Kupang, Pintu Gerbang Tenggara

Kupang, kota yang lebih dekat ke Darwin daripada ke Jakarta adalah gerbang untuk mengunjungi pulau pulau kecil cantik di kawasan tenggara Indonesia. Tim Hannigan mengeksplorasi ibukota nusa tenggara timur kota tropis terpencil yang penuh warna.

Sebuah perahu nelayan meluncur pelan ke batas horison. Dari bukit gelap di seberang teluk, embusan lembut angin membasuh daratan, lalu menggoyang daun daun malas pohon lontar serta rambut pada pedagang kain ikat di sepanjang jalan. Matahari membakar segalanya, termasuk gedung gedung berdinding putih di pesisir, dan meninggalkan ekspresinya di atas laut sabu. Tempat ini sepertinya merupakan kawasan tropis terpencil yang sempurna, sebuah tempat di mana segalanya bergerak lambat.

Namun, tiba tiba suara menggelegar dan warna warna menusuk mata berkelebat mengusik ilusi kedamaian. Sumbernya bukan gempa atau meteor, melainkan bemo, transportasi umum warga lokal. Sosoknya meriah, jendela dan tubuhnya ditutupi cat bermotif ceria, sementara musik dengan setelan bas tinggi berhamburan dari speaker di bawah kursi penumpang. Sang kondektur, dengan senyum terkembang dan warna rambut mirip bemo, melongok di pintu lalu menyapa saya ”Anda mau ke mana?”

Selamat datang di Kupang. Kota di timur Indonesia di mana irama hidup berjalan lambat dan transportasi umum bergerak cepat. Lebih dekat ke Darwin, di Australia daripada ke Jakarta, ibukota propinsi NusaTenggara Timur ini adalah salah satu kota terpencil di Indonesia. Meski begitu, Kupang memiliki karakter yang khas dan warna yang sangat semarak.

Kupang adalah gerbang untuk mengunjungi gugusan pulau pulau kecil di tenggara Indonesia. Ia adalah kota pelabuhan tempat kapal kapal feri tua hilir mudik membelah lautan, sebuah kawasan di mana permukaan jalan sangat kasar dan tradisi leluhur masih dipegang teguh warganya.

Mayoritas pelancong umumnya menjadikan Kupang lokasi transit saat hendak menjelajahi surga surga di Nusa Tenggara Timur alam bawah laut perawan di Alor, pegunungan hijau di Flores, ombak ombak ganas di Rote, dan desa desa bersejarah di Sumba. Saran saya, sebelum memulai petualangan ke tempat-tempat indah tersebut sempatkanlah waktu untuk tinggal beberapa malam di Kupang, maka Anda akan menemukan bahwa kota ini memiliki kharisma yang tak kalah mengagumkan. Untuk memulai eksplorasi, naiklah bemo, angkutan penuh dekorasi yang melintas tiap sudut kota.

Sebagai hub perdagangan antar pulau, Kupang adalah kota yang multi etnis. Penduduknya yang mencapai 340 ribu jiwa berasal dari Timor, Roti, Sabu, dan kawasan sekitar lainnya. Menyambangi pasar tradisional yang membentang di jalan jalan kecil, Anda akan menjumpai orang orang yang berasal dari pulau pulau di lepas pantai, termasuk mereka yang selalu tersenyum dengan gigi memerah akibat sirih biji pinang. Mengunyah sirih, terbuat dari campuran biji pinang, daun sirih dan kapur, adalah hobi massal warga nusa tenggara. Jika ingin mencobanya, beli saja satu paket di kios di pinggir jalan, kunyah, lalu berkacalah untuk melihat seperti apa mulut drakula yang baru saja menyedot darah korban.

Saat berkelana di Kupang, selain penjaja sirih, Anda akan menjumpai banyak pedagang ikat. Kain buatan tangan ini adalah ikon Nusa Tenggara, dan hampir tiap pulau di kawasan ini memiliki keunikan dalam hal warna, corak dan motif. Pedagang ikat keliling umumnya menawarkan koleksi ikat dari banyak kawasan. Keluarkan kemampuan menawar anda untuk mendapatkan harga terbaik.

Di kota yang mayoritas warganya menganut Kristen ini, toko toko tutup saban Minggu. Tradisi nenek moyang dan agama memang dipegang kuat, namun Kupang tak sepenuhnya terbebas dari globalisasi. Adalah wajar jika kita melihat para biarawati yang berjalan melewati komunitas punk, atau bemo bemo yang berseliweran dengan kaca belakang berhiaskan poster Valentino Rossi atau Avril Lavigne.

Di jantung kota, tempat yang berada dalam jaringan bemo, saya menemukan kawasan pesisir yang menawan, persisnya di ujung barat jalan siliwangi. Barisan pohon kelapa memisahkan pantai dan daratan sementara di kejauhan, Pulau Semau gagah menghiasi cakrawala. Di masa lalu, pesisir ini merupakan lokasi berdirinya pelabuhan Kupang, tempat para pedagang asal Belanda dan Portugis berdatangan untuk memborong kayu cendana dan kuda kuda perkasa penghuni bukit. Di tempat ini pula, Kapten Bligh dari Inggris berlabuh usai menyelesaikan pengarungan samudera sejauh 7.000 kilometer menggunakan kapal HMS Bounty.

