Melestarikan Rumah Adat Lengge dan Jompa di Pulau Sumbawa

Dusun Temba Bojo terletak di puncak Gunung Maria, sekitar 17 kilometer dari Raba, ibukota Kabupaten Bima, Pulau Sumbawa. Tidak begitu jauh dari Temba Bojo, situs Lengge Wawo masih bertahan menghadapi perkembangan zaman yang begitu cepat. Di situs yang memiliki sekitar 13 lengge dan 93 jompa itu, rumah-rumah adat yang sangat tradisional masih lestari sampai sekarang.

Lengge dan jompa adalah rumah adat yang berupa gubuk dengan atap alang-alang yang bentuknya meruncing. Rumah adat setinggi sekitar 4 meter itu digunakan untuk menyimpan bahan makanan seperti padi, jagung, jawawut, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Selain itu, lengge dan jompa juga dimanfaatkan sebagai tempat tinggal bagi orang-orang Bima.

Bentuknya yang meruncing ke atas bukan tanpa alasan. Menurut juru peliharan situs Lengge Wawo, Jota Karim, bentuk atap yang meruncing ke atas dan lurus memanjang ke bawah berhubungan dengan kejadian meletusnya Gunung Tambora. Bentuk bangunan rumah adat yang sedemikian rupa konon bisa membuat rumah lebih aman karena debu akan langsung jatuh ke tanah.

Seiring perkembangan zaman, akhirnya orang Bima membuat dua bangunan yang berbeda, satu untuk tempat tinggal dan satunya lagi untuk lumbung. Hal ini dimaksudkan apabila terjadi kebakaran mereka masih mempunyai cadangan bahan makanan. Bangunan untuk menyimpan makanan inilah yang dinamakan jompa. Kumpulan jompa yang berjarak 500 meter dari pemukiman itulah yang dijadikan situs Lengge Wawo.

Untuk mencapai situs Lengge Wawo ini, Anda harus terbang ke Bandara Sultan Muhammad Salahuddin, Bima, terlebih dahulu. Dari Bima, Anda bisa menyewa mobil atau sepeda untuk mencapai situs Lengge Wawo ini. Memasuki Desa Maria, Anda akan disambut dengan dinginnya udara pegunungan. Anda juga akan disambut penduduk Desa Maria yang biasanya menggunakan rimpu, penutup kepala seperti sarung.

Rimpu ini dibuat dari kain sarung khas Desa Maria yang diberi nama goli. Dikenal ada dua macam rimpu, wanita yang sudah menikah menggunakan rimpu yang masih memperlihatkan wajah mereka. Sedangkan wanita yang masih gadis, rimpu yang digunakan sangat ketat hingga menutup kepala dan wajah mereka, hanya menyisakan bagian mata saja.

Anda juga dapat menyaksikan sebuah ritual tanam padi bernama Gunta, tarian tumbuk padi bernama Kareku Kandei, atraksi adu kepala bernama Ntumbu, seni bela diri pedang bernama Pamanca, dan atraksi tombak bernama Mbuja Kandada. Uniknya di Desa Maria ini ada sebuah sanggar seni yang selalu siap melakukan pementasan sesuai permintaan wisatawan. Kapanpun Anda datang, pementasan selalu siap untuk ditampilkan. [G]

6110 Total Views 9 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply