Menyeberangi Danau Toba Hingga Ke Pulau Samosir, Impian Yang Masih Tertunda

Sumatera Utara, terutama Danau Toba, menjadi salah satu tempat impian yang harus saya kunjungi. Berkali-kali coba menyusun itinerary, selalu gagal, karena akhirnya ‘belok‘ ke tempat tujuan lain. ‘Nanti sajalah, ke Danau Toba, sekarang ke situ aja dulu‘, begitu kata batin saya. Dan saya percaya, kalau rezeki itu udah ada yang ngatur. Akhirnya saya sampai juga menginjakkan kaki di Sumatera Utara.

Hotel

Tiba di bandara Polonia (dulu belum pindah ke Kualanamu), saya langsung diajak oleh teman yang menjemput ke sebuah restoran Padang (yang saya lupa namanya) untuk makan malam. ‘Cobalah jus Martabe (markisa terong belanda), ke Medan wajib itu…‘, kata teman. Saya pun mencicipi segelas. Seger! Kenyang makan, saya diantar ke Swiss BelHotel untuk mandi dan istirahat sebentar.

Durian Ucok

Jangan lupa nanti jam 9 turun ya Kak, saya tunggu di lobby, kita makan durian!‘ pesan teman saya. Hahahaha, belum tahu dia kalau saya nggak doyan durian. Tapi tak apalah, memang saya baca, di Medan ini salah satu hal yang wajib dicobain adalah duriannya. Juga penkek durian. (Kalau bika Ambon dan bolu Meranti, hampir dua bulan sekali saya terima kiriman)

Saya dibawa menuju Ucok Durian. Puenuh! Harus antri sebentar untuk bisa dapat tempat duduk. Walah, mau makan durian aja sampai antri begini? Emang sehebat apa durian di Ucok?

Ternyata oh ternyata, si Ucok ini sistem pelayanannya beda. Kita tinggal duduk aja, jelasin jenis durian yang kita mau makan, dan biarkan pelayannya memilih durian. Durian dibuka, dihidangkan di meja, dan jika tidak enak atau tidak sesuai dengan yang kita mau, kita bisa tukar tanpa harus bayar! Uwow!

Bangunan di Medan

Pagi harinya, setelah sarapan pagi di hotel, teman menjemput dan kami akan menuju Berastagi. Horray! Menumpang si Fortuner putih milik teman, saya akan diantar berkeliling Sumatera Utara.

Beli Durian

Perjalanan selama 2 jam menuju Berastagi, pemandangannya sangat menyejukkan mata. Karena Berastagi berada di ketinggian lebih dari 1.300 meter di atas permukaan laut, tentunya udara sangat sejuk. Di akhir pekan, banyak wisatawan lokal dari Medan mengunjungi Berastagi. Jaraknya hanya sekitar 70 kilometer saja.

Di kanan kiri jalan, terlihat rumah-rumah dengan pekarangan yang ditanami bunga-bunga aneka warna. Tak heran, Berastagi menjadi salah satu kota penghasil sayur mayur dan bunga terbesar di Sumatera Utara.

Gundaling

Tujuan saya hari itu yang pertama adalah bukit Gundaling. Dari Gundaling, kita bisa melihat Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak. Dengan panorama yang indah dan hawa pegunungan yang sejuk, saya menikmati sekali berada di bukit ini. Saya berkeliling sambil melihat pemandangan indah tersebut.

Sibayak Sinabung

Toko-toko suvenir terlihat di sebelah deretan toko-toko tanaman dan bunga-bunga dalam pot. Seorang tukang kuda menghampiri saya, ‘Naik kuda keliling, Kak, seratus ribu saja, boleh petik buah jeruk nanti di kebun.

Sibayak Sinabung (2)

Saya menolaknya secara halus. Saya memilih menikmati semilir angin dan sejuknya udara pegunungan dengan berjalan kaki saja.

Selepas dari bukit Gundaling, saya minta diantar ke Pasar Berastagi. Ada banyak penjual berbagai macam buah dan sayur mayur segar. Tinggal sebut saja, pasti ada di pasar ini. Dan karena semua adalah hasil panenan lokal, maka buah dan sayur mayur yang dijual di pasar ini sangatlah segar. Bukan produk impor yang sudah diawetkan berbulan-bulan.

Pasar Sayur Bunga Berastagi

Selain buah dan sayur mayur, beraneka bunga warna-warni juga ada. Mata saya langsung segar dengan pemandangan seperti itu. Dan di sebelah luar pasar, saya melihat ada pedagang berbagai hewan peliharaan seperti anak kelinci dan anjing. Di pasar ini kita juga bisa berkeliling menunggang kuda dengan tarif tiga puluh ribu rupiah.

Sinabung Hills

Sinabung Hills (2)

Hari kedua, saya menginap di Berastagi Hills. Sebuah hotel dengan pemandangan yang sangat indah dari sisi kolam renang. Beristirahat di ‘puncak‘ dengan udara yang super segar, membuat semua lelah dan beban yang selama ini ada, sedikit berkurang.

Siapa yang bisa stress kalau berbagai macam bunga yang indah seperti ini jadi pemandangan di kala membuka mata?

Selanjutnya ke mana?

Air terjun Sipiso-piso! Yeay!

SIPISOPISO

Maaf, numpang narsis ya, kali ini. Wajah eik muncullah sesekali, biar nggak disangka hoax juga. 😆

Di sini saya makan di sebuah warung, dan meminta lauk ikan yang mirip dengan ikan bilih danau Singkarak, Sumatera Barat. Namanya ikan Pora-pora. Rasanya juga nggak jauh beda. Sama-sama enak!

Pacaran

Toba

Toba2

Dari Sipiso-piso, pesona Danau Toba juga sudah bisa dilihat, tapi saya belum puas kalau belum mengelilinginya. Setelah itu, tentunya menjelajahi Danau Toba yang nge-heitz abis di Sumatera Utara. Dan saya diajak melintasi 8 kabupaten/kota (kalau nggak salah hitung) dari Tanah Karo menuju Ajibata, Parapat dan kembali ke Medan, mengelilingi Danau Toba.

Kopi Tongging

Desa Tongging adalah pemberhentian pertama dalam menikmati indahnya Danau Toba. Melihat seorang bapak memancing di pinggir danau, dan seorang lagi memberi makan ikan-ikan di kerambanya. Saya memilih menyesap secangkir kopi dan merasakan angin danau menerpa tubuh saya yang sedikit terombang-ambing di atas keramba nelayan.

Senja Parapat

Puas memandangi Danau Toba, sayapun beranjak ke destinasi selanjutnya, Parapat dan Ajibata!

Ikan Bakar

Mencoba ikan bakar dengan sambalnya yang khas, dan juga menyaksikan anak-anak penangkap uang logam yang dilemparkan oleh penumpang kapal yang akan berangkat menuju Pulau Samosir. Sayangnya, saya tidak menjadi bagian penumpang kapal. Saya tidak memiliki cukup waktu untuk menyeberang dan menyaksikan keindahan makam Raja Sidabutar, Tomok dan lain-lainnya. Hiks. Hiks, hiks…

Nyanyi

Melanglahkan kaki ke luar pelabuhan Ajibata, saya sudah disambut oleh seorang anak yang mencolek lengan saya, ‘Kak, mau nyanyi, Kak..‘ Rupanya, dia ingin mendapatkan saweran dengan menunjukkan kebolehannya berolah vokal. Hmmmm, lumayan juga saya mendengarkan dua buah lagu daerah yang saya bahkan tidak tahu apa artinya, tetapi dilagukan dengan indah oleh anak tersebut.

Sedikit kekecewaan terbersit, karena hasil mengamen tadi hanya sebentar saja di tangan anak itu, ketika saya dan teman masuk ke dalam mobil, uang itu langsung dipalak sama kakaknya. :mrgreen:

Monyet

Pajak

Kuliner

Mobil segera meninggalkan Parapat kembali ke Medan melalui jalur Pematang Siantar, Serdang Bedagai, Tebing Tinggi. Mampir terlebih dahulu di toko roti Ganda beli roti yang yummy dan beberapa kantong kopi Sidikalang bermerek Kok Tong.

Malam terakhir saya kembali menginap di Swiss Belhotel, dan keesokan paginya sarapan di Soto Sinar Pagi sebelum kembali ke realita, kemacetan Jakarta. Menyisakan satu mimpi yang masih tertunda, SAMOSIR.

(Semua foto hasil jepretan saya, kecuali yang ada muka saya, berarti saya minta tolong teman)

7159 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

4 Comments

  1. noe November 20, 2013
  2. noe November 20, 2013
  3. admin November 26, 2013
  4. Senaru Homestay May 15, 2015

Leave a Reply