Lintas Jabar Jateng: Harumnya Tembakau, Dari Laut Sampai Gunung

Sebuah perjalanan lintas medan, dari pantai sampai gunung. Eksplorasi wild life ditambah panen tradisional. Dari candi hingga stasiun kereta. Padahal ini baru secuil kawasan di Pulau Jawa!

Kami menikmati segarnya bau mbako rajang (daun tembakau diiris halus) yang ditempatkan di atas nyiru dan dijemur di bawah sinar matahari sembari melangkah pada jalanan batu desa Anggrunggondok. Sebuah dusun di Wonosobo, terletak di kaki gunung sepasang, Sumbing dan Sindoro.

Pesta panen tembakau atau kerennya Harvest Celebration tengah dilangsungkan. Selain penduduk lokal, tamu berdatangan dari kota sekitar. Seperti Parakan, Temanggung, sampai Magelang dan Secang.

Acaranya nanggap (menggelar pentas) tari Jaranan dan Lengger. Disebut pertama, pertunjukan tari kuda lumping in-trance. Sedang yang kedua, tarian khas dengan penari lelaki merias diri hingga mirip perempuan. Tanpa polah tingkah kemayu.

Wisata Pangandaran

Tontonan tadi mengasyikkan disimak. Didampingi kopi tubruk dan rengginang putih gurih. Khusus Tari Jaranan, sesekali kami mesti berdiri sembari mengamankan cangkir kopi karena tingkah polah beberapa penari kesurupa. Mereka bergerak mendekati penonton, melompat dan siap menerkam. Mirip gerak hewan yang terlintas dalam imajinasi bawah sadar mereka.

Penonton terpekik, manakala ada bilah bambu, batang tebu, pecut bahkan parang beraksi di tangan para penari yang seluruhnya lelaki itu. Dalam kondisi in-trance, mereka mendekati para pengunjung, baik tengah duduk maupun jongkok di pinggir lapangan, hingga cerai berai menyelamatkan diri.

Penari lantas kembali ke tengah, penonton berbalik ke tempat nonton semula. Rupanya seorang dukun “memanggil” para penari dengan cara menyembur-nyemburkan air putih dari mulut, yang sudah diberi japa mantra. Penari tersadar seiring tepuk tangan meriah para penonton.

Sungguh sebuah pentas yang menarik. Tapi itu bukan satu-satunya highlight perjalanan kami, mengingat pelancongan kali ini menjelajah kota yang berjejer di bagian barat dan tengah Pulau Jawa.

Rutenya: Pangandaran, Nusa Kambangan, Cilacap, Purwokerto, Banjarnegara, Wonosobo, Dieng, Parakan, Temanggung, Ambarawa, Bandungan dan finish di Semarang.

Highlight sebelum Wonosobo adalah Nusakambangan. Perjalanan dimulai dari Pangandaran, mencicipi seafood serta menikmati sunrise dan sunset di Pantai Timur serta Pantai Barat. Sebuah keunikan milik Pananjung Pangandaran, di mana matahari terbit dan terbenan hanya dipisahkan hutan lindung dari bagian Taman Nasional Pangandaran.

Namun juga menyimpan cerita seram, karena saat terjadi tsunami tempo hari, Pantai Timur dan Barat disatukan oleh air laut setinggi atas lutut orang dewasa, cerita Ibu Asih, penjual seafood segar sekaligus koki pemasak udang goreng mentega pesanan kami. Sekarang jalan jalan di Pangandaran dilengkapi peunjuk arah untuk pengungsian tsunami.

Dari Cukang Taneuh, nama asli Grand Canyon yang jadi primadona Pangandaran (terletak di Cijulang) kami bertolak ke Kalipucang. Melakukan backwater trip pakai perahu motor tempel ke Danau Segara Anakan sampai Nusakambangan.

Lama perjalanan sekitar empat jam, membelah perairan hutan mangrove dan rawa rawa atau wetland dengan sebaran pulau pulau kecil. Kami melakukan bird watching dan menemukan beberapa jenis burung seperti Collared Kingfisher, Ruddy Kingfisher dan Javan Kingfisher. Sementara binatang lain yang bertengger di atas pohon adalah kera ekor panjang.

Suasana rawa-rawa itu mengingatkan kami pada wetland Kalibiru, Taman Nasional Way Kanan di Lampung. Bedanya, di Nusa Kambangan terdapat lapas berstatus maximum security, yang bisa dilihat mudah saat berperahu motor. Serta ziarah rohani Gua Maria.

Gua yang kerap dikunjungi umat Khatolik ini terletak jauh di atas bukit. Dengan kontur tanah variatif, tanjakan dan turunan serta lereng dengan sudut kemiringan ringan sampai ekstrim. Sementara medannya beragam, mulai rumput, batuan karang mati, lumpur hingga padang ilalang.

Setelah trekking sekitar satu jam, sampailah kami di sebuah gua alam berhias stalagmit dan stalaktit yang tersimak makin syahdu karena kehadiran cahaya lilin dari para peziarah.

Kenangan Temanggung

Perjalanan berikutnya, dari dataran rendah dekat lautan kami naik ke ketinggian di atas 1.500 mdpl. Yaitu desa Anggrunggondok di mana kami menghadiri pesta panen tembakau tadi. Rutenya Cilacap, Purwokerto dan Banjarnegara.

Di Purwokerto singgah sejenak mencobai sroto Sokaraja. Ujudnya mirip soto kuah bening berisi ketupat, potongan daging sapi, tauge pendek, soun, kedelai goreng, seledri, daun bawang serta kerupuk kanji pinky, hijau dan kuning.

Tak kurang istimewa, sambalnya dari campuran tauco, kacang tanah goreng dan cabe. Buat sotonya sendiri, pembeli bisa pilih daging sapi, babat atau ayam.
Menyusur Wonosobo dan Dieng

Dari Wonosobo, petualangan berikutnya menginjakkan kaki ke dataran tinggi Dieng. Tempat yang namanya dipetik dari kata Sanskrit, Di Hyang, atau kediaman para dewa, menunjuk pada lokasinya di ketinggian 2.000 mdpl.

Kompleks percandian Hindu ini dibangun pada abad ke 8 sampai ke 9 bertemakan pemujaan Dewa Siwa. Beberapa gugus candi tersebar di ketinggian Dieng Plateu, dengan kondisi sudah digali dan ditata ulang sampai masih reruntuhan. Arkeolog Van Kinsbergen memulai penggaliannya pada tahun 1856.

Selain percandian, kami juga menghampiri Desa Sembungan di ketinggian 2.300 mdpl. Lansekap dataran tinggi Dieng yang cantik, bisa disimak dari satu titik berjuluk Gardu Pandang.

Dari Wonosobo, kami menuju Parakan, melewati rute cantik ke Parakan Kledung Pass. Sebuah tempat di cerukan antara Gunung Sumbing dan Sindoro, ‘ada ketinggian 2.340 mdpl. Kawasan di mana segarnya dedaunan tembakau mulai tercium. Titik awal di mana kakek dan ayahanda kami tercinta dulu memulai pendakian ke Gunung Sumbing -Sindoro.

Tujuan berikutnya, Temanggung. Sebuah kota kabupaten yang pernah mendapatkan predikat terbersih di Jawa era 1980an. Kawasan pecinan dengan bioskop tua bernama City masih tegak berdiri dan dipertahankan. Dengan penjual bakso kupat pikulan di depannya.

Inilah kota asal bus antar kota Safari Dharma Raya alias OBL. Markasnya tak jauh dari bioskop City, terminal dan Kali Galeh, sungai yang membelah Temanggung arah Magelang dan distrik Bulu. Sepotong kenangan manis menyeruak karena satu dari kami melewatkan sebagian masa kecil di sini.

Dari Temanggung, perjalanan diteruskan ke arah Secang menuju Semarang (exit point kami kembali ke Jakarta) tapi belok dulu ke Museum Kereta Api Ambarawa. Tujuan wisata historis ini, asalnya stasiun kereta yang dibangun pada zaman penjajahan Belanda. Dibuka pada tahun 1873, dinamai stasiun Koening Willem I. Kini dialihfungsikan sebagai museum penyimpan lokomotif yang diproduksi kurun 1891 – 1928.

Wisata nostalgia digelar di sini. Menikmati kereta api tempo doeloe pakai gerbong kayu CR-56 buatan tahun 1907 yang ditarik lokomotif B2502 produksi tahun 1902.

Perjalanan menempuh rute Ambarawa, Ngampin, Jambu, Bedono pulang pergi sepanjang 1,5 jam. Suguhannya lansekap apik dari bingkai jendela yang dibiarkan tanpa kaca. Karpet menghijau dari jajaran sawah dengan latar belakang Gunung Ungaran serta Merbabu menjadi pemandangan yang menyegarkan mata.

Sampai di perhentian Jambu, lokomotif penarik gerbong ganti fungsi menjadi pendorong kompartemen penumpang. Pada elevasi sekitar 700 mdpl ini, bangsa Belanda membuat rel perlintasan kereta yang bergerigi agar kereta tak kesulitan menanjak. Sebagai catatan, jalur rel yang bergerigi ini merupakan satu satunya di Indonesia yang masih berfungsi.

Buat menikmati jalur wisata nostalgia itu juga banyak diminati oleh wisatawan mancanegara, utamanya lansia asal Belanda, begitu penjelasan salah satu petugasmuseum. Dibutuhkan biaya Rp. 2,5 juta (harga sebelum krisis dollar dan kenaikan BBM) untuk seluruh gerbong. Beruntung di hari kunjungan kami, banyak peminat yang ingin mencoba hingga kami berpatungan Rp. 50.000,- per orang.

Ambarawa merupakan titik mendekati akhir penjelajahan kami. Dari sini, kami bertolak ke Rawa Pening, untuk menikmati sunrise serta kehidupan tenang di sekitar danau. Berlanjut lagi dari Bawean ke arah pasar bunga Bandungan di ketinggian 980 mdpl. Bermacam jenis bisa dijumpai, seperti chrysanthemum, aster cattleya, lili sampai aneka mawar.

Para petani bunga mengumpulkan bebungaan di sini sekaligus melakukan transaksi. Peminatnya tak sebatas Jawa Tengah, tapi sampai Jawa Barat dan Jawa Timur. Seperti pembeli di samping kami, ternyata datang dari Bekasi. “Kami beli untuk dijual lagi ke tetangga sekitar”, tukas Hendriyanto, yang menyopir mobil bak sendiri ditemani istri.

Highlight penutup perjalanan adalah Candi Gedung Songo yang terletak di ketinggian 1.000 mdpl. Beberapa bagian Candi Hindu ini sudah rusak, membuat jumlahnya tak lagi genap sembilan. Sir Stamford Raffles pun menjulukinya dengan sebutan Gedung Pitoe pada tahun 1804 karena hanya sekian yang tersisa. Kini bahkan sudah berkurang lagi sehingga menjadi sekitar 5 gugus candi yang masih berdiri tegak. Hampir setengah bagiannya tinggal puing puing semata.

Terletak di kaki Gunung Ungaran, Candi Gedung Songo menawarkan lansekap yang spektakuler. Dari tempat ini, bila tak tertutup oleh kabut, dapat dilihat gunung kembar Sumbing Sindoro, sekaligus Merapi Merbabu. Karena kawasan wisata Candi Gedung Songo yang ditemukan Belanda pada tahun 1740 itu tergollng tujuan populer bagi masyarakat Jawa Tengah, kami berangkat pagi benar agar dapat lebih leluasa menikmati kehijauan pepohonan cemara serta kompleks candi.

Sejauh mata memandang, terlihat gugus pegunungan tinggi di kawasan jawa tengah. Mendatangkan kenangan kami akan segarnya bau daun tembakau sekaligus pengusir lelah setelah menempuh perjalanan sedemikian panjang. (Sumber: Cita Cinta)

366 Total Views 4 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *