#PesonaIndonesia: Brrr… Bromo yang Dingin dari Bukit Kingkong

Setelah perjalanan yang cukup lancar dari Surabaya, akhirnya saya tiba di Bromo Cottages sekitar pukul 20.30 WIB. Belum terlalu malam namun suhu dingin Bromo langsung terasa. Untungnya pihak hotel memberikan welcome drink yang istimewa. Segelas kecil wedang jahe panas menjadi penolong saya melawan cuaca dingin.

Setelah meminum wedang jahe, saya menyantap makan malam lalu mengikuti briefing untuk perjalanan kami menjelajahi Bromo esok dini hari. Tim Pesona Indonesia akhirnya dibagi menjadi dua tim, tim pertama berangkat pukul 00.00 WIB dan tim kedua berangkat pukul 03.00 WIB. Tim pertama berangkat lebih awal karena akan membidik foto star trail.

Selain ingin istirahat beberapa jam, saya kok kurang yakin bisa menahan hawa dingin di Pananjakan 1 Sunrise Point pada jam segitu. Akhirnya saya memilih ikut tim kedua yang berangkat pukul 03.00 WIB. Setiap tim dibagi menjadi lima kelompok karena masing-masing jeep hanya bisa membawa 5 sampai 6 penumpang.

Sekitar pukul 22.00 WIB, saya menuju ke kamar untuk mandi, ngecas baterai kamera, dan tidur. Saya bangun pas pukul 03.00 WIB, cuci muka, dan langsung menuju ke lobi hotel karena sudah nyaris terlambat. Sampai di lobi hotel ternyata belum banyak yang berkumpul.

Di depan hotel, ada beberapa orang yang menjajakan senter, sarung tangan, penutup kepala, dan beberapa aksesoris untuk menghalau dinginnya Bromo. Saya tidak membeli karena saya pikir jaket saja sudah cukup. Waktu itu saya mengenakan tiga lapis pakaian yaitu kaos lengan pendek, jaket, dan di luarnya kaos lengan panjang.

Sekitar pukul 03.15 kami berangkat meninggalkan Bromo Cottages. Sopir kami yang bernama Mas Sapto dengan lihai membawa jeep melalui jalan berliku menuju sunrise point. Saat berangkat kami sudah berdiskusi mengenai sunrise view point yang akan kami tuju.

Waktu itu hari Sabtu dan setiap akhir pekan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru selalu dipenuhi wisatawan. Ada beberapa titik sunrise yang menjadi pilihan yaitu Pananjakan 1, Pananjakan 2, Bukit Kingkong, dan Bukit Cinta. Dari empat sunrise view point itu, hanya Pananjakan 2 yang berbeda arah.

Untuk mencapai sunrise view point itu, wisatawan tidak diperbolehkan menggunakan mobil pribadi. Wisatawan harus menyewa jeep atau ojek dan harus menitipkan mobil di sejumlah penitipan yang dikelola warga setempat. Nah patokannya adalah penitipan mobil terakhir itu.

Pesona Indonesia Brrr Bromo yang Dingin dari Bukit Kingkong

Setelah penitipan mobil terakhir itu nanti ada pertigaan, nah kalau lurus menuju Pananjakan 2. Kalau belok kanan akan sampai di Bukit Cinta, Bukit Kingkong, dan terakhir Pananjakan 1. Pananjakan 1 menjadi lokasi favorit dari dahulu. Namun karena semakin banyaknya wisatawan yang datang, akhirnya warga setempat membuka sunrise view point yang baru seperti Bukit Cinta dan Bukit Kingkong.

Para sopir jeep biasanya memprioritaskan Pananjakan 1, kalau sudah terlalu wisatawan akan diantarkan ke Bukit Kingkong yang berjarak sekitar 2,5 km dari Pananjakan 1. Kalau di Bukit Kingkong sudah penuh ya pilihannya cuma Bukit Cinta. Skenario kami waktu itu juga begitu, kalau Pananjakan 1 sudah penuh ya Bukit Kingkong saja.

Sekitar setengah jam kemudian jalanan menuju sunrise view point sudah mulai ramai. Beberapa jeep sudah parkir di kanan-kiri jalan, sementara sejumlah tukang ojek berlalu lalang. Mas Sapto kemudian memarkir jeep-nya di bagian kiri jalan karena jalanan sudah penuh dan tidak bisa ke atas lagi.

Begitu turun dari jeep, banyak tukang ojek menawarkan jasanya untuk mengantarkan kami. Namun karena Bukit Kingkong sudah dekat, hanya sekitar 200 meter lagi, kami akhirnya jalan kaki saja. Akhirnya sampai juga di pertigaan menuju Bukit Kingkong. Saat itu sudah pukul 04.00 WIB dan jalanan ke atas menuju Pananjakan 1 sudah ramai sekali.

Pesona Indonesia Brrr Bromo yang Dingin dari Bukit Kingkong

Jalan menuju Bukit Kingkong sudah bagus karena sudah diberi paving block. Tempat pemantauan matahari terbit juga sudah ditata rapi dengan pagar pembatas setinggi dada orang dewasa. Saat saya datang sudah ada puluhan orang, belum terlalu ramai. Sejumlah penjual kopi dan mie instan duduk menunggu pembeli di dekat bukit.

Konon bentuk bukit itulah yang menjadi latar belakang nama Bukit Kingkong. Beberapa tonjolan batu di bagian atas bukit itu berbentuk seperti wajah kingkong sehingga akhirnya warga setempat memberi nama Bukit Kingkong. Ternyata prediksi saya salah karena saya awalnya saya pikir penamaan Bukit Kingkong itu karena ada monyet di sana. 🙂

Sambil menunggu sunrise, saya berkeliling di Bukit Kingkong. Ternyata ada dua lokasi pemantauan sunrise di Bukit Kingkong, jaraknya sekitar 100 meter dan yang pertama tempatnya lebih tinggi. Nah, saat saya datang jalan ke lokasi kedua itu baru dipasangi paving block. Selain di kedua lokasi, jalan di antaranya itu juga menjadi tempat favorit menikmati sunrise karena tidak ada bukit yang menghalangi.

Pukul 05.00 WIB, wisatawan sudah mulai ramai dan mengambil posisi terbaik masing-masing untuk menikmati sunrise. Saat menunggu sunrise itu, saya baru merasakan badan saya kedinginan sekali. Mungkin karena hanya diam saja, karena saat masih berkeliling sejam sebelum tidak terlalu terasa dingin. Barulah saya menyesal tidak membeli sarung tangan dan penutup kepala di hotel tadi.

Akhirnya pukul 05.40 WIB, sunrise yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Panorama matahari terbit berpadu dengan Kawah Bromo yang menyemburkan abu vulkanik pagi itu sangatlah indah. Saat itu Kawah Bromo memang sedang beraktivitas menyemburkan abu vulkanik setinggi 150 meter. Karena aktivitas vulkanik itu, wisatawan tidak boleh melewati jarak 1 km dari pusat kawah Bromo.

Petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru telah memberikan papan pengumuman di sejumlah lokasi. Wisatawan dihimbau untuk waspada dan mematuhi jarak aman 1 km dari pusat kawah Bromo. Meskipun begitu aktivitas Kawah Bromo tidak mengurangi kunjungan wisatawan karena semburan asap bercampur abu vulkanik dari Kawah Bromo malah menjadi daya tarik tersendiri.

Setelah puas menikmati dan mengabadikan paromana sunrise Bromo, saya menuju lokasi kedua. Kalau lokasi pertama lebih cocok untuk memotret sunrise, lokasi kedua ini lebih cocok untuk berfoto dengan latar belakang Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru. Puas menikmati sunrise dan berfoto, akhirnya saya meninggalkan Bukit Kingkong.

Masih ada sedikit wisatawan yang menikmati pemandangan Bromo di Bukit Kingkong saat saya pergi. Sementara jalanan di pintu keluar Bukit Kingkong tidak seramai saat saya datang tadi. Tidak banyak wisatawan yang berjalan dan hanya jeep-jeep yang berjalan ke arah bawah. Mas Sapto pun siap mengantarkan kami ke petualangan selanjutnya. Kami melewati Bukit Cinta yang juga masih dikunjungi puluhan wisatawan.

Pesona Indonesia Brrr Bromo yang Dingin dari Bukit Kingkong

Setelah menikmati sunrise dari Bukit Kingkong, kini saatnya menuju Kawah Bromo. Dari Bukit Kingkong jaraknya sekitar 10 km jadi perlu waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke sana. Begitu jeep turun ke lautan pasir Bromo, adrenalin meningkat karena Mas Sapto menyetir jeep cukup kencang.

Dari awal perjalanan di lautan pasir itu, Gunung Batok tampak menutupi Kawah Bromo. Meskipun abu vulkanik dari Kawah Bromo terlihat jelas menyembur ke arah barat daya. Setelah melewati Gunung Batok, ada tempat parkir bagi wisatawan yang ingin menuju Kawah Bromo. Namun kami memutuskan untuk terus ke Pasir Berbisik terlebih dahulu.

Pasir Berbisik ini terletak di sebelah timur dari Kawah Bromo atau lebih dekat dari pintu masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dari arah Probolinggo. Nama Pasir Berbisik berasal dari suara-suara angin bercampur pasir di lautan pasir kaldera Bromo itu. Namun nama Pasir Berbisik populer setelah dijadikan lokasi syuting dengan judul yang sama pada tahun 2001.

Untungnya waktu itu cuaca di Pasir Berbisik sedang baik sehingga saya bisa menikmati suasana lautan pasir yang tenang. Saya bisa melihat Kawah Bromo dari kejauhan dan tentunya abu vulkaniknya yang membumbung ratusan meter tingginya. Kalau cuaca sedang tidak baik, badai pasir sering terjadi di Pasir Berbisik ini sehingga cukup mengganggu wisatawan.

Pesona Indonesia Brrr Bromo yang Dingin dari Bukit Kingkong

Sebenarnya masih ada destinasi Savana dan Bukit Teletubies yang letaknya ke arah selatan dari Pasir Berbisik atau pasnya di tepat di belakang Gunung Bromo menghadap Gunung Semeru. Jika Pasir Berbisik berbentuk lautan pasir, Savana Bromo berbentuk padang rumput yang sangat luas. Sementara Bukit Teletubies merupakan bukit-bukit hijau seperti yang ada di film kartun dengan judul yang sama.

Akhirnya kami kembali menuju tempat parkir yang menghadap langsung ke Kawah Bromo. Jeep wisatawan hanya bisa sampai di tempat parkir itu, selanjutnya wisatawan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau naik kuda. Kuda-kuda tersebut akan mengantarkan wisatawan ke Pura Luhur Poten atau langsung menuju ke anak tangga Kawah Bromo. Tarif sewa kuda sekitar seratus ribu rupiah.

Pura Luhur Poten terletak di tengah lautan pasir berada dekat Kawah Bromo dan Gunung Batok. Pura Luhur Poten memiliki luas 5.250 meter dan terletak di ketinggian 2.392 mdpl. Pura Luhur Poten digunakan untuk memuja Dewa Brahma (Brohmo) yang dipercaya menjadi asal nama Gunung Bromo. Dewa Brahma merupakan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Washa yang merupakan Sang Pencipta.

Setiap tahun Pura Luhur Poten digunakan untuk perayaan Hari Raya Yadya Kasada yang jatuh pada hari ke-14 bulan Kasada dalam penanggalan Jawa. Selain menggelar upacara sesembahan untuk Sang Hyang Widhi, perayaan Kasada juga untuk mengenang leluhur suku Tengger yaitu Rara Anteng dan Jaka Seger. Konon nama suku Tengger berasal dari gabungan nama akhirnya nama kedua leluhur tersebut.

Pesona Indonesia Brrr Bromo yang Dingin dari Bukit KingkongPesona Indonesia Brrr Bromo yang Dingin dari Bukit Kingkong

Dari Pura Luhur Poten, wisatawan perlu berjalan kaki sekitar 2 km lagi menuju dasar tangga menuju Kawah Bromo. Bagi yang memilih berjalan kaki dari pura, sebaiknya berjalan santai untuk menyimpan tenaga karena menaiki tangga ke Kawah Bromo cukup melelahkan. Selain itu wisatawan sebaiknya mengenakan kacamata dan penutup kepala karena debu berterbangan saat kuda-kuda melewati lautan pasir itu.

Wisatawan yang menyewa kuda bisa lebih menghemat tenaga, namun kuda hanya mengantarkan sampai dasar tangga. Tangga menuju Kawah Bromo memiliki ratusan anak tangga. Konon ada 250 anak tangga namun jumlah anak tangga ini berubah-ubah jika dihitung meski oleh orang yang sama. Kalau lelah di tengah jalan, ada tiga tempat istirahat di kanan kiri tangga sehingga tidak menghambat laju wisatawan di bawahnya.

Begitu sampai di puncak tangga, wisatawan bisa langsung menikmati panorama yang luar biasa. Wisatawan bisa langsung melihat Kawah Bromo yang menyemburkan abu vulkanik. Sementara dari arah sebaliknya, wisatawan bisa melihat Pura Luhur Poten di tengah-tengah lautan pasir. Budaya suku Tengger tampak menyatu dengan alam Bromo. Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia.

Setelah menikmati panorama dari Kawah Bromo, wisatawan bisa membeli makanan dan oleh-oleh di dekat tempat parkir jeep. Waktu itu saya membeli bakso untuk sarapan dan tidak lupa membeli kaos oleh-oleh untuk anak. Di belakang warung-warung itu juga ada toilet untuk pengunjung Bromo. Pukul 09.00 WIB, saya meninggalkan Bromo untuk kembali ke Bromo Cottages.

Pesona Indonesia Brrr Bromo yang Dingin dari Bukit Kingkong

Terima kasih Kementrian Pariwisata Republik Indonesia yang sudah mengajak kami menikmati keindahan #PesonaIndonesia #SaptaNusantara

3 Comments

  1. Nasirullah Sitam December 7, 2015
  2. nengbiker December 14, 2015
  3. Yoekaa May 18, 2016

Leave a Reply