#PesonaIndonesia: Decak Kagum untuk Tari Kecak Uluwatu

Bus yang saya tumpangi sampai di ujung Jalan Raya Uluwatu Pecatu sekitar satu jam sebelum matahari terbenam di Selat Bali. Di ujung jalan itulah Pura Luhur Uluwatu berada. Saya bersama dengan tim Indonesia.Travel datang tepat waktu karena sebentar lagi adalah waktu yang tepat untuk menikmati sunset dari Pura Luhur Uluwatu.

Pura Luhur Uluwatu berdiri di atas batu karang setinggi 50 meter yang menghadap ke Selat Bali. Wisatawan juga bisa melihat luasnya Samudera Hindia yang membentang di arah selatan. Di sanalah kesucian pura menyatu dengan keindahan alam. Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia.

Karena Pura Luhur Uluwatu merupakan tempat suci, sebelum masuk wisatawan harus mengenakan selendang kecil berwarna kuning yang diikatkan di pinggang. Ada juga tambahan bagi wisatawan yang mengenakan celana pendek yaitu kain berwarna ungu yang harus dikenakan selama berada di area Pura Luhur Uluwatu.

Kain dan selendang yang dinamakan Salempot itu dipinjamkan secara gratis untuk wisatawan yang mengunjungi area Pura Luhur Uluwatu. Tempat peminjamannya ada di sebelah kiri sebelum pintu masuk. Selain menjadi bentuk penghormatan, Salempot ini juga dipercaya sebagai pengikat niat-niata buruk dalam jiwa manusia.

Pesona Indonesia Decak Kagum untuk Tari Kecak Uluwatu

Selain harus mengenakan Salempot, wisatawan di Pura Luhur Uluwatu juga harus hati-hati karena monyet-monyet di Uluwatu cukup nakal. Menurut pemandu kami, monyet di Uluwatu lebih liar dibanding monyet di Monkey Forest Ubud. Wisatawan tidak boleh memberi makanan atau menarik perhatian monyet-monyet itu.

Jika ada upacara besar, monyet-monyet itu harus diberi Piodalan, makanan yang diberi mantra penjinak seperti pisang dan umbi-umbian, agar tidak mengganggu umat yang sembahyang. Jika sudah diberi Piodalan, monyet-monyet itu akan masuk ke hutan dan tidak mengganggu umat yang bersembahyang dan wisatawan yang datang.

Monyet-monyet itu tinggal di sebuah hutan yang bernama Alas Kekeran, artinya Hutan Larangan. Konon Alas Kekeran seluas 13 hektar itu merupakan penyangga kesucian Pura Luhur Uluwatu. Karena itu pengelola pura suci itu menolak tawaran para investor yang ingin mendirikan fasilitas pariwisata di kawasan Alas Kekeran itu.

Bagi wisatawan yang ingin menginap di sekitar Pura Luhur Uluwatu, ada Puri Uluwatu Villas yang berjarak sekitar 500 meter. Sebelum pintu masuk Pura Luhur Uluwatu, berbelok ke arah utara menuju Jalan Pantai Suluban. Wisatawan juga bisa melihat langsung panorama sunset dari kamar hotel ini.

Pesona Indonesia Decak Kagum untuk Tari Kecak Uluwatu

Berjalan sekitar 100 meter dari pintu masuk, saya melihat sebuah patung yang berada di sebelah kanan jalan. Patung bernama Kumbakarna Karebut itu ternyata baru saja selesai dibangun untuk menjadi daya tarik bagi bagi wisatawan. Patung Kumbakarna Karebut itu mulai dibangun bulan Juli 2015 dan selesai bulan November 2015 lalu.

Saya merasa beruntung datang ke Pura Luhur Uluwatu beberapa hari setelah Patung Kumbakarna Karebut diresmikan. Patung Kumbakarna Karebut memiliki tinggi 5 meter dan berat 6 ton serta ditopang empat pilang setinggi 15 meter. Di sekeliling Patung Kumbakarna Karebut juga ada banyak patung monyet dan sebuah kolam.

Patung Kumbakarna Karebut itu berada dekat dengan tangga menuju bangunan utama Pura Luhur Uluwatu. Pura Luhur Uluwatu memiliki beberapa bangunan utama yang memiliki kegunaan masing-masing. Umat bisa bersembahyang di Pura Jurit Uluwatu, Pura Penyawang Jurit Uluwatu, dan Pura Dalem Uluwatu.

Bale Perantenan digunakan untuk balai peristirahatan, memasak makanan selama upacara, dan pos jaga para pecalang. Bale Kulkul merupakan menara untuk menggantukan Kulkul, semacam kentongan khas Bali. Sementara Bale Gong digunakan untuk tempat para penabuh gamelan. Ada juga sebuah gapura besar bernama Candi Kurung.

Pesona Indonesia Decak Kagum untuk Tari Kecak Uluwatu

Yang paling menarik wisatawan tentunya bangunan Meru Tumpang Tiga karena posisinya berada di ujung batu karang yang menjorok ke laut. Meru Tumpang Tiga ini didirikan untuk pemujaan Desa Siwa Rudra. Dari Meru Tumpang Tiga itu, wisatawan bisa melihat pemandangan lautan luas yang sangat indah.

Setelah berkeliling di Pura Luhur Uluwatu, wisatawan bisa menyusuri pinggiran tebing karang sebelah selatan yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Di bawah tangga pintu keluar terdapat bangunan Wantilan Jaba Sisi yang biasa digunakan untuk tempat peristirahatan umat yang bersembahyang.

Kalau musim hujan, Wantilan Jaba Sisi juga digunakan untuk pertunjukan Tari Kecak Uluwatu karena panggung utamanya tidak memiliki atap. Bangunan seluas 6 x 15 meter itu bisa menampung sekitar 300 orang. Untungnya hujan tidak turun saat saya berkunjung ke Pura Luhur Uluwatu. Langit begitu cerah saat matahari perlahan turun.

Saya pun bergegas menuju panggung utama Tari Kecak Uluwatu yang letaknya sekitar 100 meter ke arah selatan. Panggung utama Tari Kecak Uluwatu sudah hampir penuh saat saya sampai. Hanya ada beberapa tempat kosong di bagian atas. Dari tempat saya duduk, Meru Tumpang Tiga tampak berdiri kokoh di atas batu karang.

Pesona Indonesia Decak Kagum untuk Tari Kecak Uluwatu

Panggung utama Tari Kecak Uluwatu didesain dengan sempurna. Panggung terbuka itu berbentuk setengah lingkaran. Ada sebuah gapura di depan panggung menghadap langsung ke lautan yang menjadi pintu masuk bagi para penari. Suara deburan ombak yang menghantam tebing karang di bawahnya terdengar dari panggung itu.

Dengan panggung berbentuk setengah lingkaran, tempat duduk penonton disusun seperti tribun stadion bola. Meski tidak bisa digunakan saat musim hujan, panggung utama Tari Kecak Uluwatu tetap dibiarkan terbuka karena ingin menyatu dengan alam sekitar. Panggung utama ini bisa memuat sekitar 1.400 penonton.

Akhirnya pertunjukan Tari Kecak Uluwatu dimulai dengan masuknya 70 penari pria yang mengenakan kain kotak-kotak hitam-putih seperti papan catur. Puluhan penari itu duduk mengelilingi api yang ditempatkan di sebuah kayu ukiran. Suara “Cak Cak Cak” mulai memecah keheningan senja di Uluwatu sore itu.

Suara serempak dari para penari Kecak itulah yang membuat tarian ini istimewa. Tidak seperti tari lain yang diiringi alat musik seperti gamelan, Tari Kecak Uluwatu hanya diiringi paduan suara para penarinya. Di sebuah pura suci dan saat matahari hampir terbenam, suara-suara para penari Kecak itu terdengar magis.

Pesona Indonesia Decak Kagum untuk Tari Kecak Uluwatu

Tari Kecak Uluwatu

Tari Kecak Uluwatu merupakan tari sakral “Sang Hyang” di mana penarinya menjadi media penghubung para dewa atau leluhur untuk menyampaikan sabdanya. Namun kemudian Tari Kecak Uluwatu disisipkan cerita Ramayana. Karena itulah selain 70 penari Kecak itu ada juga penari yang berperan sebagai Rama, Sinta, Laksmana, Rahwana, Anoman, dan Sugriwa.

Di awal pertunjukan, seekor Kijang Emas muncul di depan Rama dan Sinta. Rama lalu mengejar Kijang Emas itu. Tidak lama kemudian terdengar suara seperti Rama meminta tolong. Laksmana pun akhirnya meninggalkan Sinta seorang diri. Rahwana yang menyamar menjadi Bhagawan akhirnya menculik Sinta ke Taman Istana Alengka.

Burung Garuda gagal menyelamatkan Sinta, sementara Rama dan Laksmana masih tersesat di hutan Ayodya Pura. Rama lalu mengutus Hanoman menyelamatkan Sinta. Bahkan Hanoman akhirnya mengobrak-abik istana Rahwana. Di akhir cerita, Hanoman ditangkap dan dibakar, namun dengan kesaktiannya Hanoman tidak mati.

Selama pertunjukan, gendang telingan penonton seolah disihir oleh mantra Kecak yang bersahutan dengan tempo naik turun. Apalagi saat Hanoman mengobrak-abrik bara api saat ia dibakar. Sihir itu pula yang membuat saya melupakan matahari yang ternyata sudah terbenam beberapa menit lalu. Pertunjukan yang mengagumkan!

Terima kasih Kementrian Pariwisata Republik Indonesia yang sudah mengajak kami menikmati keindahan #PesonaIndonesia #SaptaNusantara

6 Comments

  1. nengbiker December 14, 2015
  2. Gusde March 16, 2016
  3. darah tinggi May 4, 2016
  4. arlan May 16, 2016
  5. Antonius Sutandy May 31, 2016
  6. Hanindya February 10, 2017

Leave a Reply