Bligh terdampar di Kupang selama 47 hari. Sayangnya, pada 1789 Pantai Laut Bar & Resto belum dibuka. Bar ini adalah salah satu dari dua tempat makan terbaik di pesisir kupang.

Menawarkan sunset dan angin laut, Pantai Laut Bar adalah lokasi ideal untuk melewatkan sore. Sementara pesaingnya yang berdiri di sudut pantai, Lavalon Bar, memiliki pusat informasi turis yang dikelola oleh Edwin Lerrick.

Jika anda bukan tipe yang gemar melewati waktu dengan duduk duduk santai, naiklah bemo ke sisi timur, lalu turunlah di jalan Garuda. Tiap malam, jalan ini menggelar pasar malam yang dipenuhi petromaks dan aroma semerbak seafood segar hasil tangkapan nelayan. Anda tinggal menunjuk ikan atau cumi cumi yang disukai, lalu para koki akan menyulapnya jadi sajian lezat.

pantai lasiana

Objek menarik lain yang layak dikunjungi adalah Pantai Lasiana. Ditumbuhi pohon kelapa, pantai terbaik di kupang ini menawarkan hamparan pasir, pemandangan magis pegunungan di seberang teluk dan koloni perahu bercadik milik nelayan yang terparkir di batas air pasang.

Di sisi belakang Lasiana, saya menemukan hutan lontar. Dijuluki pohon kehidupan di Nusa Tenggara, lontar adalah pohon yang memberikan banyak manfaat bagi warga, mulai dari buah, gula, daun sebagai bahan tenun, hingga getah manis sebagai bahan tuak. Penduduk setempat sangat mahir dalam memanjat batang batang jangkung lontar untuk kemudian mengekstrak sarinya, yang kadang juga disuling sebagai bahan pembuatan minuman keras populer bernama sopi.

Agak jauh dari Lasiana, tepatnya di Desa Oebelo, kita bisa menemukan produk lontar lainnya yang juga merupakan ikon Kupang. Berasal dari Pulau Rote, sasando adalah instrumen akustik yang dibuat dari daun lontar. Sasando terbaik di Oebelo dibuat oleh pria energik berusia 70an, Jermius Pah, yang juga sangat mahir dalam memainkannya. Jermius pernah mementaskan sasando di banyak tempat di indonesia, termasuk dihadapan para politikus dan selebriti. Jika tidak sedang pentas, ia menghabisan waktu di sanggarnya untuk mengolah daun daun kering lontar menjadi alat musik.

Alam liar Nusa Tenggara bisa ditemukan di sekitar Kupang. Tak perlu peta yang rumit untuk melakoni island hopping di kawasan ini. Tempat tempat terbaik berada dalam jarak yang sangat dekat, jadi Anda tak perlu khawatir jika hanya singgah sejenak di Kupang dan tak sempat melintasi Laut Sabu menuju Flores, Sumba atau Alor.

Meluncur dua jam ke arah timur Kupang dan menembus perbukitan Timor Barat, saya mendarat di kota Soe. Udara segar, atmosfer pagi yang menyejukkan serta pasar rakyat yang menjajakan ikan dan biji pinang bisa ditemukan di sini. Di tengah lembah dan sungai berair deras terdapat desa desa tradisional yang dihuni rumah beratap rumbia. Kaum wanitanya sibuk menenun kain berwarna terang menggunakan mesin kayu. Di kota mungil ini, di mana penganut Kristen melebur dengan pemuja agama leluhur, ikat adalah bagian dari pakaian sehari hari. Tanah di sini umumnya berbatu, sangat berbeda dari tanah subur di Bali dan Jawa. Berada di lahan kering yang jarang pohon ini, kita bisa menyadari betapa dekat kawasan ini secara karakter dengan Australia.

Kawasan terpencil dan liar lainnya terdapat di selatan Kupang. Di atas peta, Pulau Rote teronggok di ujung barat Pulau Timor layaknya kapal yang sedang berlabuh. Dermaga Baa di di pulau mungil ini bisa dijangkau menggunakan kapal cepat dari pelabuhan Bolok di Kupang. Melihat lokasinya, Rote sangat mudah dilupakan orang, tapi ternyata ada satu alasan mengapa ia terus disambangi turis. Ombak.

Di selatan pulau rote terdapat Pantai Nembrala, segaris pasir putih yang dilatari kebun kelapa, di mana gelombang gelombang ganas Laut Selatan menghajar kurang tajam. Peselancar dari penjuru bumi berdatangan untuk mengendarai ombaknya, sementara penggemar pantai berkerumun di pesisir guna menyantap seafood segar, lobster adalah menu utama di sini.

Saat angin musim panas membasuh Kupang, banyak warga beralih ke perbukitan di selatan kota untuk mendinginkan tubuh di kaki air terjun Oenesu. Dibalut belantara hijau, laguna di kaki air terjun adalah tempat yang ideal guna merontokkan peluh dan rasa lelah, sebelum kembali ke Kupang untuk menyaksikan sunset, melahap ikan segar di pasar malam, atau bersantai di Lavalon Bar sembari merenungkan petualangan selanjutnya di Nusa Tenggara.

6892 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply