Khayangan Api, Sensasi Baru Dalam Berwisata

Selain Sumber Api Abadi Mrapen, ada satu lagi objek wisata yang mungkin masih asing di telinga Anda.

Namanya Kayangan Api, sebuah objek wisata yang terletak di kawasan hutan di desa Sendangharjo, kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur. Lokasi ini bisa dengan mudah Anda jangkau mengingat jaraknya hanya kurang lebih 20 kilometer dari kota Bojonegoro. Desa Sendangharjo sendiri memiliki hampir separuh darinya berupa hutan, dan objek wisata Kayangan Api ini terletak di tengah-tengah kawasan hutan jati.

Sebenarnya sebagian besar objek wisata ini memang sangat identik dengan api abadi Mrapen yang berada di Grobogan. Misalnya apa keunikan dan keanehannya, fungsi, hingga sebuah mata air di sebelahnya. Nah, berikut saya jelaskan rinciannya.

Keunikan dan Keanehan

Sama halnya dengan Api Abadi Mrapen, Kayangan Api juga memiliki keunikan tersendiri dibanding tempat wisata lainnya karena terdapat api yang terus menyala dari dalam tanah. Hanya saja api disini tak pernah padam sekalipun. Berbeda dengan api abadi mrapen yang bisa mati saat hujan deras yang disertai badai. Setidaknya itulah menurut masyarakat setempat sekilas mengenai Kayangan Api.

Fungsi dan Peranan

Sekali lagi ada juga persamaan antara api abadi Mrapen dengan objek wisata yang satu ini. Salah satunya adalah dalam hal fungsi dan peranan. Api abadi yang berasal dari Kayangan Api digunakan pada saat melakukan upacara-upacara sakral dan pada saat event-event tertentu. Misal saja saat upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku Buwono X, dan sebagai obor dalam pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Bedanya, Kayangan Api dianggap sangat keramat dan masih terjaga sekali kealamiannya. Api hanya boleh diambil pada saat-saat tertentu saja. Di sana Anda juga akan mendapati juru kunci yang menjaga objek wisata satu ini,

Keunikan Mata Air

Jika pada waktu lalu di desa Sanggar Mas terdapat objek wisata api abadi Mrapen dan mata air yang dikenal dengan nama “Sendang Dudo” itu, di objek wisata ini, Anda akan mendapati mata air yang juga sama-sama berupa air mendidih namun tidak panas sedikitpun. Mata air ini dikenal dengan sebutan Air Blekuthuk.

Bedanya terletak pada tekstur dan bau yang ditimbulkannya. Anda akan mencium bau belerang disana, dan kata si juru kunci, mata air ini berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Caranya mudah saja, Anda hanya perlu berendam sebentar disana dan rasakan bedanya. Penduduk setempat telah mempercayai akan hal itu sudah sejak lama, dan kata mereka sudah terbukti khasiatnya bagi para pengunjung. Mereka bahkan mengatakan bahwa air ini juga bisa membawa berkah bagi siapa saja yang datang kesana.

Status Kepemilikan

Untuk hal yang satu ini objek wisata Kayangan Api memang sudah jelas berbeda dengan Sumber Api abadi Mrapen. Sumber api abadi Mrapen adalah milik masyarakat setempat, yang dikabarkan pada waktu lalu dalam waktu dekat akan dibeli oleh Pemprov Jateng seharga 2 Miliar.

Sementara Kayangan Api sendiri sepenuhnya adalah milik Pemerintah Kabupaten bojonegoro, sehingga sampai saat ini pemerintah terus berusaha melakukan renovasi mulai dari gapura, hingga warung-warung yang ada di sana.

Menurut cerita, Kayangan Api ini adalah tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa, sang empu keris dan pembuat semua jenis peralatan perang kerajaan Majapahit. Air blekuthuk di sebelahnya pun sebenarnya adalah air yang digunakan oleh Empu Supa mencuci dan merendam keris yang telah dibuatnya.

Oh iya, sekarang Kayangan Api ternyata bukan hanya milik masyarakat lokal saja, melainkan milik Indonesia Nusantara mengingat Kayangan Api merupakan sumber api terbesar di Asia Tenggara. [MK]

5622 Total Views 8 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply