Lima, Bagai Sebuah Mesin Waktu

Meski terletak jauh di benua Amerika, cara menawar barang belanjaannya mirip seperti di China, pakai kalkulator!

Memasuki Lima, Ibukota Peru, jangan bayangkan gedung bertingkat pencakar langit modern menyesaki kota. Bangunan di kota ini cenderung kuno, dan tertata apik. Pengaruh arsitektur Spanyol terasa sangat kental, termasuk pada tata kotanya. Meskipun penduduk Lima itu ramah dan sopan, agak sulit mengajak mereka ngobrol. Sebab jarang sekali ada yang mengerti bahasa Inggris. Kebanyakan berbahasa Spanyol. Namun itu tak menghalangi niat saya, Caosa Indriyani, untuk mengeksplorasi kota ini. Yang juga menyenangkan, persiapan berangakat ke Peru terbilang tidak repot. Karena kita hanya perlu membayar visa on arrival sebesar 12 dollar Amerika Serikat.

Titik Awal Pelesir

Plaza de Armas, alun-alun di kawasan Centro de Lima, adalah titik awal terbaik untuk memulai penjelajahan. Berdiri di samping air mancur perunggu di tengah-tengah alun-alun kota, saya tepat berada di jantung kota Lima. “Hati-hati barang bawaan Anda Senora,” Mario sopir saya mengingatkan. Ternyata tingkat kejahatan di sini tinggi.

Di sebelah utara alun-alun terlihat Istana Pemerintahan Peru yang dibangun pada tahun 1038. Istana itu dikenal dengan nama Casa de Pizarro. Tak dipungut bayaran untuk masuk ke dalam istana. Tapi, kita harus mendaftar dulu minimal dua hari sebelum datang.

Karena tak mengetahui informasi tersebut, terpaksa saya hanya menikmati keindahan istana dari luar. Namun, saya beruntung bisa menyaksikan pergantian pasukan penjaga istana. Acara ini hanya bisa dinikmati di hari kerja sekitar pukul 11.45.

Menoleh ke kanan, sebelah timur alun-alun didominasi Gereja Katedral yang beberapa kali diperbaiki, karena gempa bumi di abad 17 dan 18. Di Katedral inilah jasad Fransisco Pizarro disemayamkan. Bagian depan bangunan dihiasi sejumlah patung para rasul. Di tengahnya, agak menjorok ke dalam, terdapat patung Yesus. Pengerjaan arsitektur katedral ini sangat detail. Tiba-tiba saja saya merasa sangat ngeri mengingat bangunan penuh sejarah ini pernah rusak akibat gempa dahsyat yang beberapa kali mengguncang Lima.

Di dalam Katedral, saya terpukau dengan keindahan interiornya. Lukisan dan patung abad ke 17 dan 18 tertata anggun. Saya makin kagum dengan pagar pembatas tempat paduan suara dari ukiran kayu yang dikerjakan dengan sangat rinci. Rupanya, ini termasuk peninggalan kolonial Hispano-American. Katedral dibuka untuk umum setiap hari Senin sampai Sabtu, mulai pukul 09.00 hingga 16.30.

Di sisi lain alun-alun Plaza de Armas terdapat deretan bangunan berwarna kuning terang. Salah satunya Munciplidad de Lima, atau balai kota. Menurut saya, tempat yang paling tepat untuk menikmati seluruh keindahan ddan kemegahan bangunan kolonial spanyol itu adalah dengan duduk di salah satu bangku alun-alun yang ada di setiap sudut.

Selain banyak dikunjungi wisatawan asing, Plaza de Armas juga menjadi tempat rekreasi penduduk setempat dan tempat berpacaran. Ada segerombolan anak muda yang sedang mengobrol, sekelompok kakek nenek yang sedang memberi makan burung, dan anak-anak kecil yang berkejaran. Malu-malu, saya mencuri pandang ke arah sepasang kekasih yang sedang berciuman, duh…

Peninggalan Budaya Inca

Peru merupakan sebuah negara yang dikenal sebagai tempat lahirnya kebudayaan Inca. Sejak ribuan tahun lalu bangsa Inca secara tradisional mengamati pergerakan bulan, matahari dan bintang dan mencatatkannya dengan teliti dari tahun ke tahun. Berdasarkan hal itu, mereka bisa memprediksi cuaca dan kejadian alam di masa mendatang, misalnya banjir. Dengan demikian, mereka juga mengetahui kapan datangnya musim hujan dan musim kemarau, sehingga memiliki patokan waktu yang tepat untuk bercocok tanam.

Peninggalan mereka yang hingga kini masih dipelajari oleh para ahli astronomi dan arkeologi adalah Thirteen Towers of Chankillo. Selama 2.300 tahun 13 pilar batu superbesar ini digunakan untuk mengetahui posisi matahari lewat posisi bayangan pilar yang menyerupai tembok tersebut.

Observatorium matahari ini (kita mengenalnya sebagai jam matahari) terletak di puncak bukit di daerah Chankillo, sebelah utara Lima. Begitu pentingnya peran matahari bagi kehidupan suku Inca dalam keseharian, warga Peru sampai mengadakan festival Matahari (Inti Raymi) setiap bulan Juni.

Situs bersejarah paling besar di Lima adalah Pachacamac (31 Km dari pusat kota). Selama perjalanan menuju Pachacamac, lukisan alam terhampar, yaitu deretan rumah penduduk di lereng bukit pasir dan jejeran pohon pinus.

Sebuah pemandangan menarik perhatian adalah grafiti berbunyi “El Pueblo Espera tu Libertad, Fujimori Inocente” di sepanjang jalan. Rupanya, di sepanjang jalan itu banyak bermukim pendukung mantan presiden Peru berdarah Jepang, Alberto Fujimori, yang didakwa bersalah karena korupsi. Wargaa di sana meminta agar semua tuduhan terhadap Fujimori dihapuskan. Karena menurut mereka, Fujimori sama sekali tidak bersalah.

Begitu memasuki kompleks arkeologi Pachacamac sejauh mata memandang terlihat hamparan bukit pasir, serta beberapa bangunan yang material utamanya adalah lumpur pasir. Untuk masuk ke kompleks itu, kita harus membeli tiket  seharga 6 soles. Jika ingin ditemani pemandu, kita harus menambah uang sebesar 15 soles.

Sebagian besar brosur berbahasa Spanyol, namun di sana dijual buku-buku berbahasa Inggris tentang sejarah Pachacamac dan kebudayaan bangsa Inca seharga 20 soles. Saya putuskan untuk masuk tanpa ditemani pemandu, karena Mario telah beberapa kali mengantarkan wisatawan datang ke sini. Sehingga sedikit banyak ia bisa menerangkan tentang sejarah Pachacamac.

Untuk mengelilingi bangunan di kompleks itu para pengunjung boleh naik mobil. Tapi banyak yang memilih untuk berjalan kaki, karena udaranya segar. Di kompleks Pachacamac terdapat istana alun-alun dan candi peninggalan Bangsa Inca yang terpisah-pisah satu sama lain. Kebanyakan  bangunan sudah diperbaiki banyak sekali bangunan arkeologi di sini, namun yang terbesar dan terpenting adalah Temple of Deity dan The Acllawasi. Keduanya dibangun pada massa kekuasaan Inca sekitar tahun 1440-1533 Masehi.

The Acllawasi berada tak jauh dari pintu masuk. Struktur bangunannya piramid kotak. Ada banyak jendela dan pintu pada bangunan ini. Saat saya mengunjunginya, beberapa bagian bangunan sedang diperbaiki. Dulu The Acllawasi adalah tempat tinggal sekelompok wanita tua yang dikenal dengan Mamacuma. Mamacuna terdiri dari kepala biara, biara pelatih, pelayan dan penjaga pintu. Mereka bertugas mengajarkan para gadis remaja tentang beribadah.

Meninggalkan The Acllawasi, saya naik ke Temple of Deity. Berbeda dari The Acllawasi yang hanya bisa dinikmati dari luar, di Temple of Deity kita bisa menjelajahi isi candi. Untuk mencapai puncak, kita harus menapaki sekitar 50 anak tangga. Berada di tempat ini, saya seperti masuk ke mesin waktu dan terlempar ke masa lalu.

Tadinya saya tak berniat naik. Saya pikir pemandangannya pasti hanya bukit-bukit pasir. Tapi, mario memaksa saya. “Di atas kamu akan melihat pemandangan yang pasti belum pernah kamu lihat” desak Masrio. Dengan terpaksa, saya menurut. Di puncak candi, dalam waktu bersamaan saya bisa menikmati 3 pemandangan yang menakjubkan. Yaitu biru laut, perbukitan hijau dan coklatnya gurun pasir. Indah sekali. Waah, untung saya menuruti saran Mario.

Jangan Lupa Kalkulator

Makanan utama warga Peru adalah umbi-umbian, seperti ubi jalar, dan kentang. Ada ribuan jenis kentang, sampai-sampai mereka memiliki Potato Centre, pusat penelitian kentang Peru.

Banyak makanan khas Peru yang bisa dicicipi. Tapi, yang wajib coba adalah cebiche. Makanan ini berupa irisan ikan mentah yang disiram perasan air jeruk lemon, garam dan bawang putih. Campuranan antara garam dan perasan air jeruk membuat mikroorganisme di dalam ikan mentah itu mati, sehingga aman untuk dikonsumsi. Rasanya mirip sashimi, enak dan segar!

Cebiche bisa ditemui di negara Amerika Latin lain. Tapi setiap negara memiliki cara pengolahan masing-masing yang khas. Di Peru, cabiche disajikan dengan potongan jagung manis dan salat. Kegemaran orang Peru makan ikan mentah ini dipengaruhi oleh kebiasaan suku Inca, yang selalu makan ikan hasil tangkapan para nelayan, tanpa dimasak terlebih dahulu.

Minuman yang harus dicoba adalah Pisco Sour. Pisco sour dijual seharga 14 soles per gelas, adalah campuran brandy lokal, perasan air lemon, putih telur, dan gula yang dikocok. Pahit tapi ada rasa asamnya. Sampai saat ini warga Peru dan Chile masih memperdebatkan asal minuman itu, tapi keduanya mengaku sebagai negara pencipta Pisco Sour. Tapi, yang jelas, warga Peru selalu meyarakan Pisco Sour setiap hari sabtu, di minggu pertama bulan Februari. Biasanya pada hari itu mereka berkumpul memenuhi bar dan restoran untuk menikmati minuman ini sampai puas.

Anda yang tidak suka minuman beralkohol, bisa memilih Cicha Mirada. Minuman ini dibuat dari campuran jagung ungu dan buah-buahan lain. Rasanya manis dan lebih segar jika diminum dalam keadaaan dingin. Beda dengan Pisco Sour yang hanya dijual di tempat-tempat tertentu, Chica Morada bisa dibeli di supermarket atau toko kelontong. Biasanya sudah dikemas dalam kaleng, botol, dan ada juga yang dijual dalam bentuk bubuk.

Selain itu, Lima juga dikenal dengan suvenir cantiknya mulai dari ukiran kayu, pernak pernik dari kulit sapi, lukisan sampai baju rajutan tradisional dengan motif khas Peru atau khas Inca. Tempat belanja paling lengkap dengan harga kompetitif adalah di Indian Market dan Inca Plaza yang letaknya berhadapan.

Tempat ini mirip dengan pasar Sukawati di Bali. Toko-toko suvenir berderet di sepanjang pasar. Sebenarnya, hampir setiap toko menjual barang yang hampir sama, kecuali beberapa toko yang hanya menjual perhiasan atau lukisan. Jadi tergantung pintar-pintarnya kita memilih toko dan mengajak penjual untuk tawar menawar harga.

Saya memilih satu toko kecil di pinggiran Inka Plaza yang tak terlalu ramai. Meskipun kecil, barang yang  dijual cukup lengkap. Harus saya akui, saya sedikit kalap melihat deretan ponco, baju khas Indian berwarna-warni. Jamie, pemilik toko itu, hanya bisa berbahasa Inggris seadanya. Tapi itu bukan halangan untuk bertransaksi.

Jamie mengambil kalkulator di dekatnya. Diketiknya sejumlah angka dan menunjukkan angka di kalkulatornya kepada saya. Terlalu mahal, kata saya sambil menggeleng. Jamie lalu menyerahkan kalkulatornya dan menyuruh saya mengetik angka.  Wah, belum dapat, Senora, tolak jamie. Transaksi tawar menawar lewat kalkulator terus berlanjut, sampai akhirnya saya dan Jamie sama-sama mendapatkan harga yang cocok.

Mirip seperti berbelanja di China. Ketika naksir barang lain, saya dan Jamie menggunakan sistem yang sama. Sesekali saya menggoda Jamie agar mau merelakan barangnya dibeli dengan harga murah. Kamu orang Indonesia pintar sekali menawar, puji jamie sambil tertawa.

Sebuah ponco bermotif Inca berhasil saya tawar menjadi 15 soles, satu lembar syal dari bulu Alpaca (sejenis Unta khas Peru) seharga 20 soles. Sedangkan untuk sebuah dompet dan tatakan gelas dari kulit sapi saya dapatkan dengan harga 5 soles dan 10 soles. Tapi, ada juga sebuah ponco dan syal bulu Alpaca yang dijual hingga ratusan soles, tentunya dengan motif dan mutu yang jauh lebih baik. (Caosa Indryani, Femina 27 Maret 2009)

6690 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply