Istri Hamil Muda Ngidam Naik Turun Gunung

Jalan-jalan kalau direncanakan terlalu ribet biasanya malah ga jadi. Tapi jalan-jalan tanpa direncanakan trus langsung main berangkat aja, kadang bikin heboh juga. Nah, saya pernah kejadian kayak gitu. Waktu itu istri lagi hamil muda, nah katanya kalau hamil muda gitu suka takut kalau nanti perutnya sudah melendung ga bisa jalan-jalan. Kebetulan waktu itu liburan Natal, jadinya langsung sat-set berangkat pagi-pagi ke Terminal Lebak Bulus.

Sampai terminal langsung tanya orang di manakah posisi bus yang ke Sukabumi, eh ternyata barusan berangkat. Oke, kita tunggu bus berikutnya. Hampir setengah jam nunggu belum datang juga dan orang-orang yang nungguin sudah banyak banget. Kalau ga rebutan pasti harus nunggu bus berikutnya, saya nunggu di deket pintu masuk sementara istri istirahat dulu. Begitu bus Parung Indah datang, saya langsung masuk dan taruh tas, baru istri saya nyusul. Yang ga bisa naik bus banyak. Sorry.

Perjalanan Jakarta-Sukabumi cukup tersendat karena macet di sana-sini. Istri sih sudah tidur pules, jadi saya harus melek biar ga kebablasan. Untung mas kernet busnya baik, saya lupa nama simpangnya dan cuma bilang mau ke Situ Gunung. Eh mas kernet yang baik hati ini ngasih tau nama simpangnya adalah Cisaat. Dari simpang itu jalan dikit ke kiri trus naik angkot merah, begitu petunjuk dari mas kernet. Lumayan pegel juga hampir lima jam duduk di minibus.

Begitu turun kami mampir ke Indomaret dan ATM dulu, karena katanya di Situ Gunung susah nyari warung atau semacamnya. Tas sudah lumayan penuh, mari lanjutkan perjalanan. Setelah belok kiri kami langsung disambut beberapa tukang ojek yang menawarkan jasanya, keliatan kali ya kalau kami mau ke Situ Gunung. Selain mahal ongkosnya, istri yang lagi hamil muda tentu lebih nyaman naik angkot. Kami menuruti saja nasihat mas kernet bus tadi, meski harus ngetem agak lama. Huhuhuu.

Kami juga harus lebih bersabar karena angkot merah ini jalannya pelan banget. Jalan menuju Situ Gunung sedikit menanjak, dan sang sopir memang lagi slow. Yang parahnya lagi, angkot merah ini harus muter dulu ke jalan kampung untuk jemput penumpang. Padahal kan seharusnya penumpangnya yang nunggu di pinggir jalan *elus dada*. Akhirnya setelah setengah jam lebih kami sampai di depan gerbang Situ Gunung dan penumpang yang sampai ke sini cuma kami berdua! *bayar 10 ribu ke sopir angkot* Cring!

Kami diturunkan tepat di depan loket masuk, tanpa ba-bi-bu kami diminta membayar 6 ribu untuk dua orang. Oke. Cring! *lagi* Setelah membayar kami langsung ngibrit tanpa tanya ini itu, padahal ga tau jalannya ke Situ Gunung ke arah mana. Pokoknya setelah gerbang itu cuma ada dua jalan, lurus atau ke kiri, karena sebelah kanannya lahan parkir. Awalnya kami lurus trus liat jalan ke depan kok langsung kayak masuk hutan gitu. Bearti belok kiri aja. Duh ini jalan-jalan apa blusukan ya? *gandeng Pak Jokowi*

Dari pintu gerbang udara dingin pegunungan sudah mulai terasa, soalnya area Situ Gunung ini terletak di kaki Gunung Gede-Pangrango. Kami berjalan di jalan menanjak yang penuh kerikil di mana-mana, entah berapa jauh harus berjalan kami ga tau. Pokoknya jalan santai aja, eh ga berapa jauh kami melihat plang Tanakita Rakata, yang katanya perkemahan bintang lima itu. Kami berjalan lagi. Enggak seru ah kalau camping di tempat mewah kayak gitu. 🙂

Jalanan semakin menanjak dan kerikil di jalan mulai terlihat basah, entah karena bekas hujan atau karena embun yang turun dari gunung. Tiba-tiba gerimis turun dan jalan masih jauh, tidak ada tempat berteduh. Untungnya istri bawa payung, tapi tetep saja karena payungnya kecil, ga muat buat berdua. Saya akhirnya cuma pakai plastik kresek untuk tutup kepala dan tas saya masukin ke dalam jaket. Cuma gerimis sih, ga sampai basah kuyup, tapi gerimisnya terus-terusan.

Akhirnya ada tempat berteduh, kayaknya sih sebuah pos penjagaan gitu karena jalannya dikasih portal. Di deket situ ada dua jalan, yang satu mendaki dan yang satu menurun. Di pos itu ada tukang ojek, katanya kalau turun ke Situ Gunung dan kalau naik ke Curug Sawer. Ah sudah ga mikir Curug Sawer, kami langsung ke Situ Gunung aja. Katanya sih ga jauh lagi. Bener aja, begitu jalan menurun Situ Gunung sudah terlihat. Yay! Pengen langsung nyebur aja dari situ.

Setelah menuruni satu kelokan lagi, kami sudah sampai di Situ Gunung. Mungkin karena hujan gerimis, Situ Gunung saat itu sepi. Hanya terlihat beberapa orang berteduh di tepian danau dan beberapa tukang ojek yang mangkal. Seorang tukang ojek memberitahu kami kalau mau ke penginapan lurus saja. Jadi kami tidak langsung ke danau, mending cari penginapan dulu karena capek abis jalan kaki jauh banget. Hujan pula, kepala sedikit keliyengan dibikinnya.

Begitu sampai penginapan suasana sepi sekali. Posisi penginapan memang “mojok” banget, di depannya ada danau Situ Gunung dan di kanan-kiri-belakangnya langsung hutan. Tidak kelihatan ada orang menginap dan parahnya lagi batang hidung pengelola penginapan ini tidak kelihatan juga. Kami sudah cari muter-muter kok ga ada orang. Masak harus teriak-teriak. Entar yang ada malah suara lolongan dari dalam hutan yang nyaut. Duh kok jadi serem gini sih.

Ternyata pengelola penginapan lagi istirahat di kamarnya yang terletak paling belakang, tepatnya di belakang gedung serbaguna. Kami lalu diantarkan untuk melihat kamar yang akan kami sewa, ada dua jenis kamar. Yang satu harganya 400 ribu, satunya lagi 600 ribu. Fasilitasnya sih ga jauh beda. Lumayan mahal juga sih, tapi kami ga punya pilihan. Di luar masih hujan dan hari sudah mau malam, jadi kami mau ga mau harus nginap. Lagian istri saya sudah menggigil kedinginan.

Kamar yang kami bayar seharga 400 ribu itu lumayan gede, ada dua kasur busa, dua sleeping bag, kamar mandi di dalam, dan dispenser. Sebelum masnya pergi, kami minta air galon karena sudah mau habis dan minta dibelikan makan malam. Sampai di kamar saya malah seger, bukan kenapa-kenapa, dinginnya udara di Situ Gunung ini jadi ngingetin waktu dulu sering naik gunung. Kalau istri sih malah menggigil kedinginan, menggigil dan langsung pakai dua sleeping bag sekaligus. Kasihan..

Nekad Traveler Situ Gunung  (1)

Saya kemudian jalan sendiri ke danau Situ Gunung, sementara istri masih menyesuaikan diri dengan dinginnya suhu lembah ini. Ketika saya keluar, gerimisnya sudah selesai dan terlihat sudah mulai banyak orang yang bercengkerama di pinggir danau. Ada juga perahu gethek yang mengantarkan pengunjung muter-muter di danau. Saya nongkrong di gazebo pinggir danau sambil nyeruput kopi. Di situ ada warung kecil yang menjajakan gorengan, kopi, mie rebus, dan makanan kecil lainnya.

Duduk di gazebo itu enak karena pemandangannya luar biasa. Danau Situ Gunung di depan mata sementara puncak Gunung Pangrango muncul di balik rimbunnya hutan di belakang penginapan. Suasana damai banget, ada orang sedang menjaring ikan, ada yang mancing, dan ada yang jualan souvenir. Pas perahu gethek merapat, saya baru tahu ternyata rombongan yang naik gethek itu dari Malaysia! Deg! Di saat orang Indonesia sibuk jalan-jalan ke luar negeri ternyata ada orang Malaysia blusukan ke Situ Gunung. Joss!

Nekad Traveler Situ Gunung

Ketika mereka pulang saya baru tahu ternyata tukang-tukang ojek yang mangkal di deket danau itu disewa antar-jemput dari gerbang ke Situ Gunung. Menjelang maghrib, semua sudah pada pulang kecuali si pemilik warung. Saya ngobrol sebentar, katanya kalau malam biasanya ada yang camping di pinggir danau ini. Sempat ingin camping di tepi danau, tapi di penginapan saja istri saya sudah menggigil. Ah sudahlah. Pemilik warung juga ngasih tau kalau mau ke penginapan ga usah ke jalan gede, menyusuri pinggir danau saja biar cepet.

Ternyata benar, lewat pinggir danau lebih cepet, langsung nyampai di depan penginapan. Tapi, ya itu, di beberapa lokasi harus lompat-lompat karena jalan semak belukarnya banyak yang kerendem air. Sampai di penginapan suasana makin sepi karena kayaknya cuma kami berdua yang nginep di sini dan pengelolanya entah ke mana. Istri yang masih kedinginan lalu bikin kopi dan mie rebus. Sementara saya malah mandi di suhu udara yang super dingin itu, rasa dinginnya menusuk tulang tapi badan langsung seger.

Di penginapan tidak ada TV, jadi suasananya sepi banget. Saya dan istri ngobrol tentang perjalanan seharian tadi. Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, mas pengelola penginapan datang membawakan santapan makan malam kami. Setelah itu kami ditinggalkan dan rasanya danau Situ Gunung ini cuma milik kita berdua. Tapi itu tak berlangsung lama karena sekitar pukul 10 malam, penginapan sebelah kedatangan tamu. Ramai banget, kayaknya satu rombongan. Akhirnya kami punya teman.

Malam itu tidur kami sangat lelap karena udara yang dingin memang enaknya dibawa tidur. Sesekali suasana sunyi diselingi suara hewan-hewan dari hutan di belakang penginapan. Setelah subuh, saya mengajak istri keluar jalan-jalan di pinggiran danau tapi ternyata dia masih kedinginan. Suhu udara pagi itu memang dingin sekali, mungkin di bawah 10 derajat Celcius. Saya keluar sendiri dan di luar masih gelap, untungnya lampu di jalan dekat penginapan masih hidup.

 Nekad Traveler Situ Gunung

Tak berani saya lewat pinggir danau lagi, kalau gelap gini bisa masuk ke danau. Sampai di danau sudah agak terang, langitnya juga terang beda sama kemarin yang penuh dengan mendung. Pagi ini tidak ada mendung, digantikan kabut yang turun. Puncak Gunung Gede-Pangrango terlihat jelas pagi ini. Refleksinya bisa dilihat jelas di dasar danau Situ Gunung. Sungguh pemandangan yang sempurna, dilengkapi dengan bulir-bulir embun yang ada di rerumputan. Indahnya..

Nekad Traveler Situ Gunung

Di deket gazebo ada satu tenda dome yang digunakan beberapa orang yang camping. Ada bekas api unggun kecil di dekatnya. Saya menyisir pinggiran danau yang lain, dari kejauhan terlihat ada sebuah tenda plastik di pinggiran danau. Saya dekati dan ternyata itu adalah tenda yang digunakan para pemancing yang memancing ikan semalaman. Dengan tenda seadanya itu, pemancing ini bertahan semalaman di tepian danau. Tak terbayangkan betapa dinginnya. Saya lihat hasil pancingannya tidak seberapa tapi ikannya besar-besar.

Nekad Traveler Situ Gunung

Geser dikit dari pemancing itu, saya menemukan pintu air yang mengalirkan air dari danau ini ke sebuah aliran sungai yang mengalirnya entah ke mana. Suara airnya lumayan kenceng tapi dari situ tidak terlihat arah sungainya, sepertinya melewati jurang-jurang gitu. Dari pintu air itu terlihat di seberang danau ada beberapa orang yang sepertinya sedang membakar ikan hasil tangkapan mereka. Ingin ke sana tapi tak tahu lewat mana jalannya. Saya balik ke pemancing tadi, katanya dari pintu air naik saja tapi jalannya kecil banget.

Karena penasaran akhirnya saya nekat saja. Enggak mungkin tersesat, pokoknya lewat pinggir danau pasti ketemu. Awalnya jalannya lumayan bagus, tapi lama kelamaan kok semakin sulit karena banyak dahan melintang, tajem-tajem lagi. Kayaknya orang-orang tadi ga lewat sini deh. Perkiraan saya benar, ternyata jalan setapak yang saya lalui makin lama makin jauh dari pinggir danau. Suara dari obrolan dari para pemancing juga sudah mulai tidak terdengar. Saat itu saya baru sadar saya tersesat.

Nekad Traveler Situ Gunung

Oke, tenang dulu. Ikuti jalan tadi dan pulang. Karena deg-degan, jalan pulang ini menyiksa, apalagi saya baru sadar ternyata saya hanya pakai sandal jepit, celana jeans, dan jaket. Takut kalau kamera ketancep ranting-ranting yang tajam, akhirnya kamera saya kalungin dan masukkan ke dalam jaket. Beberapa kali saya terpeleset pas jalan menurun. Belum lagi banyaknya nyamuk, nyamuk hutan ini gigitannya mantap. Akhirnya danau sudah mulai terlihat, ah senangnya. Di dekat gazebo juga sudah mulai ada banyak orang. Saya duduk sebentar di sana untuk memesan kopi.

Nekad Traveler Situ Gunung

Tak lupa saya beliin istri karena kalau tidak ada kopi dia susah bangun. Waktu itu sudah hampir pukul 7 pagi, saya mau mandi karena badan gatal semua setelah tersesat tadi. Eh pas lagi santai di gazebo depan penginapan saya baru sadar ternyata di kaki kanan saya sudah ada satu lintah yang sedang sarapan darah. Itu yang saya kira gigitan nyamuk tadi. Huaaaa! Karena saya tidak merokok, akhirnya istri minta rokok sama “tetangga sebelah” untuk nglepasin lintah. Langsung lemes..

Nekad Traveler Situ Gunung

Sayanya lemes, istri semangat pengen jalan-jalan. Maklum semaleman baterainya sudah di-charge. Hhehee. Dari hasil tanya-tanya ke beberapa orang, di deket Situ Gunung ini ada dua air terjun yaitu Curug Sawer dan Curug Cimanaracun. Curug Sawer lewatnya dari mushola naik ke atas, kalau Curug Cimanaracun lewatnya belakang penginapan, begitu patokan singkatnya. Istri pengennya ke Curug Sawer meskipun katanya jalannya lebih jauh dan mendaki. Istri sih berani aja, tapi ya tetep hati-hati karena sedang hamil muda.

Nekad Traveler Situ Gunung

Kami berangkatnya dari pinggir danau trus ke gazebo di pinggir danau dulu karena istri kan belum ke sana kemarin. Saya yang sudah bolak-balik (padahal baru dua kali) ya oke-oke aja. Saat itu sudah banyak orang main di pinggiran danau, kayaknya sih dari rombongan Rakata Tanakita. Kami lewat doang karena perjalanan ke Curug Sawer lumayan jauh jadi musti buru-buru. Dari mushola kami langsung belok ke atas, jalannya lumayan besar. Tapi di beberapa tempat ada pohon yang tumbang dan ngalangin jalan.

Nekad Traveler Situ Gunung

Nekad Traveler Situ Gunung

Nekad Traveler Situ Gunung

Kami jalan santai saja karena takut istri kecapekan trus saya harus nggendong sampai Curug Sawer. Hehehe. Jadi ya bentar-bentar istirahat. Misalnya saat ada batang kayu mati di tengah jalan, ya udah dijadiin tempat duduk aja. Ini belum seberapa lho karena belokan pertama saja belum sampai. Tapi di tengah perjalanan noleh ke kiri ternyata ada pemandangan unik karena danau Situ Gunung terlihat dari atas. Naik-naik ke puncak gunung lagi, akhirnya sampai juga di kelokan pertama. Ga perlu bingung, sudah ada petunjuknya. Air Terjun belok kanan.

Nekad Traveler Situ Gunung

Nekad Traveler Situ Gunung

Nekad Traveler Situ Gunung

Tak jauh dari belokan itu, kami menemukan sebuah perempatan. Sialnya di situ tidak ada petunjuk sama sekali. Kami istirahat sebentar siapa tahu ada orang lewat yang bisa kami tanyai, tapi penantian kami beberapa menit tidak ada jawaban. Oke, mari berpetualang. Karena setelah ada tanjakan pasti ada turunan, rumus macam apa ini. Lalu kami belok kiri ke jalan menurun, turunannya lumayan ekstrim jadi harus pegangan pohon atau ranting. Ada juga turunan dengan tanah liat yang cukup licin. Duh! *elus-elus dedek bayi di perut*

Nekad Traveler Situ Gunung

Nekad Traveler Situ Gunung

Setelah itu jalannya naik turun, makin berasa capeknya. Tapi tiba-tiba terdengar suara aliran air, ah sudah dekat berarti. Eh semakin dekat ke suara air ternyata baru ketahuan ternyata itu suara aliran sungai, bukan air terjun. Perjuangan masih jauh. Naik lagi, turun lagi. Akhirnya kami pas-pasan sama rombongan lain, ah tenangnya ternyata kami di jalan yang benar. Tapi ketika nanya “masih jauh, Mas”, tiba-tiba rasa lemas datang lagi. Ternyata baru 1/3 perjalanan.

Nekad Traveler Situ Gunung

Nekad Traveler Situ Gunung  (20)

Naik lagi, turun lagi, naik lagi, turun lagi, begitu terus. Begitu sampai di sebuah pos yang dikelilingi pohon-pohon yang tinggi, kami sedikit lega karena perjalanan hampir selesai. Akhirnya kami sampai di depan pintu gerbang Balai Taman Gunung Gede Pangrango “Curug Sawer” kami lega. Akhirnya sampai juga perjalanan naik turun gunung ini. Untung istri semaleman tidur jadi sekarang tenaganya full, tapi ya musti pelan-pelan. Begitu melihat air terjun, semua rasa lelah tiba-tiba hilang.

Nekad Traveler Situ Gunung

Nekad Traveler Situ Gunung

Kami datang di saat yang tepat karena debit air terjun ketika itu cukup besar. Katanya genangan air di bawah air terjun cukup dalam, padahal ya pengen cebur-ceburan. Akhirnya kami cari jarak aman aja, di belakang bebatuan besar itu. Tapi ya tetep aja keguyur air karena kadang angin membawa air terjun muncrat ke mana-mana. Saatnya foto narsis deh. Padahal dari tadi juga sudah narsis. 🙂

Nekad Traveler Situ Gunung

Nekad Traveler Situ Gunung  (28)

Nekad Traveler Situ Gunung  (29)

Karena ga bisa main tepat di bawah air terjun, banyak orang main air di aliran sungai yang airnya juga cukup deras. Banyak yang mandi di situ. Kami cuma main air saja, tidak sampai cebur-ceburan. Kami juga main di deket jembatan bambu. Setelah itu perut mulai kelaperan, kami pun lalu memesan nasi goreng di warung deket pintu gerbang Curug Sawer. Pas lagi makan, kami lihat ternyata di dekat situ juga ada lapangan buat camping. Dan ternyata ada pangkalan ojek juga, ojek ini antar-jemput dari Curug Sawer sampai gerbang utama Situ Gunung. Masak jalan-jalan naik ojek, ga seru ih. Kalah sama istri saya yang lagi hamil muda. Naik gunung masih kuat.

Nekad Traveler Situ Gunung

Nekad Traveler Situ Gunung  (31)

Nekad Traveler Situ Gunung  (32)

Perjalanan pulang terasa lebih santai karena tidak bingung nyari jalan. Sudah hafal di luar kepala. Halah! 😀 Eh tiba-tiba di tengah perjalanan pulang, istri menerima pesan singkat dari si bos untuk ngirim dokumen via email. Ah ini libur-libur juga ada kerjaan. Awalnya bingung karena ragu dengan sinyalnya, eh ternyata ga masalah. Sinyal Telkomsel lancar jaya di daerah pegunungan gini. Kirim dokumen lancar dan liburan kami tidak terganggu.

Nekad Traveler Situ Gunung

Akhirnya setelah perjalanan pulang yang cukup panjang itu, kami sampai di penginapan kami. Ya meskipun ada tragedi satu lagi, kaki istri saya kecemplung air waktu lewat di pinggir danau. Ah tak apalah, apalagi setelah bisa selonjoran sambil melihat pemandangan nan indah di Situ Gunung seperti ini.

Nekad Traveler Situ Gunung

Kalu dipikir-pikir nekat juga ya saya, bawa istri hamil muda naik turun gunung gini. Sudah hampir sama nekatnya dengan duo NekadTraveler itu belum?

8203 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply