Menjaga Alam dan Tradisi Wehea

Lewat tradisi, suku Dayak Wehea berjuang menahan serbuan tambang batubara dan kebun sawit.

Matahari masih tertutup awan ketika Ledjie Taq, Kepala Adat Dayak Wehea di Kampung Nehas Liah Bing, Muara Wahau Kalimantan Timur, membawa serangkaian gong milik desa ke halaman rumah panggungnya. Wajahnya sedikit cemas menyaksikan cuaca pagi yang mendung. Padahal hari itu seluruh masyarakat desa desa harus mempersiapkan Embob Jengea, acara puncak pesta adat Lom Plai atau Erau Padi, serta panen padi tahunan yang akan diselenggarakan keesokan hari.

Ledjie Taq bergegas turun, dan berkubang di jalanan berlumpur liat yang membentang di depan rumahnya, menuju rumah adat yang tak jauh dari sana. “Ngesea Egung atau upacara pemukulan gong sebagai tanda seluruh masyarakat desa bisa memulai segala persiapan Lom Plai harus segera dilakukan sebelum hujan mulai turun,” ujarnya. “Sebelum gong dibunyikan, masyarakat belum boleh melakukan kegiatan yang berhubungan dengan persiapan Lom Plai.”

Akhirnya, sekitar pukul 09.00, Ledjie Taq dan sejumlah anggota masyarakat mulai menabuh gong yang secara tradisi bertujuan mengabarkan kepada Dewa Penjaga dan Pelindung Kampung, dan memohon restu serta perlindungan. Tak hanya itu, karena Ngesea Egung juga bertujuan memanggil semangat padi yang mungkin terbawa keluar desa karena dijual, termakan binatang atau tertinggal di ladang, sehingga musim tanam berikut padi diharapkan akan tumbuh subur dan melimpah.

Bersamaan dengan itu, masyarakat desa berbondong-bondong menjalankan tugas masing-masing. Kaum pria membangun sejumlah pondok sederhana di pinggir sungai, tempat menyaksikan upacara Seksiang, atau perang-perangan perahu, di atas sungai Wahau esok hari. sementara itu, di rumah masing-masing, kaum wanita menyiapkan lemang, makanan dari beras ketan dan kelapa yang dimasukkan ke bambu, yang akan dimasak dengan cara dibakar subuh nanti.

Demi menyaksikan Lom Plai, saya rela menempuh 12 jam perjalanan dari Balikpapan. Pertama-tama saya harus mencapai Samarinda dan Sangatta, yang terbilang lancar berkat jalanan beraspal mulus. Namun selepas Sangatta menuju Benalon hingga ke Nehas Liah Bing, jalanan mulai rusak. Aspal mengelupas di sana-sini, membentuk lubang yang cukup dalam. Lengah sedikit, kecuali mobil tipe double cabin milik perusahaan pertambangan dan perkebunan yang banyak wira-wiri, mobil jenis lain rentan tersangkut. Apalagi ketika hujan, tanah yang sedianya digunakan untuk menambal lubang berubah menjadi lumpur dan membuat jalan licin. Sungguh perjalanan yang menantang.

Fakta yang diungkapkan pengemudi mobil yang saya tumpangi cukup mengagetkan, sekaligus melegakan, “Kondisi jalanan ini sudah jauh lebih baik dari dua atau tiga bulan lalu. Dulu, dibutuhkan waktu sekitar dua hari menginap di hutan mencapai Nehas!”

Namun begitu tiba di Nehas, bayangan tentang perkampungan suku Dayak yang serba tradisional, segera pudar. Nehas rupanya cukup modern dan maju, lengkap dengan jalanan besar dari tanah yang dikeraskan – walau saat saya berkunjung, beberapa ruas jalan lebih menyerupai kubangan karena keburu musim hujan melanda sebelum sempat dilakukan peningkatan mutu jalan. Balai pertemuan adat yang ada pun megah, sementara rumah penduduk berjajar rapi membentuk blok-blok. Sekalipun listrik baru hidup pada sore hingga pukul 06.00 – siang hari tanpa suplai listrik – koneksi ponsel maupun internet sangat baik di sana.

Menurut Ledjie Taq, Dayak Wehea sejatinya merupakan suku tertua di wilayah tersebut, sekaligus yang pertama kali mendiami wilayah Sungai Wahau. Nehas Liah Bing sendiri merupakan desa tertua di antara lima desa lain di wilayah Muara Wahau.

Ledjie Taq mengisahkan bahwa Dayak Wehea berasal dari Cina daratan, yang dalam perjalanan menuju Malaysia, sebagian rombongan singgah dan menetap di Apau Kayan. Mereka pun beranak pinak sampai akhirnya terbentuk komunitas.

Segala sesuatu tidak selalu berjalan mulus. “Sempat terjadi perang saudara yang memperebutkan kekuasaan sampai akhirnya kami terpecah menjadi dua kelompok masyarakat,” ujar Ledjie Taq. “Satu kelompok kemudian memisahkan diri untuk mencari tempat tinggal baru. Akhirnya kelompok itu tiba di kawasan Gunung Kombeng dan mulai menetap.”

Sebagian anggota kelompok secara bertahap kemudian pindah ke hulu Sungai Long Mesaq Teng, atau Sungai Wahau. Tempat tersebut lambat laun berkembang dan diberi nama Nehas Liah Bing. Nehas berarti pasir dan Liah Bing dari Boq Liah Bing, orang pertama yang membuka kampung itu.

Karena kawasan yang ditempati adalah bagian dari Kesultanan Kutai Kartanegara, maka sejak kepala suku kampung Nehas Liah Bing yang bernama Bit Luaq diberi gelar Raja Alam oleh Sultan Kutai Kartanegara, maka Nehas Liah Bing mulai rutin membayar bayah atau upeti kepada Kesultanan Kutai Kartanegara. “Dari situ mulai terdapat kerancuan penyebutan nama suku Wehea menjadi Bahau karena Sultan Kutai Kartanegara kesulitan menyebut nama Wehea, dan itu berlanjut sampai sekarang.”

Mata pencaharian masyarakat Wehea sebagian besar adalah petani ladang, dan sangat menjunjung tinggi budaya bertanam padi. Hal tersebut tidak terlepas dari mitos Wehea yang memercayai bahwa tanaman padi merupakan jelmaan putri raja bernama Long Diang Yung. Konon ia dikorbankan untuk menjaga kelangsungan kehidupan masyarakat Wehea, saat musim kemarau panjang melanda kawasan itu. Sejak itu, tuntutan adat mewajibkan masyarakat Wehea untuk setia terhadap pengorbanan tersebut, dengan tetap menanam padi dan melaksanakan Lom Plai.

Selain itu, sejumlah metode yang diatur oleh tradisi diterapkan untuk menjaga kelestarian alam. Misalnya, jika ada warga masyarakat yang ingin membuka ladang baru, terutama bila bermaksud menggarap hutan perawan, maka harus dipenuhi syarat-syarat tertentu, seperti memberitahukan maksud dan tujuan kepada kepala suku atau kepala adat. Nah, sang kepala adat lalu memerintahkan sejumlah orang mencari hutan yang cocok dengan membaca tanda-tanda alam.

Bila sudah ditemukan kawasan hutan yang dianggap cocok dengan maksud dan tujuan warga masyarakat tersebut, lalu digelar upacara adat pembukaan hutan sebagai tanda pengakuan bahwa hutan atau bumilah yang memberi mereka hidup.

Selanjutnya, untuk membuktikan bahwa mereka mengembalikan apa yang telah “diambil” dari hutan, sudah menjadi ketentuan adat bahwa hutan yang diolah hanya digunakan selama 2-3 kali masa panen, kemudian dibiarkan selama 10-15 tahun agar tumbuh.

Menurut Ledjie Taq, masyarakat Dayak pada dasarnya tidak pernah berani merusak tanah dan hutan beserta isinya. “Karena hutan, bumi, seluruh lingkungan, serta semua makluk hidup di atasnya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup itu sendiri,” tegas Ledjie Taq.

Masalahnya, dengan semakin marak pembukaan lahan hutan untuk pertambangan dan perkebunan, keseimbangan alam pun terganggu, dan eksistensi masyarakat Dayak Wehea menjadi semakin terancam.

Kepedulian pada lingkungan secara nyata juga tercermin saat Ledjie Taq bersama beberapa tokoh adat Wehea menetapkan secara adat hutan seluas 38.000 hektar yang terletak di Muara Wahau, sebagai hutan adat Wehea atau Keldung Laas Wehea Long Skung Metgueen pada November 2004.

Padahal sepanjang 2002-2003, hutan tersebut juga sempat menjadi sumber konflik antara desa-desa suku Dayak. Mereka ngotot mengusulkan kawasan Wehea dijadikan lahan perkebunan, setelah perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) tidak lagi melakukan kegiatan penebangan di kawasan itu lantaran kondisi topografi hutan yang sebagian besar berlereng curam, serta banyak diterbitkan izin HPH dalam skala kecil dengan luas 100 hektar maupun kegiatan illegal logging. Selidik punya selidik, sikap ngotot tersebut sekadar ingin mendapatkan kayu yang ditebang untuk membuka lahan.

“Sejak itu kawasan hutan eks HPH dijaga secara adat oleh masyarakat Dayak Wehea,” jelas Ledjie.

Penetapan sebagai hutan adat rupanya merupakan langkah tepat. Dari hasil penelitian sepanjang 2003-2006 oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur dan The Nature Conservancy (TNC), lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi masyarakat Dayak Wehea dalam pengelolaan lingkungan, berhasil diidentifikasi sembilan spesies primata, 12 spesies hewan pengerat, 19 spesies mamalia, 114 spesies burung, dan 59 spesies pohon yang bernilai komersial, seperti meranti. Belum lagi perkiraan tim survei bahwa terdapat sekitar 750 ekor orangutan yang di hutan itu.

Pada tahun 2005, demi mengakomodasi keinginan masyarakat untuk lebih melindungi kawasan hutan Wehea, TNC dan Pemkab Kutai Timur akhirnya membentuk Badan Pengelola Hutan Lindung Wehea, termasuk pembentukan satuan penjaga hutan atau Petkuq Muhei, yang beranggotakan warga Wehea. Tentu bukan hal mudah bagi penjaga penjaga hutan adat yang berjumlah hanya 45 orang itu untuk menjaga hutan sedemikian luas, yang berbatasan dengan wilayah suku lain. Apalagi mereka hanya dipersenjatai mandau, senjata tajam khas Dayak untuk mengusir pencuri kayu, dan pemburu bersenjata api.

Namun, nyatanya para petugas tersebut mampu menjalankan tugas. Bahkan, berbekal tekad melindungi hutan adat serta keyakinan bakal dilindungi para roh pelindung hutan, seorang petugas tak bakal gentar bila harus melawan lima pencuri kayu sekalipun. Dan hal itu sudah pernah terjadi.

Waktu pelaksanaan Lom Plai pun tiba. Sejak pagi semua anggota masyarakat, tak terkecuali masyarakat pendatang, bersiap melaksanakan Lom Plai. Sekolah-sekolah bahkan diliburkan agar para guru dan murid dapat mengikuti Lom Plai. “Lom Plai memang lebih penting dan meriah dibandingkan perayaan Natal,” tegas Ledjie Taq. Padahal sebagian besar masyarakat di sini adalah penganut katolik dan kristen.

Lom Plai diawali dengan Embos Min atau upacara bersih desa, yang bertujuan membuang segala kesialan dan kejahatan yang ada di kampung. Sejumlah perempuan dewasa berbaris, lalu berjalan mengelilingi desa ke arah hulu atau hilir kampung. Saat mereka berjalan, tak seorang pun, bahkan hewan sekalipun diijinkan melewati atau melintasi rombongan. Itu sebabnya masyarakat mengosongkan rumah dan menunggu prosesi Embos Min berakhir di pondokan yang mereka bangun sebelumnya di pinggir sungai.

Sambil menunggu Embos Min selesai, Seksiang digelar di Sungai Wehea. Puluhan perahu berisi lima sampai tujuh prajurit Dayak Wehea berpakaian khas warna-warni meluncur dari arah hulu ke hilir. Mereka saling berperang menggunakan tombak Weheang yang sudah ditumpulkan atau sumpit dengan anak sumpit terbuat dari tanah liat. Meski begitu, tetap saja berbahaya dan tak sedikit yang berdarah karena terkena tombak atau sumpit.

Walau demikian, suasana Seksiang tetap bersahabat. Itu semua tak terlepas dari aturan adat yang ketat bahwa dalam pelaksanaan perang-perangan orang yang berdekatan, membelakangi, maupun tercebur ke sungai tidak boleh di tombak.

Kegiatan selanjutnya adalah saling menyiram air dan mengoleskan jelaga. Di setiap sudut kampung sejumlah remaja terlihat membawa ember berisi air, lengkap dengan gayung, serta wajan yang bagian belakangnya menghitam karena jelaga. Mereka antusias mencegat, bahkan mengejar, siapapun yang melintas. Canda tawa terdengar membahana di seluruh kampung. Seru!

Puncak acara Lom Plai digelar pada sore hari di lapangan desa. Upacara dipimpin oleh seorang tetua adat dan dimulai dengan Mekean Hedoq atau menjamu Hedoq, yang bertujuan agar masyarakat dilindungi dari penyakit, diberi kesuburan, berkah dan kebaikan. Kemudian dilanjutkan dengan Enluai Hedoq atau doa kepada Hedoq yang dinyanyikan supaya Hedoq membawa semangat padi untuk kesuburan tanaman tahun depan, sehingga membawa kemakmuran, kebaikan, dan keselamatan bagi masyarakat.

Kemudian ditutup dengan tarian Hedoq yang dibawakan oleh puluhan masyarakat dengan mengenakan pakaian dari daun pisang dan topeng kayu. Hedoq sendiri merupakan tarian jin air, dari atas tanah dan dari kayangan.

Di tengah kesuksesan perayaan Lom Plai tahun ini Ledjie Taq menyimpan kekhawatiran, “Anak muda sekarang tidak lagi peduli adat.” “Modernisasi membuat mereka malas terlibat dalam kegiatan adat, yang merupakan pilar kami.”

Kondisi tersebut patut disesalkan karena suku itu gagal melestarikan adat dan tradisi mereka dapat dipastikan lingkungan mereka juga akan musnah. Semoga tidak.

2837 Total Views 2 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

2 Comments

  1. Putu Adi March 30, 2011
  2. Vivi Damayanti October 31, 2011

Leave a Reply