Pesona Di Balik Pagar Alam

Terpisah 300 kilometer dari Ibukota Sumatera Selatan dan terkunci oleh Pegunungan Bukit Barisan, Pagar Alam tak patah semangat dalam menggaet turis. Ia menawarkan situs-situs arkeologi, festival bunga, kebun teh ratusan hektar, dan lebih dari 30 air terjun. Sebuah bandara kini juga sedang dibangun untuk membuka isolasi geografisnya.

Nama Pagar Alam sedikit banyak menjelaskan topografi alamnya: kota yang terkurung oleh pegunungan berlapis-lapis. Saya pernah melintasinya dalam perjalanan lintas Sumatera selama 38 jam dari Padang ke Jakarta, namun tak terbersit pikiran untuk mampir. Kecuali di kalangan pendaki yang kerap transit sebelum menaklukkan Gunung Dempo, Pagar Alam memang bukan destinasi yang populer. Tapi citra ini kelak akan direvisi.

Meninggalkan kopi yang mengepul, di halaman Villa Seganti Setungguan, saya menatap landmark akamiah Pulau Sumatera: Pegunungan Bukit Barisan. Di kejauhan, cahaya fajar menerangi hamparan perbukitan yang dibalut halimun tipis. Lanskap ini seolah telah lama tak tersentuh peradaban. Namun ini anggapan yang keliru. Sejumlah penemuan arkeologi dengan usia antara 2.000 hingga 3.000 tahun di sekitar Dataran Tinggi Basemah (sebutan lain kawasan ini) membuktikan Pagar Alam bukanlah tempat asing dalam sejarah.

Villa Seganti Setungguan berada di kaki Dempo, segitiga raksasa setinggi 3.159 meter dengan lereng yang diberkahi kesuburan. Di sekitar properti, kebun teh terhampar layaknya permadani hijau yang merayap rapi hingga ke tepian jurang dan punggung-punggung bukit. Selain jalan aspal berliku di sela-sela perkebunan, nyaris tak ada lahan di sini yang mubazir. Lega rasanya melihat masih ada tanah di Sumatera Selatan yang tidak dihuni kebun kelapa sawit atau karet.

Pak Nanang, pengelola Villa, menawarkan aktivitas tea walk bagi para tamu. Tidak ada rute khusus, jadi peserta bisa berjalan semaunya. Saya meniti jalan setapak di kebun teh yang berkelok-kelok layaknya labirin sembari menghirup udara segar, kemewahan yang sulit ditemukan di kota-kota besar.

Menjelang pukul delapan pagi, kehidupan di kebun seluas 1.500 hektar ini mulai berdenyut. Para pekerja berdatangan dengan sepeda motor, sementara sebagian lainnya berdesak-desakan di atas truk bak terbuka. Atmosfer yang tadinya tenang berubah riuh. Desing mesin pemotong daun beradu kencang dengan suara tawa para pekerja.

Dari mana, Mas?” tanya seorang pekerja. Ia sepertinya menyadari sosok saya yang asing. Sebaliknya, saya juga menyadari keanehan pada logat bicara si pekerja yang lebih bernuansa Jawa daripada Melayu. “Saya aslinya dari Pacitan Mas,” katanya seraya menjejalkan daun-daun ke keranjang panggul. “Keluarga saya sudah lama menetap di sini, saya lupa sejak kapan, yang jelas sudah lama sekali.”

Eksistensi warga suku Jawa di Pagar Alam bukanlah fenomena baru. Adalah Belanda yang merekrut mereka sebagai buruh kebun hampir seabad lampau. Seiring waktu, kaum pendatang berbaur dengan warga lokal, beranak pinak, dan turut mewarnai kultur setempat. Maka tidak aneh jika kesenian dari Jawa semacam wayang, kuda lumping, bahkan reyog sudah dianggap bagian dari kebudayaan Pagar Alam.

Hasil panen dari kebun kemudian dikirim ke pabrik-pabrik teh lokal, salah satunya NV Landbouw Maata Chapij, pabrik warisan Belanda yang kini menjadi bagian PT. Perkebunan Nusantara VII. Plang di depan bangunan menjelaskan usianya: “Gunung Dempo – 1929”. Daniel Solikhin, salah seorang petinggi pabrik, menunjukkan proses produksi di dalam pabrik sepuh ini.

Teh pagar alam sangat istimewa,” ujar Daniel saat kami melewati mesin-mesin bising. “Tak banyak kebun teh yang memperoleh sinar matahari stabil sepanjang tahun seperti si sini.” Dia juga bercerita, dari total 15 ton daun teh olahan pabrik per harinya, lebih dari 90 persennya dinikmati konsumen di luar negeri. Inilah sebabnya, orang Indonesia jarang mencicipinya.

Pak Sukaimi, Kepala Dinas Pariwisata Pagar Alam, punya cerita unik soal teh dari Gunung Dempo. Katanya, Walikota Pagar Alam, Djazuli Kuris, suatu waktu pernah minum teh saat melawat ke Hong Kong, tapi kemudian ia mendapati bahan baku teh tersebut ternyata didapat dari daerahnya sendiri.

Uniknya, meski teh merupakan komoditas andalan yang melimpah, warga setempat justru lebih akrab dengan kopi. Di banyak tempat, kecuali di Kafe Starbucks yang memang belum berdiri di sini, kita bisa dengan mudah melihat warga menyeruput kopi, sejak pagi hingga malam. Biji-biji kopinya umumnya didapat dari kebun lokal. Berbeda dengan kebun teh, kebun kopi umumnya digarap pengusaha kecil menengah.

“Ada lebih dari 30 curug di Pagar Alam,” tutur Pak Karman, pemandu saya, sembari melahap tikungan dengan cermat. “Curug” adalah bahasa lokal untuk air terjun. Siang ini kami melaju di kawasan perbukitan yang mengurung Pagar Alam menuju Air Terjun Lematang Indah, sekitar 8 kilometer dari pusat kota. Tak lama kemudian, kami melintasi jembatan besi dan sampai di tujuan.

Lematang Indah diambil dari nama sungai deras yang populer sebagai wahana arung jeram. Setelah menuruni tangga dari lokasi parkir, sosok air terjun langsung terlihat. Untuk mendekatinya, saya harus beranjak ke sisi lainnya dengan menyeberangi sebuah jembatan. Celakanya, jembatan rusak parah dan belum diperbaiki sejak ditimpa pohon tumbang awal tahun lalu.

Kita harus naik perahu,” ujar pemandu. Perahu di sini berarti ban dalam bekas traktor yang ditarik oleh joki. Alhasil, saya pun melakoni aktivitas tubing menyeberangi sungai yang berarus deras. Pengalaman yang sangat singkat, tetapi tak kalah seru dibandingkan arung jeram.

Dengan tinggi sekitar 20 meter dan debit air yang lumayan besar, Lematang Indah menyuarakan gemuruh yang tak berkesudahan. Seluruh kebisingan kendaraan di jalan bahkan tertelan olehnya. Air terjun ini bagaikan tirai putih di tengah dinding hijau. Buih-buihnya beterbangan terbawa angin yang bertiup dari pinggang bukit. Jika benar klaim pemandu bahwa Pagar Alam mengoleksi lebih dari 30 air terjun, warga tentunya tak akan kesulitan mencari lokasi pelesir di akhir pekan.

Meski begitu, ada satu fakta yang saya tidak mengerti tentang Pagar Alam. Entah apa pasalnya, kota ini memilih julukan Kota Bunga ketimbang Kota Curug atau Kota Teh. Jawabannya saya temukan saat kembali ke pusat kota.

Sebuah festival Bunga Nusantara tengah digelar untuk pertama kalinya di Pagar Alam. Hajatan ini melibatkan peserta dari berbagai propinsi di Indonesia, ditambah wakil dari dua negara tetangga Malaysia dan Vietnam. Jadwal acaranya cukup padat, mulai dari lomba kuliner, pemilihan Putri Bunga, hingga parade mobil hias. Untuk sebuah kota kecil, Pagar Alam punya ambisi besar dalam berpesta.

Ribuan warga lokal begitu antusias merayakan pergelaran ini. Seakan tak peduli pada teriknya matahari, mereka turun ke jalan demi menyaksikan iring-iringan mobil hias yang didesain bak taman berjalan.

Tiap mobil mempromosikan ikon daerah asalnya. Jakarta misalnya, membawa miniatur Monumen Nasional (walaupun ikon ini sebenarnya milik Indonesia ketimbang Jakarta); Bukittinggi mengusung tiruan Jam Gadang, dan Malaysia membanggakan replika menara kembarnya. Lewat festival yang berlangsung sehari, Pagar Alam tampil sebagai pesaing bagi kota-kota sekaliber Jember atau Tomohon yang selama ini terkenal lewat festival jalanannya.

Acara pemilihan putri bunga juga tak kalah memikat. Maklum, kontes versi mini Miss Indonesia ini menampilkan belasan gadis cantik berusia belia. Dalam durasi beberapa jam, gadis-gadis melenggok mengelilingi panggung sebuah auditorium dengan kostum glamor. Awal Januari 2012 sang Putri Bunga beserta mobil hiasnya diboyong ke Pasadena untuk mengikuti Tournament of Roses, salah satu festival bunga terbesar sejagat.

Pagar Alam mengirim teh ke Hong Kong dan mengutus mobil hiasnya ke Pasadena. Bisa dimengerti jika kota ini merasa sudah waktunya ia dilirik dunia. (Muhammad Fadli, Majalah Garuda Indonesia Februari 2012)

6683 Total Views 6 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

One Response

  1. Riyadi Yahya August 25, 2013

Leave a Reply