Mattemu Taung, Festival Panen Raya

Jalan-jalan ke Soppeng Sulawesi Selatan pada bulan September mendatang? Wajib memasukkan perayaan Mattemu Taung dalam daftar tujuan wisata Anda. Mattemu Taung adalah sebuah perayaan atau festival Panen Raya, hampir sama dengan berbagai perayaan panen di berbagai daerah di Indonesia, tetapi pasti ada yang khas yang hanya terdapat di Mattemu Taung di Soppeng, Sulawesi Selatan.

Mattemu Taung diadakan setiap tahun sekali, di daerah Soopeng, di mana masih terdapat hamparan sawah yang luas, yang menghidupi dan sumber utama pendapatan masyarakat setempat. Perayaan tersebut sebagai ucapan syukur kepada penguasa alam, karena telah berhasil memanen padi dengan baik. Dan selalu berharap, panenan mendatang akan sama baiknya dengan tahun ini.

Perayaan dilakukan dengan cara gotong royong warga desa, yaitu dengan memberikan sumbangan berupa makanan atau tenaga kepada penyelenggara. Upacara Mattemu Taung, sama seperti perayaan Bugis kuno lainnya, dipimpin oleh Bissu. Rangkaian acara diawali dengan Mattedu Arajang, yaitu dengan menabuh perkusi sebagai upaya untuk berkomunikasi dengan arwah leluhur. Mattedu Arajang sendiri adalah membangunkan pusaka yang dikeramatkan.

Perkusi ditabuh terus menerus, baik pagi, siang, sore ataupun malam, dengan harapan komunikasi kepada arwah leluhur tidak terputus. Selama Mattemu Taung diadakan, bissu akan selalu berkomunikasi dengan arajang. Baru pada saat sore hari, dinyalakan lilin sebagai penerang yang terbuat dari minyak kemiri yang telah ditumbuk halus. Kaum perempuan sejak pagi telah menyiapkan berbagai sesaji berupa makanan yang akan diletakkan dalam sebuah usungan yang terbuat dari bambu.

Makanan yang akan dijadikan sesaji haruslah mengandung empat unsur alam, api, tanah, air dan udara. Terbuat dari ketan dan berwarna merah, kuning, hitam dan putih. Selain itu, ada pula ayam, kue tradisional dan buah-buahan tak ketinggalan. Semua sesaji akan dibawa ke persawahan pada saat menjelang sore hari, dan pada saat itulah beberapa petani yang sedang menanam padi menyambut iring-iringan sesaji. Sesaji diletakkan di sawah dan di beberapa pohon yang keramat.

Iring-iringan akan makan malam bersama, dan puncak acaranya adalah Massanro. Bissu yang memimpin upacara berganti pakaian di balik selembar tirai tembus pandang, dan muncul di hadapan warga yang telah siap menonton dengan pakaian yang sangat feminin. Warna yang digunakan juga sangat beragam dan kontras, menggunakan lipstick, dan bedak yang lumayan tebal.

Bissu duduk di hadapan para tamu, dan kemudian setiap tamu menghadap sambil memberikan daun sirih yang disisipi dengan uang kertas. Daun sirih kemudian dikibas-kibaskan di atas dupa, kemudian setiap orang akan dibaca nasibnya. Prosesi berakhir hingga larut malam, karena ada beberapa orang yang memiliki penyakit, sengaja datang untuk berharap kesembuhan.

Bissu kemudian menari dengan iringan tabuhan perkusi pada arajang, dengan ritme yang pelan kemudian semakin cepat. Seiring dengan kecepatan tarian para bissu, mereka menghentakkan kakinya pada lantai, dan mulai mencabut keris, kemudian ditusuk-tusukkan pada beberapa bagian tubuh seperti tangan, leher dan pelipis mereka.

Para bissu tersebut dimasuki oleh arwah leluhurnya, dan berbicara dalam Bahasa Bugis agar selalu mengingat tradisi leluhur mereka. Bissu kemudian masuk ke dalam bilik, dan selanjutnya mempersilahkan warga satu per satu bertemu dengannya. Penduduk mempercayai, bahwa bissu tersebut yang telah dimasuki arwah leluhur dapat mengabulkan permintaannya, sehingga mereka membawa air, pisang atau ayam untuk diberkahi.

Upacara pesta adat Mattemu Taung ini baru akan selesai lewat tengah malam. Tak rugi jika Anda menyaksikan sendiri. (Foto: Gagapix/Flickr)

6215 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply