Penyu Pulau Anano Wakatobi

Setelah melewati masa pergulatan hidup yang genting, kini penyu-penyu Pulau Anano menikmati masa peneluran yang tenang, di pasir lembut dan deru ombak lirih. Puluhan jejak tukik dan induk penyu menghiasi pasir, memuaskan hati.

Menempuh ratusan mil dari ibukota Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menuju Pulau Anano yang tidak berpenghuni, dini hari, Putu Suastawa dan dua rekannya dari Balai Taman Naasional Wakatobi menemukan jejak tukik memanjang. Tanda kehidupan baru dimulai. Jejak bermula dari gundukan pasir berjarak lima meter dari bibir pantai. Perlahan mereka mengambil tempat tersembunyi, di antara pohon dan kayu tua mati, menunggu induk-induk penyu naik.

Putu Suastawa, pria bertubuh kekar, berusia tiga puluh satu. Ia bekerja sebagai staf Balai Taman Nasional Wakatobi sejak tahun 1998 dan aktif menjadi tim monitoring dalam dua tahun terakhir. Tahun-tahun pertama bekerja di Pulau Anano, Putu dan rekan-rekannya dihadang badai, hujan, dan para penjarah telur penyu.

Anano merupakan pulau tak berpenghuni, “kami tidur di atas pasir dan menggigil di saat hujan,” kata Putu. Tapi menunggui penyu merangkak naik ke pantai merupakan pekerjaan dengan sensasi yang menyenangkan. Rasa puas muncul ketika bayangan penyu terlihat di atas permukaan air laut, dan berupaya menuju ke pantai untuk bertelur. Atau sebaliknya, penyu berhasil menutup sarang dan tertatih-tatih kembali ke laut.

Biasanya, pada saat begini tim pemantau menggunakan kesempatan untuk mencatat jenis penyu dan mengukur kerapasnya. Mereka juga menghapus jejak penyu di pasir. Tapi sering penungguan menimbulkan kekecewaan bila penjarah telur, penyu datang awal dan menyisakan sarang kosong.

Tak mudah bagi Putu dan timnya menyadarkan warga untuk menghentikan pengambilan telur maupun penangkapan atas hewan purba ini. Di daerah Bajau, yang jutru jaraknya lebih dekat dengan ibukota Wakatobi, penyu bahkan menjadi peliharaan. Penyu berenang bingung dalam kolam buatan dan jadi tontonan pejalan kaki yang melintasi kolam itu. “Kami kan tidak memakannya,” kata warga Bajau yang memelihara dua penyu sisik.

Lukman Hakim, rekan Putu, menyebutnya sebagai kesadaran semu atas keseimbangan ekosistem. Ini salah satu ancaman bagi taman nasional seluas 1.390 juta hektar. Ancaman lain, perebutan wilayah tangkap, bom ikan, pencurian satwa langka, jumlah pengaman laut yang hanya 76 orang, dan mayoritas warga Wakatobi yang menggantungkan hidup dari laut.

Saya menyaksikan kesulitan itu ketika berada di Pulau Runduma. Warga yang hidup pas-pasan namun berkomitmen tinggi atas konservasi, tak berdaya ketika pihak lain datang dan menangkap ikan atau penyu dengan cara merusak. “Kami larang, tapi begitu mereka yang melakukan kami tak bisa mengejarnya dengan perahu dayung begini,” kata Lagambu, pelaksana kepala desa Runduma.

Hewan yang masuk dalam mata rantai di perairan Wakatobi ini tercatat sebagai hewan langka yang dilindungi. Doktor Colin J. Limpus, peneliti penyu dari University of Queensland mengatakan bahwa sebagian penyu telah kehilangan generasi-generasi terdahulu. Totalnya dari 30 generasi penyu, kini tersisa 6 generasi dari 7 spesies. Di Wakatobi, ada tiga jenis penyu yang biasa muncul untuk bertelur yakni penyu hijau, penyu belimbing, dan penyu sisik.

Limpus mengatakan, ancaman atas penyu timbul sejak peneluran dimulai. Berawal dari migrasi panjang, penyu dewasa melewati jarak 100 kilometer hingga 3000 kilometer untuk masuk ke wilayah pemijahan. Penyu betina yang siap bertelur akan mencari wilayah aman. Ia kadang mencoba satu hingga 39 kali untuk naik ke darat, siap bertelur dalam semalam, namun gagal karena gangguan kecil, misalnya cahaya lampu, bunyi, atau gerakan.

Ketika peneluran berhasil dilakukan, ancaman lain datang dari hewan penyantap telur penyu. Tukik atau anak penyu akan muncul setelah 50 atau 60 hari. memecahkan cangkang telur dan bergegas lari ke laut, menghirup dan menyentuh air. Pelajaran yang dipetik tukik dari hidup awalnya adalah menghindari kematian dari hiu, burung elang dan lumba-lumba. Ketika beranjak dewasa, ancaman penyu mulai datang dari manusia. Menurut Limpus, dari semua kegegeran ancaman mati itu, kemungkinan hidupnya hanya 1:1.000.

Tahun 2005 adalah puncak penjarahan telur dan penyu di Wakatobi. Grafik monitoring tim Balai Taman Nasional Wakatobi, TNC (The Nature Conservancy) / WWF (World Wild-Life Fund) menunjukkan jumlah jejak penyu terpantau September sampai Oktober 2005 sebanyak 14 ekor. Dan dari keseluruhan itu, hanya dua sampai tiga ekor yang bertelur. Tahun 2007 ketika Pulau Ruunduma yang berpenghuni 266 jiwa sepakat menghentikan perburuan telur penyu, dan memberikan sanksi bagi siapapun yang mengambilnya, angka peneluran pada September 2007 naik jadi 25 ekor per musim peneluran. “Kami bisa menyaksikan 4 sampai 5 ekor betina naik sekaligus, senang sekali,” kata Putu.

Seorang anak kecil di Pulau Ruunduma kini bisa menjawab mengapa penyu tak boleh lagi dimakan dan telurnya diambil. “Karena penyu hewan langka dan perlu dilindungi,” ujar Wiwin, siswa kelas 5 SD Ruunduma.

“Kami akan kejar siapapun yang mencuri telur atau menjual penyu,” kata La Gambu lagi. “Tapi memang berat sepertinya pekerjaan tidak pernah bisa selesai.” Katanya.

Butuh Tenaga Ekstra

Wakatobi taak hanya dikenal karena keragaman ikannya dan hewan yang dilindungi lainnya, tapi juga pesona bentuk terumbu karang yang tak tertandingi. Masuk dalam segitiga terumbu karang dunia, Wakatobi memiliki berbagai jenis ikan yang dikonsumsi warga Sulawesi Tenggara dan wilayah lain Indonesia. “Ini prestasi besar dan harusnya dihitung sebagai modal untuk membangun Wakatobi,” kata Veda Santiadji, project leader join program TNC/WWF. “Bayangkan kalau kita harus membuat terumbu karang dan melimpahkan ikan di Wakatobi, berapa besar biayanya?”

Ia mengatakan, seringkali investasi hanya diukur dari keberhasilan infra struktur dan cenderung mengabaikan modal sumber daya alam, sosial budaya dan manusia. “Untuk yang terakhir kali ini, saya khawatir bila tak terkelola baik, kita semua akan kehilangan modal yang tak tergantikan,” ujarnya. TNC/WWF adalah dua lembaga swadaya masyarakat internasional yang mendukung pemerintah di Taman Nasional Wakatobi.

Tahun sebelumnya, pemerintah setelah melakukan konsultasi publik sekian lama mengeluarkan zonasi baru Wakatobi Juli 2007. Ini terdapat 1.300 ha diperuntukkan sebagai kawasan inti yang artinya tidak boleh dijadikan sebagai tempat pengambilan ikan atau lintasan, kecuali penelitian. Lalu 36.450 ha untuk zona perlindungan bahari, 6.180 Ha untuk zona pariwisata, 804.000 ha untuk pemanfaatan lokal, 495.700 untuk zona pemanfaatan umum dan 46.370 untuk zona khusus daratan. Tujuannya satu, yaitu agar pemanfaatan ekonomi dan keragaman hayati bisa dinikmati semua pihak. Artinya juga, ketika mengatur ruang di laut itu, penyu ikut mendapat perlindungan.

“Ini tantangan buat kami semua, menjadikan warga sejahtera dari keindahan alamnya dan hidup dari pengelolaan perikanan yang lestari,” kata Ir. Manan ketua Badan Perencanaan Daerah Wakatobi.

Manan menyatakan, butuh kesabaran dan tenaga ekstra untuk membangun Wakatobi. Konservasi bisa dimaksimalkan bila Wakatobi menjadi lokasi tujuan wisata serta perikanan dikelola lestari. “Kalau wisata alam menambah pendapatan warga, praktis tak ada yang ingin alamnya rusak,” katanya. Bila yang terjadi sebaliknya, tak mungkin lagi menyaksikan penyu yang merangkak naik dalam keremangan malam di pulau-pulau Wakatobi. (Reader’s Digest)

5738 Total Views 18 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply