Menikmati Pesona Keindahan Danau Tiga Warna Kelimutu

Berbicara mengenai bulan madu, tak etis rasanya bila tidak mencoba wisata yang satu ini. 😀

Kelimutu, adalah nama dari sebuah taman nasional terkecil dari enam taman nasional yang berada di Bali dan Nusa Tenggara. Meski begitu, keunikan yang dimiliki taman nasional ini patut kita syukuri sebagai orang Indonesia.

Ya, di puncak gunung Kelimutu yang masih dalam kawasan taman nasional itulah, terdapat sebuah danau di mana memiliki tiga buah warna. Lebih tepatnya, terdapat tiga danau dengan tiga warna yang berbeda. Dalam jangka waktu tertentu akan berubah warna, dan sampai saat ini warna-warna selalu berbeda, itulah letak keistimewaannya.**

Taman Nasional Kelimutu sendiri masih masuk dalam wilayah pulau Flores, Nusa Tenggara Timur tepatnya di desa Pemu, kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende.

Ketiga danau ini memiliki luas total 1.051.000 meter persegi, dengan sebutan nama yang berbeda-beda sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat. Danau yang berada di bagian barat misalnya, dinamakan Danau Tiwu Ata Mbupu, yang berarti kumpulan jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal, dan berwarna putih.

Kemudian di sebelah tengah, ada danau Tiwu Muri Koo Faiyang berarti kumpulan jiwa pemuda-pemudi yang telah meninggal, berwarna dominan merah. Terakhir yang terletak di sebelah bagian timur terdapat danau Tiwu Ata Polo, atau danau untuk jiwa-jiwa orang jahat yang meninggal dunia.

Untuk itulah, Gunung Kelimutu hingga saat ini masih dianggap angker dan sangat sakral, apalagi bagi masyarakat etnik Lio yang dalam kurun waktu tertentu melakukan upacara dan ritual-ritual magis.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, danau-danau ini dapat berubah warna dalam waktu dan kondisi tertentu. Menurut beberapa sumber, perubahan warna ini disebabkan oleh aktivitas vulkanik sang gunung, pembiasan cahaya matahari, maupun oleh faktor biota-biota seperti lumut, mineral, yang ada di dalam danau.

Masyarakat setempat ada juga percaya bahwa perubahan warna yang terjadi di danau Kelimutu ini adalah pertanda datangnya bahaya. Contohnya pada tahun 1992 silam, gempa bumi dahsyat tiba-tiba mengguncang Flores hingga menewaskan ribuan nyawa penduduknya. Sejak itulah kawasan Kelimutu menjadi kawasan konservasi alam nasional.

Danau-danau ini sebenarnya pertamakali ditemukan oleh seseorang berkebangsaan Belanda Van Such Telen pada tahun 1915, dan seiring berjalannya waktu, danau ini semakin dikenal karena pesona dan keunikan yang dimilikinya.

Daerah Kelimutu dikelilingi oleh hutan heterogen dengan beragam jenis tumbuhan mulai dari paku-pakuan, casuarina, edelweiss, hingga tanaman pinus akan banyak Anda temui disekitar sana. Hal ini menunjukkan bahwa tanah gunung Kelimutu memiliki tingkat kesuburan yang cukup tinggi.

Anda tertarik? Saran dari saya, lebih baik berangkat pagi-pagi karena kabut akan menyelimuti keindahan-keindahan danau tersebut pada waktu siang dan sore harinya.

Jika Anda ingin menginap, penginapan paling dekat dan mungkin juga cocok bagi Anda terletak di kampung Moni yang berjarak hanya 14 kilometer. Jika menggunakan mobil pribadi atau truk, diperlukan waktu total kurang lebih satu jam menuju ke bibir kawah Kelimutu.

Kondisi suhu yang rendah alias dingin itu menjadi keuntungan tersendiri bagi Anda yang suka berhemat diri seperti saya. Ya, penginapan-penginapan yang berada di kampung Moni hampir tak ada yang menggunakan AC, yang jelas bisa meminimalisir pengeluaran dana. Hanya sekitar 40-75 ribu rupiah per malam. Bagaimana ?

**Berdasarkan data penelitian, dalam waktu 25 tahun terakhir Danau tersebut sudah mengalami 12 kali perubahan warna. [MK]

5686 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply