Mencari Burung Maleo di Cagar Alam Panua, Gorontalo

Cagar alam biasanya berupa hutan yang di dalamnya terdapat flora atau fauna langka yang dilindungi. Mirip seperti hutan lindung, sayangnya hutan lindung hanya berupa sejenis atau beberapa jenis flora yang dilindungi. Sehingga perbedaan terletak pada ada tidaknya fauna yang dilindungi. Mari melihat wisata alam Cagar Alam Panua. Cagar alam yang berada di Gorontalo. Tepatnya berada di Desa Libuo, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato, di tepi jalan Trans Sulawesi. Jika melihat dari beberapa gambar dan foto yang pernah mengunjungi cagar alam Panua ini, merupakan tempat yang tepat untuk wisata alam karena merupakan kumpulan keindahan alam. Terdapat hutan yang bisa anda jadikan untuk out bond, terdapat pantai berpasir putih, jelas merupakan satu kesatuan lengkap keindahan alam yang bisa anda nikmati.

Menurut peraturan pemerintah yang baru, Cagar Alam Panua; Gorontalo memiliki luas, 45.575,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 471/Kpts-II/ 1992, 25 Februari 1992. Ada satwa endemik atau langka yang ada di cagar alam ini. Satwa ini berupa burung yang bernama Burung Maleo. Burung ini unik. Memiliki tonjolan di atas kepala yang berfungsi mendeteksi panas lingkungan untuk menetaskan telurnya. Lantas burung ini pun juga tidak menyukai terbang layaknya burung lainnya seperti ayam walau memiliki sayap. Mungkin bisa dikatakan sangat aneh karena bentuk telur burung ini lebih besar hingga perlu digenggam kedua tangan orang dewasa dan juga tidak mengeraminya saat ingin ditetaskan. Tapi dikubur di dalam tanah panas atau pasir pantai yang panas hingga menetas. Bahkan fakta mengejutkan lainnya bahwa setelah menetas bayi burung Maleo bisa langsung terbang. Menarik bukan? Inilah menariknya dan merupakan keunggulan bagi wisata Cagar Alam Panua.

Sayangnya burung ini terancam punah. Upaya pemerintah setempat dengan kerja sama dengan orrganisasi yang ada untuk melakukan penangkaran sia-sia. Penangkaran terhadap burung Maleo di Cagar Alam Panua ini tidaklah banyak berhasil karena masyarkat sendiri yang membuatnya punah. Nilai jual burung ini menjadi mahal karena unik, kemudian diburu. Dan juga banyaknya masyarakat yang merusak ekosistem tempat bertelur burung Maleo di sekitar pantai atau dataran panas di Gorontalo ini. Walaupun begitu, anda masih bisa melihat Burung Maleo si endemik dari Gorontalo ini.

Ada beberapa maskapai penerbangan yang menawarkan penerbangan ke Gorontalo tepatnya Bandara Jalaluddin ini. Yaitu Lion Air dan Sriwijaya. Harga tiket berkisar antara Rp 800.000,- sampai Rp 1000.000,- untuk kelas ekonomi dari Jakarta. Tergantung dari waktu yang dipilih untuk berlibur ke Gorontalo ini. Ada baiknya Anda melihat di agen resmi maskapai yang ada di kota anda dan mengecek jadwal penerbangan jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Agar anda bisa mendapatkan harga tiket yang lebih murah.

Untuk penginapan bagaimana? Ada beberapa penginapan murah yang bisa saya rekomendasikan; Quality Hotel Gorontalo, Alamat di Jl. Ahmad Yani Gorontalo, No telepon : 0435-827333. Liberty Hotel Gorontalo, Alamat di Jl. Basuki Rahmad Gorontalo. Hotel Tenteram Gorontalo, Alamat di Jl. Raya Andalas – Gorontalo. City Hotel Gorontalo, Alamat di Jl. Basuki Rahmad Gorontalo.

Penginapan ini rata-rata masih berupa losmen dengan harga tentu terjangkau untuk dompet anda. Selamat menikmati liburan di Cagar Alam Panua di Gorontalo. Nikmati keindahan alam dan menikmati keindahaan endemik lokal yang ada. (him)

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *