1650 oleh seseorang bernama Kwee Hoen. Dulu kelenteng ini bernama Kwan Im Teng yang berarti paviliun Kwan Im.

Pada peristiwa pembantaian warga Tionghoa oleh Belanda pada 1720, kelenteng ini ikut habis terbakar. Pada 1755, kelenteng didirikan kembali dengan nama Jin De Yuan atau disebut juga Kim Tek Yi atau kelenteng kebajikan emas.

Bagi yang pertama kali datang ke sana, mungkin bisa dibuat bingung dengan dua bangunan sembahyang .yang berada di depan Wihara Dharma Bhakti. Dalam kompleks itu, memang terdapat dua kelenteng kecil. Satu di bagian tengah didirikan pada 1820 bernama Te Cong Ong.

Menyusul kelenteng Hui Tek Bio pada 1960 yang terletak paling depan. “Jadi ada tiga kelenteng. Kepengurusannya juga beda,” tambah Yu Ie.

Di era Orde Baru, tradisi Tionghoa yang dibatasi membuat kelenteng ini berubah nama jadi Wihara Dharma Bhakti. Penggunaan bahasa Mandarin dan tradisi merayakan Imlek pun dilaksanakan dengan tertutup.

Akulturasi

Selain pasar dan kelenteng, sebuah gereja yang memiliki arsitektur khas Tionghoa juga menarik perhatian. Letak Gereja St Maria de Fatima ini hanya dipisahkan Sekolah Katolik Ricci.

Dari depan bangunan, bentuk atap yang melengkung ke atas masih tampak jelas. Aksara Mandarin dan lambang bunga yang terukir pada atap juga dipertahankan. Pun sepasang patung singa jantan dan betina, lambang perlindungan, masih diletakkan di depan bangunan. Pemandangan itu terlihat unik jika disandingkan dengan patung Bunda Maria yang ada di sisi samping ba ngunan.

Sebelum jadi gereja, bangunan itu merupakan rumah tinggal kapiten bernama Tjoe. Pada 1953, rumah tersebut dijadikan gereja oleh Pater Wil-helmus Krause van Eeden SJ dari misionaris Xaverius.

Menurut Pastor Suhud, 40,kondisi fisik bangunan tak banyak berubah. Sembilan puluh persen masih dipertahankan sesuai dengan bentuk aslinya. Termasuk altar pemujaan leluhur, kusen pintu serta ukiran-ukiran pada tiang bangunan. “Ini bangunan bersejarah. Usianya kira-kira sudah 300 tahun,” ujar Suhud.

Selain mempertahankan arsitekturnya, Gereja St Maria de Fatima mengadakan misa dan sekolah minggu berbahasa Mandarin. Bahkan ada juga kursus bahasa Mandarin. Hal itu dilakukan agar budaya Tionghoa tidak lepas dari kegiatan beribadah.

Uniknya, tak hanya warga beragama Katolik yang beribadah di sini. Suhud kerap menemui umat Buddha dan Konghucu berdoa di depan Bunda Maria. “Sosok Bunda Maria mirip seperti Dewi Kwan lm yang keibuan. Mungkin inilah yang membuat orang-orang di sini juga merasa dekat dengan gereja,” lanjut Suhud.

Menjelajahi daerah pecinan Glodok memang tak ada habisnya. Suhud yang baru tiga bulan tinggal di gereja itu pun mengaku banyak sudut pecinan yang belum terjamah olehnya. “Banyak hal-hal menarik yang bisa dipelajari. Sebulan enggak akan habis,” ujar Suhud yang kerap berkeliling tiap sore itu.

(Sumber: miweekend@mediaindonesia.com, Foto: Echinodermata)

3133 Total Views 1 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply