Lom Plai Upacara Pasca Panen Suku Dayak Wehea

Sudah pernah mendengar suku Wehea? Suku Wehea adalah salah satu suku Dayak di Kalimantan Timur yang lokasinya ada di Desa Nehas Liah Bing, Muara, Kalimantan Timur. Suku Dayak Wehea, sama seperti suku-suku kebanyakan di Pulau jawa, juga memiliki adat kebiasaan merayakan panen yang melimpah dengan sebuah tradisi yang dikenal dengan nama Lom Plai.

Ketika panen raya tiba, tetua adat suku Dayak Wehea akan menentukan kapan waktu yang tepat diadakannya pesta upacara adat Lom Plai. Perhitungan didasarkan pada menghitung bintang, dan seluruh suku Dayak Wehea di Desa Liang Bing akan mengikuti tanggal yang telah ditentukan oleh kepala suku.

Lom Plai adalah sebuah pesta adat pasca panen untuk bersyukur atas panenan mereka yang berlimpah dalam satu tahun. Dengan upacara adat ini, diharapkan seluruh warga suku Dayak Wehea akan memperoleh keselamatan sepanjang satu tahun ke depan, dan hasil panen tahun depan juga akan berlimpah seperti tahun sebelumnya. Pesta adat juga diyakini dapat menghindarkan tanaman warga dari serangan berbagai macam penyakit dan hama tanaman.

Apa saja yang dilakukan saat upacara adat Lom Plai? Ada dua tugas yang berbeda. Bagi suku Dayak Wehea perempuan, mereka menyiapkan sajian yang akan dimakan. Makanan yang biasa dimasak adalah nasi lemang, nasi yang dimasak dalam sebilah bambu. Selain nasi lemang, mereka juga membakar ikan dan daging. Suku Dayak Wehea laki-laki akan menyiapkan kostum yang dipakai saat upacara adat Lom Plai, yaitu pakaian yang terbuat dari daun-daunan pisang. Tarian yang akan ditarikan namanya Hudong.

Pimpinan adat akan membunyikan sebuah gong yang menandakan upacara adat Lom Plai telah dimulai. Biasanya dilakukan oleh seorang keturunan raja di suku Dayak Wehea. Setelah itu, para perempuan akan berjejer, berjalan membawa sebuah rangkaian bulu ayam yang diberi nama Embos Min. Perempuan-perempuan suku Dayak Wehea tersebut akan berkeliling kampong ssambil mengibaskan bulu ayam sebagai perlambang menghilangkan kesialan.

Pada saat yang bersamaan, serombongan laki-laki dari Suku Dayak Wehea akan berkumpul di hulu sungai Liang Bing menarikan tarian perang-perangan. Tarian dilakukan di atas perahu yang mengalir di atas sungai Liang Bing. Karena tarian ini sedikit membutuhkan kekuatan fisik, maka tak sembarang laki-laki yang diperbolehkan mengikuti kegiatan ini. Hanya laki-laki terkuat dari desa Liang Bing saja yang boleh mengikuti prosesi tari perang di atas perahu ini.

Ada peraturan utama yang harus dipatuhi. Beberapa aturan diantaranya adalah tidak boleh menyerang lawan dari jarak yang sangat dekat dan dari posisi belakang lawan. Perahu yang mengalir di sungai Liang Bing dilengkapi dengan senjata yang terbuat dari ranting pohon yang telah dibuat sedemikian rupa mirip dengan tombak. Laki-laki akan terus saling menyerang sampai sang ketua adat memberikan tanda tarian telah usai.

Upacara adat Lom Plai akan dilanjutkan esok hari dengan siraman. Siraman ini adalah sebuah perlambang dari permohonan warga agar persediaan air sebagai salah satu kebutuhan pokok dalam bercocok tanam sangat melimpah. Siraman ini dilakukan dengan menyiramkan air kepada warga lainnya.  Setelah selesai siraman, pada malam harinya akan dilakukan tarian magis, Hudong.

Tarian Hudong ini adalah puncak acara dari upacara adat pasca panen Lom Plai. Tarian Hudong tidak sembarangan ditarikan oleh orang biasa. Dipilihlah warga suku Dayak Wehea yang diperkirakan mampu memanggil arwah leluhur, agar memberikan perlindungan dan menjaga tanaman padi mereka dari kegagalan panen.

Upacara adat Lom Plai akan ditutup dengan sebuah prosesi yang bernama Embos Epang Plai. Sebuah doa bersama memohon dihindarkan dari bahaya. Doa bersama dilakukan di sebuah lapangan terbuka, dipimpin oleh ketua adat. Ketua adat akan membacakan doa-doa yang dilakukan tanpa henti sejak sore hari hingga matahari terbit. Ritual juga dilengkapi dengan menyembelih seekor ayam. Ayam kemudian dibersihkan dan ditancapkan pada sebilah bambu. Bambu ditancapkan di sebuah pohon pisang. Di sebelahnya diberikan sesaji berupa padi dan dua butir telur ayam. Saat darah ayam menetes, ketua adat akan mengelilingi batang pohon pisang sambil menaburkan padi ke tanah. Keesokan harinya, musim tanam padi selanjutnya dimulai.

6433 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply