Pesona Bledug Kuwu

Bila Anda saat ini berdomisili di Jawa Tengah, maka wisata yang saya sajikan di artikel ini mungkin menjadi inspirasi dan pencerahan terhadap rencana perjalanan Anda nantinya.

Yap, Bledug Kuwu. Begitulah mereka menyebutnya. Bledug Kuwu merupakan salah satu destinasi wisata favorit yang terdapat di Kabupaten Grobogan selain sumber api abadi Mrapen. Dari namanya saja, mungkin Anda juga sudah bisa menebak bahwa Bledug Kuwu berarti letupan/semburan lumpur. Tepatnya, semburan lumpur.

Bledug Kuwu

Jelasnya, Bledug Kuwu terletak di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dari Purwodadi, Kabupaten Grobogan sendiri berada di 28 kilometer dari arah timur kota.

Jika dibandingkan dengan tempat wisata lain, Bledug Kuwu memang terlihat berbeda. Meski hanya sekedar lumpur layaknya lumpur di Porong, Sidoarjo, Bledug Kuwu menawarkan sajian yang berbeda. Bukannya menakuti warga setempat, fenomena Bledug Kuwu malah menjadi sorotan wisatawan baik lokal maupun interlokal menikmati pesona dari Bledug Kuwu ini.

Di wisata Bledug Kuwu, Anda akan melihat kubangan lumpur berdiameter sekitar 650 meter seluas kurang lebih 46 hektar menghasilkan sebuah letupan-letupan lumpur hingga 10 meter tingginya.

Meski hanya berbentuk kawah, namun wisata yang satu ini memang benar-benar menakjubkan! Bagaimana tidak, letupan-letupan ini berlangsung terus menerus dengan interval waktu yang lumayan, sekitar 2 hingga 10 menit per letupan. Ada juga letupan kecil yang lebih sering terjadi, mencapai 10 kali letupan per menit.

Hal ini spontan saja membuat siapa saja yang melihatnya semakin tercengang. Apalagi dengan adanya kandungan garam dalam tiap letupan, padahal faktanya kawasan ini jauh dari laut.

Yang mengherankan lagi, garam yang dihasilkan dari letupan lumpur ini ternyata juga memiliki tingkat salinitas tinggi, yang cocok digunakan dalam pembuatan garam dapur. Kelebihan lain, garam ini memiliki kadar yodium lebih tinggi dari garam dapur hasil olahan berasal dari laut. Meski berpotensi mengandung sianida, namun garam dari letupan ini dikatakan cukup praktis, karena tanpa melakukan proses penambahan lagi seperti yang terjadi pada garam umumnya.

Kesempatan itulah yang dimanfaatkan oleh warga setempat untuk mengubahnya menjadi garam berkualitas tinggi. Bagaimana? Pertama tumpahan-tumpahan letupan lumpur Bledug Kuwu dialirkan melalui parit-parit hingga cukup jauh dari sumber lumpur, nah, pada saat itulah para petani garam Bledug Kuwu mengolah garam.

Oiya, pesona Bledug Kuwu ini ternyata sudah ada sejak sebelum zaman kerajaan Mataram Kuno. Yakni sekitar abad ke-7 Masehi (732M-928M) serta sudah terdapat petani garam sejak abad ke-17, sehingga dipastikan para petani garam yang ada saat ini merupakan generasi penerus nenek moyang mereka yang berprofesi sebagai pengolah garam Bledug Kuwu.

Tak hanya itu, menurut seorang pemandu sekaligus juru kunci kawasan tersebut, setidaknya ada 200 hingga 700 pengunjung tiap harinya. Katanya, sebagian besar pengunjung datang karena ingin melihat fenomena yang aneh, ajaib, tapi nyata. Yakni letupan lumpur itu sendiri.

Legenda yang ada pun sangat bervariasi. Ada yang mengatakan bahwa Bledug Kuwu merupakan jalan Jaka Linglung –anak dari Ajisaka— saat kembali dari laut selatan setelah berhasil membunuh raja bengis Dewata Cengkar.

Ada juga yang mengatakan bahwa Bledug Kuwu merupakan buatan dari Jaka Linglung saat berubah menjadi naga sakti setelah dirinya berhasil mengalahkan Dewata Cengkar yang menjelma sebagai buaya putih.

Hingga sekarang cerita-cerita tersebut masih dipercaya masyarakat. Meski mungkin beberapa dari Anda tidak percaya, namun alangkah lebih baik bila Anda berwisata menikmati pesona Bledug Kuwu sekaligus mengetahui asal-usulnya. Hehe.. [MK]

6797 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

One Response

  1. Ejawantah Wisata June 11, 2013

Leave a Reply