Kairo Mesir Kota Seribu Menara Dan Sejuta Parabola

Berjuta cerita bersejarah menggambarkan Mesir Kuno pada masa lalu. Budayanya yang memesona, sebagai pusat pengembangan Islam yang moderat. Dari pluralisme, modernisasi Terusan Suez, hingga gegap gempita hiburan Sungai Nil sepanjang malam. Kairo kota yang kaya sejarah peradaban dunia.

Berkunjung ke Kairo Mesir, menurut beberapa orang serasa mengelilingi dunia. Ternyata anggapan tersebut terbukti bagi siapapun yang telah menginjakkan kakinya di kota ini setelah mengeksplorasi situs-situs bersejarah. Bahkan walaupun Anda hanya berkunjung dalam waktu singkat selama 4 sampai 10 hari. Mengapa 4 hari saja cukup? Karena bagi Anda yang berkunjung karena tugas pekerjaan, waktu singkat dapat digunakan hingga larut malam untuk menyaksikan atraksi unik dan mendatangi museum peninggalan Mesir Kuno cukup di dalam Kota Kairo. Namun, wisatawan yang memiliki waktu panjang dapat berkunjung ke Alexandria, Ismailia, hingga menelusuri Sungai Nil sampai Luxor.

Pemandangan gurun pasir sebagai ciri khas Benua Afrika terhampar luas di sepanjang jalan menuju Kairo dari utara. Walaupun berbeda pemandangannya ketika melewati Laut Merah yang memantulkan warna biru yang dikelilingi tebing-tebing curam kecokelatan. Kesibukan kapal laut lalu lalang di Laut Merah yang membelah Benua Asia dan Benua Afrika menandakan beberapa menit lagi pesawat akan mendarat Cairo International Airport. Bandaranya tepat di pusat Kota Kairo. Bandara Kairo Internasional yang terdiri atas 3 terminal ini tampak megah, khususnya di terminal 3 yang masih baru. Desain konstruksi bangunannya perpaduan antara Eropa dan Mesir sebagai simbol dominan yang menggambarkan kejayaan raja-raja  Mesir.

Memahami budaya orang Mesir, dapat diketahui sejak berurusan dengan pihak imigrasi, menggunakan jasa taksi dan suasana di jalan raya. Watak warga Kairo adalah keras dan tidak disiplin. Saling zigzag, suara klakson mobil dan omelan di antara pengendara adalah pemandangan biasa sepanjang hari. Namun, tanpa ada perkelahian karena warga Kairo meyakini pihak yang memukul orang lain adalah kejahatan berat.

Lain warung lain menunya, lain kota lain pula aturannya. Mesir adalah salah satu negara yang memiliki gaya kepemimpinan otoriter dengan kekuasaan berlangsung puluhan tahun dengan rezim yang sama. Hal ini praktis mewarnai roda kehidupan masyarakatnya sehari-hari, yaitu aman, tenang, dan tanpa gejolak berarti. Aman di sini berarti tanpa copet terhadap turis, pencurian barang, termasuk tukang palak atau pengemis di jalanan.

Kairo dikenal memiliki sejarah perkembangan kejayaan kerajaan Islam sejak ratusan tahun silam. Istilah Kota Seribu Menara pun pantas disandangnya karena berbagai corak menara yang terhampar di setiap mata memandang menjadi ciri khas Kairo. Adapun menara yang tertinggi adalah Kairo Tower, sedangkan yang terendah adalah simbol kuburan dari Islam, Kristen, dan Yahudi. Istilah Kota Seribu Menara pada hakekatnya melambangkan jumlah menara masjid bersejarah yang didirikan sejak jaman kebesaran khalifah yang memimpin ketika itu.

Hal ini dapat diketahui melalui desain menaranya, yang beraneka ragam sebagai pertanda siapakah yang memerintah dan mendirikan masjid tersebut. Pemerintah Mesir menjunjung tinggi pluralisme bagi warga negaranya dalam meyakini kepercayaannya. Sebab itu letak masjid dan gereja yang berdampingan menjadi sorotan menarik untuk melukiskan toleransi beragama yang kuat bagi masyarakat Mesir.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama memutuskan datang ke Kairo sebagai kota pertama kali yang dikunjunginya dalam lawatan hubungan internasional. Hal ini sebagai wujud kepedulian dan menarik simpati  pada dunia Islam. Namun mengapa Kairo yang dipilih? Tentu berdasarkan perhitungan yang sangat matang. Mungkin salah satu alasannya karena Mesir memiliki kekuatan berpengaruh di antara negara-negara Arab, sebagai negara sekuler yang masyarakatnya menganut Islam yang moderat.

Apabila ribuan menara di Kairo merujuk pada peradaban Mesir Kuno dan kejayaan kerajaan Islam pada masa lampau, zaman sekarang simbol Kota Kairo juga dikenal dengan Kota Sejuta Parabola. Hal itu karena perubahan sosial masyarakat Kairo yang diukur dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Rumah warga Kairo seluruhnya menempati apartemen yang dibangun oleh pemerintah atau pihak swasta. Setiap apartemen bisa dihuni puluhan hingga ratusan keluarga. Tren sekarang, bagian atas setiap apartemen di Kairo dipenuhi antena parabola untuk menerima gambar dari satelit. Hal ini menunjukkan gairah warga yang ingin mendapatkan variasi informasi dan hiburan dari mancanegara.

Selain karena kemajuan teknologi informasi danm media yang pesat, parabola diminati warga Kairo karena mereka merasa program siaran televisi dalam negeri membosankan dan monoton. Sebab itulah kecanggihan teknologi dan keingintahuan warga untuk meningkatkan wawasan menjadi penyulut tumbuhnya parabola yang jumlahnya konon telah jutaan di Kota Kairo.

Adapun geliat ekonomi dan hiburan di Kota Kairo meningkat justru pada malam hari. Sejak matahari terbenam, semarak warga untuk keluar rumah menuju berbagai aktivitas, seperti pesat rakyat, festival, dan atraksi budaya tradisional khas Mesir akan disajikan pada malam hari hingga larut malam menjelang subuh. Sida peninggalan kolonial Perancis sangat kentara di Kota Kairo, khususnya di daerah downtown. Lokasinya berada di pusat kota dengan blok-blok bangunan yang rapi dipisahkan dengan persimpangan jalan yang simetris. Setiap persimpangan jalan tersebut dihiasi pula dengan pemandangan patung pahlawan Mesir yang diletakkan di posisi tengah perimpangan jalan. Hal itu sebagai penghormatan sekaligus memperindah kota.

Gedung-gedung berjejer hampir sama tingginya di sepanjang jalan downtown dengan gaya arsitektur Perancis. Pintu dan jendela gedung yang tinggi-tinggi dihiasi ukiran-ukiran romantis arsitektur Eropa. Atau lebih jelasnya, suasana downtown mirip lanskap kota Paris. Karena yang mendesain Kota Downtown menurut beberapa pemilik toko, memang para ahli arsitektur yang khusus didatangkan pihak kolonial ketika itu. Downtown sejak pagi hari telah ramai dikunjungi karena lokasinya berada di pusat kota, berdekatan dengan pusat pemerintahan, beberapa gedung bersejarah, dan Museum Firaun. (Sumber MI)

11626 Total Views 18 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply