Merasakan Dinginnya Puncak Pato

Namanya juga puncak, pastilah tinggi dan berhawa dingin. Begitu batin saya sebelum diajak seorang teman mengunjungi objek wisata yang ada di Sumatera Barat ini. Dan ternyata bayangan saya tidak meleset. Berada di ketinggian, menyebabkan udaranya sangat dingin, mirip dengan Puncak yang ada di Bogor.

Puncak Pato berada di Nagari Batu Bulek Kecamatan Lintau Buo Utara, sekitar 17 km dari Kota Batusangkar. Saya berangkat dari Lintau Buo, jadi nggak begitu jauh. Hanya saja kondisi jalannya menanjak dan terus menanjak. Jadi, persiapkan kondisi kendaraan dalam keaadaan fit, ya supaya bisa mendaki ke Puncak Pato dengan selamat.

Dulunya, Puncak Pato digunakan sebagai Benteng Pertahanan saat Perang Paderi berlangsung. Di objek wisata ini, terdapat 3 buah patung yang melambangkan tiga pemimpin masyarakat ketika hendak melahirkan pedoman hidup. Dalam sejarahnya, Puncak Pato dikenal sebagai “Sumpah Satie Bukik Marapalam”.

Udara yang dingin, berada di ketinggian dan dikelilingi oleh hutan pinus, membuat kita bisa berlama-lama berada di sana. Hanya saja sayangnya lokasi ini belum dikelola secara profesional. Bulan April 2011 yang lalu, di pintu loket penjualan tiket masuk saja tidak ada penjaganya dan segabai gantinya, sekumpulan anak kecil mencegat dan memasang tarif Rp. 5.000,- supaya saya bisa masuk ke dalamnya. Lantas, uang retribusi tersebut masuk ke kantong siapa? Ah, sudahlah, jika dipikir, banyak banget kok objek wisata di Indonesia yang dikelola dengan cara seperti itu, bukan hanya Puncak Pato saja.

Jika sore tiba, pemandangan matahari terbenam akan tampak eksotis dari atas bukit Puncak Pato. Namun sayang, saat saya jalan ke sana, cuaca sedang mendung dan berkabut, sehingga matahari tidak tampak dengan sempurna.

 

14023 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

No Responses

Leave a Reply