Jalan Jalan Ke Kota Kinabalu, Menjemput Senja Nan Romantis

Kota kecil di Kalimantan Utara ini tak cuma punya Gunung Kinabalu. Mau wisata sejarah atau ke pulau juga bisa. Ingin romantis? Sunset dengan secangkir kopi atau teh.

Pramusaji meletakkan hidangan “old fashion” itu di atas meja marmer depan saya. Sepiring nasi pulen dengan lauk potongan-potongan daging sapi serta kentang, disiram kuah kecoklatan. Ditambah sejumput rajangan daun kol kukus bumbu acar. Nama menu ini, “Beef Stewed Rice”.

Citarasanya, hmm, sedap! Paduan empuknya daging dalam gelimang kuah mirip semur perlahan melenyapkan rasa lapar setelah seharian keliling Kota Kinabalu atau biasa disebut “KK”. Sekaligus mengingatkan saya pada masakan Eyang Putri. Satu hidangan yang disebut beliau “Masakan jaman perang kesukaan Eyang Kakungmu”.

Warung Kopi Bersejarah

Kalau dipikir-pikir ada benang merah, antara Beef Stewed Rice made in rumah dengan hidangan andalan kedai “Borneo 1945 Museum Kopitiam” tempat saya menikmati makan siang itu. Kafe ini terletak di kawasan yang kondang disebut Australia Place. Tempat tentara Australia membuka perkemahan untuk bertempur saat Perang Dunia II.

Salah satu resep masakan para tentara yang disesuaikan dengan kondisi logistik dan bahan pokok lokal (beras) adalah si Brief Stewed Rice tadi. Yang akhirnya turut populer di kalangan masyarakat lokal sampai regional.

museum kopitiam kinabalu Jalan Jalan Ke Kota Kinabalu, Menjemput Senja Nan Romantis

Menu itu pula yang menjadi hidangan jenis nostalgia Museum Kopitiam. Lainnya adalah hidangan wajib kedai kopi khas Malaysia juga Singapura. Yaitu kopi, milo, roti bakar tipis dioles mentega dan selai srikala (cukup disebut “Kaya” di sana) serta telur rebus setengah matang. Buat kopinya sendiri, ada jenis istimewa dari Kinabalu yang disebut kopi putih.

Museum kopitiam di Kinabalu ini dulunya sebuah gedung percetakan bernama Chung Nam Printing, didirikan Datuk Lo Kwok Chuen pada 1945. Ia seorang tokoh masyarakat Kinabalu, jurnalis sekaligus mantan anggota sukarelawan Borneo Utara selama Perang Dunia II dengan sederet bintang jasa. Sayangnya, usaha percetakan itu terhenti paruh 1980-an.

Lalu datang desainer interior dan enterpreneur lokal yang mengubahnya jadi Museum Kopitiam. Lantai satu dijadikan kedai  kopi bertema pasca perang dengan memorabilia Perang Dunia II di kawasan Borneo, dilengkapi dua plakat kedutaan Australia dan Sabah Tourism Board yang dianugerahkan tahun 1995.

Sementara lantai dua dan tiga dijadikan penginapan kelas backpacker bernama Borneo Backpackers di mana saya menginap selama di Kinabalu. Buat dormitory berpendingin aircon (AC) semalamnya MYR25 (sekitar Rp. 74.200).

Menyeberang Pulau

ikan cucut kinabalu Jalan Jalan Ke Kota Kinabalu, Menjemput Senja Nan Romantis

Kinabalu sebuah kota kecil compact. Dalam artian nyaman dieksploitasi jalan kaki. Dari Museum Kopitiam, cukup jalan ke Bundaran Tun Fuad Stephen untuk melihat patung ikan cucut (swordfish) yang menjadi lambang Kinabalu sebagai ibukota  Provinsi Sabah, Borneo Utara.

Di sepanjang jalan mengarah ke bundaran, bertebaran kafe tempat wisatawan memanjakan diri menanti senja sembari menikmati teh atau kopi. Kalau ingin lebih dekat laut saat matahari terbenam di ufuk barat, cari saja tempat di sekitar jetty serta pelabuhan nelayan di mana kapal-kapal sandar setelah melaut. Atau sekalian ke Pantai Tanjung Aru.

Suasana kehangatan khas pasar malam bisa dijumpai di belakang Filipino Market. Selain menjadi wadah komunitas kaum Pinoy atau orang Filipina di perantauan –umumnya bermigrasi dari Filipina Selatan- mereka juga menjajakan aneka souvenir, barang kebutuhan sehari-hari sampai hidangan berbagai seafood untuk para wisatawan.

Ikan bakar merupakan salah satu menu favorit di sini. Nasi pulen serta sambal campuran tomat-bawang merah-cabe rajang merupakan paduan mantapnya. Atau rindu pada sambal seperti di tanah air? Tersedia pula sambal cacahan mangga.

Alternatif lainnya santap malam adalah aneka sajian kepiting dan udang. Buat pilihan ini, saya menyeberang ke Pulau Gaya pakai ferry di dermaga dekat Sutera Harbour Resort. Pulaunya sendiri, merupakan bagian dari lima pulau dalam kelompok Tunku Abdul Razak Marine Park alias Taman laut nasional Tunku Abdul razzak. Nama keempat pulau lain: Manukan, Mamutik, Sapi, dan Sulug.

Selain menikmati kepiting lada hitam gaya Singapura, kepiting goreng mentega, udang mabuk (udang dimatangkan dengan arak beras) serta tumis pakis, Pulau Gaya juga menyajikan pemandangan shallow water dengan biota laut hilir mudik di balik anemon.

Kalau ingin puas melihat kekayaan laut itu, sebaiknya mengambil day trip atau bermalam di pulau. Saat menginap di floating bungalow di Pulau Gaya, lamat-lamat saya terkenang pada mini archipelago Karimunjawa, jauh di lepas pantai Jepara dan Semarang, Indonesia. Bahkan soal biota, Karimunjawa tidak kalah kaya. Namun mesti diakui, fasilitasnya juga lebih minim. Karena  jarak tempuh Kinabalu ke Tunku Abdul Razak Marine Park kurang dari 1 jam, maka dalam sehari ada lima kali jadwal ferry. Begitu pula untuk mencapai keempat pulau lainnya.

Saat melihat jernihnya air laut di Gayana Resort, Pulau Gaya saya tak bisa berlama-lama duduk di jembatan kayu. Langsung masuk air berbekal peralatan snorkeling.

Tambahan Wisata Kinabalu

Dari Jakarta, Kota Kinabalu atau Jesselton (nama lama pemberian Inggris yang dipakai sampai 30 September 1968) bisa ditempuh via Kuala Lumpur pakai pesawat Low Cost Carrier. Jangan takut jadi bosan meski kotanya tergolong kecil, karena Kinabalu menjadi entry point bagi sederet tujuan wisata di kota dan kawasan lain. Misalnya Sandakan, Miri, Kudat, Muara Belud serta Danum Valley. Disebut terakhir adalah taman nasional hutan hujan tropis.

Kalau tak ingin menempuh perjalanan berkendara terlalu jauh tapi menguras energy dan adrenalin, bisa mendaki Gunung Kinabalu. Atau berarung jeram di Kiulu River (tour operator yang saya pilih saat itu Riverbug). Suasananya sangat berbeda dibanding Sungai Citarik, favorit saya di tanah air. Jeram curamnya tergolong sangat minim, dengan lebar sungai berkali lipat lebih besar dibandingkan Sungai Citarik. Pilihan Arung jeram lainnya di sungai Padas, yang start di Beaufort, 90 Km dari Kinabalu. Bonusnya, wisata kereta api. (Sumber: Cita Cinta, gambar dari Joey)

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *