#PesonaIndonesia: Menilik ‘Sang Naga’ Komodo Nan Eksotik

Pesawat TransNusa jenis Fokker 50 yang saya tumpangi dari Bandara Internasional Lombok mendarat mulus di Bandara Komodo pada Rabu sore, 18 November 2015. Saat saya datang, Bandara Komodo tengah berbenah karena statusnya akan ditingkatkan menjadi bandara internasional. Landasan pacu diperpanjang dan beberapa sarana prasarana di terminal bandara dilengkapi.

Sesuai namanya, Bandara Komodo menjadi pintu masuk wisatawan yang ingin jalan-jalan ke Pulau Komodo. Dari Bandara Komodo, wisatawan menuju Pelabuhan Labuhan Bajo yang berjarak sekitar 3,5 km. Di Pelabuhan Labuan Bajo, wisatawan bisa naik kapal menuju Pulau Komodo.

Labuan Bajo awalnya hanya sebuah desa kecil di ujung barat laut Pulau Flores. Saat pemekaran Kabupaten Manggarai Barat pada tahun 2003, Desa Labuan Bajo “naik status” menjadi ibukota Kecamatan Komodo sekaligus ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Sejak saat itu pembangunan di Labuan Bajo bergerak cepat.

Pelabuhan Labuan Bajo yang menjadi pintu masuk menuju Pulau Komodo pun semakin besar. Menurut sejarahnya, Labuan Bajo awalnya hanya pelabuhan kecil yang dipakai oleh para pedagang dari Bajo, Sulawesi. Saat ini Labuan Bajo sudah memiliki dermaga ferry dan Pelabuhan PELNI yang besar.

Tidak hanya pelabuhan, Labuan Bajo juga menyediakan beberapa hotel berbintang untuk para wisatawan. Wisatawan bisa memilih hotel The Jayakarta Suite Komodo Flores, Golo Hilltop Hotel, La Prima Hotel, Luwansa Beach Resort, Seraya Hotel and Resort, dan Bintang Flores Hotel. Saya menginap di Bintang Flores Hotel yang berjarak 2,5 km dari Pelabuhan Labuan Bajo.

Sebelum check-in di Bintang Flores Hotel, saya dan tim Pesona Indonesia menikmati panorama sunset di Paradise Bar. Paradise Bar ini terletak di atas bukit pinggir pantai, tidak jauh dari Golo Hilltop Hotel. Wisatawan bisa menikmati sunset sambil duduk santai dari Paradise Bar.

Sambil menunggu sunset, wisatawan bisa menikmati pemandangan kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Labuan Bajo. Matahari pun pelan-pelan terbenam di balik pulau-pulau kecil seperti Pulau Bojo, Pulau Tenga, Pulau Salama, Pulau Tebolon, dan Pulau Kokotoan.

Selain dari Paradise Bar, wisatawan juga bisa menikmati sunset dari pinggir pantai dengan menuruni tangga. Wisatawan bisa menikmati sunset dari sebuah dermaga milik warga berkebangsaan Perancis. Di Dermaga Jembatan Putih itu, panorama sunset semakin indah berpadu dengan cahaya lampu.

Selepas menikmati sunset dari Paradise Bar, kami menuju Atlantis BeachClub by Plataran. Restoran ini terletak di Pantai Pede, dekat dengan Puri Sari Beach Hotel. Sesuai namanya, Atlantis BeachClub by Plataran berbentuk kapal kayu. Dengan desain unik itu, Atlantis BeachClub by Plataran seperti kapal yang terdampat di Pantai Pede.

Selain desain bangunannya yang menarik, semua masakan Atlantis BeachClub by Plataran disajikan seorang chef berkebangsaan Italia. Namun tidak hanya masakan Italia yang disajikan, masakan-masakan khas Indonesia juga menjadi menu favorit di Atlantis BeachClub by Plataran.

Rendang dan Cah Kankung yang saya makan rasanya lezat sekali. Selain itu wisatawan juga bisa mencicipi Lumpia, Gado-gado, Nasi Goreng, Ayam Geprak Bumbu Kuning, Sate Ayam, Sate Sapi, Nasi Bakul, Tahu, Tempe Mendoan, dan Cah Buncis.

Sebenarnya waktu terbaik mengunjungi Atlantis BeachClub by Plataran adalah menjelang sunset. Selain menikmati santapan lezat, wisatawan juga menikmati sunset dari tepi Pantai Pede. Turun dari kapal kayu, wisatawan bisa duduk-duduk di tepi kolam renang kecil yang menghadap langsung ke pantai.

Pesona Indonesia Menilik Sang Naga Komodo Nan Eksotik

Setelah beristirahat di Bintang Flores Hotel, keesokan harinya kami bersiap menuju Pulau Komodo. Cuaca begitu cerah saat kami tiba di Pelabuhan Labuan Bajo. Wisatawan memiliki banyak pilihan kapal untuk menuju Pulau Komodo dan pulau-pulau lain di Kawasan Taman Nasional Komodo.

Kapal yang menjadi perintis pariwisata Pulau Komodo adalah berjenis deck boat yang biasa digunakan untuk perjalanan Live on Board minimal selama 2 hari 1 malam. Wisatawan akan bermalam di deck utama dilengkapi matras, selimut, dan bantal. Deck Boat dilengkapi toilet kecil yang hanya digunakan untuk buang air, cuci muka, dan gosok gigi.

Ada juga kapal Phinisi yang memiliki fasilitas lebih lengkap. Kapal Phinisi ini dilengkapi kabin lengkap dengan tempat tidur. Selain itu kapal Phinisi ini juga memiliki persediaan air tawar yang cukup sehingga wisatawan bisa mandi di kapal. Selain itu fasilitas mewah seperti AC, WiFi, dan Sun Deck untuk berjemur juga tersedia.

Selain itu ada juga kapal yacht mewah yang dilengkapi private shower. Saya dan rombongan Indonesia.Travel memilih naik speed boat karena kami akan melakukan perjalanan fullday yaitu berangkat pagi dan pulang sore. Kapal ini bisa membawa 15-20 orang yang bisa duduk di dalam kabin, deck depan, deck belakang, dan bahkan di atas kabin.

Pesona Indonesia Menilik Sang Naga Komodo Nan Eksotik

Saya duduk di deck belakang karena lebih nyaman dan bisa duduk santai sambil menikmati panorama pulau-pulau kecil di Kawasan Taman Nasional Komodo. Dari deck belakang sebelah kiri, saya bisa melihat Pulau Kanawa yang memiliki Kanawa Island Resort, Restoran Starfish, dan PADI Diving Center.

Setelah Pulau Kanawa, saya juga melihat Pulau Messa yang bisa dikenali dari masjid yang letaknya lebih tinggi dari rumah-rumah penduduk. Pulau Messa adalah salah satu pulau berpenghuni dengan jumlah penduduk mencapai 200 kepala keluarga. Rumah-rumah penduduk kebanyakan berada tepat di tepi pantai.

Tidak jauh dari Pulau Messa, ada Pulau Sebayur Besar dan Pulau Sebayur Kecil. Di Pulau Sebayur Kecil juga ada sebuah resort. Jika sudah melewati Pulau Sebayur Kecil, itu artinya wisatawan sudah memasuki Kawasan Taman Nasional Komodo.

Pulau Tatawa adalah pulau pertama yang saya lihat setelah memasuki Kawasan Taman Nasional Komodo. Sementara itu di sebelah kanan sudah terlihat Pulau Komodo, namun pintu masuk ke Pulau Komodo yaitu Loh Liang masih jauh.

Pesona Indonesia Menilik Sang Naga Komodo Nan Eksotik

Setelah itu saya melihat tiga batu besar di tengah-tengah laut yang oleh warga setempat disebut Batu Tiga. Jika dilihat dari peta, Batu Tiga itu berada di tengah-tengah Kawasan Taman Nasional Komodo. Batu Tiga itu berada di antara tiga pulau utama yaitu Pulau Komodo, Pulau Padar, dan Pulau Rinca.

Speed boat terus menyusuri pantai Pulau Komodo yang berada di sisi kanan. Akhirnya setelah satu setengah jam, kami sampai di Loh Liang yang merupakan pintu masuk Pulau Komodo. Loh artinya Teluk dan Liang artinya lubang atau sarang, jadi Loh Liang artinya Teluk Sarang. Mungkin nama itu diberikan karena banyaknya lubang atau sarang komodo di pulau itu.

Kami selanjutnya dibagi menjadi beberapa kelompok untuk trekking Pulau Komodo. Setiap kelompok terdiri dari 8-10 orang dan akan ditemani oleh dua jagawana atau ranger. Ada empat pilihan trek yang bisa dipilih wisatawan yaitu Short Trek, Medium Trek, Long Trek, dan Adventure Trek.

Short Trek sejauh 1 km bisa ditempuh selama setengah jam melalui Palm Grove dan Frigate Hill. Medium trek sejauh 3 km bisa ditempuh selama 1,5 jam melalui Palm Grove, Water Hole, Sulphurea Hill, dan Frigate Hill. Long trek sejauh 4,5 km bisa ditempuh selama 2,5 jam melalui Palm Grove, Water Hole, Megapode Nest, dan Dragon Nest.

Jika wisatawan ingin berpetualangan dan memiliki waktu banyak, pilihan Adventure Trek sangat tepat. Tujuan utama Adventure Trek ini adalah puncak Gunung Arah setinggi 580 mdpl. Dari atas puncak Gunung Ara, wisatawan bisa melihat hampir semua pulau di Kawasan Taman Nasional Komodo.

Saat pembagian kelompok trekking, kami disambut seekor anak komodo yang berjalan melewati pos masuk Pulau Komodo. Tidak lama kemudian juga lewat seekor komodo yang besar. Saya kemudian ikut kelompok yang mengambil Medium Trek.

Baru berjalan sekitar seratus meter memasuki Palm Grove, kami menemukan seekor rusa yang merupakan santapan untuk para komodo. Beberapa rusa tampak berteduh di antara pepohonan di savana Pulau Komodo yang gersang. Pohon lontar banyak ditemukan di Pulau Komodo.

Pohon lontar sangat berguna untuk anak-anak komodo. Setelah menetas, anak komodo secara naluriah akan memanjat pohon lontar agar tidak dimakan hewan besar lainnya. Anak komodo itu tingga selama 2-3 tahun di atas pohon lontar sampai bisa bertahan hidup di atas tanah. Selama di atas pohon, anak komodo makan binatang-binatang kecil seperti serangga, tokek, dan belalang.

Pesona Indonesia Menilik Sang Naga Komodo Nan Eksotik

Komodo

Ada 84 pulau yang masuk dalam Kawasan Taman Nasional Komodo. Namun hanya ada beberapa pulau berukuran cukup besar dan berpenghuni yaitu Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Di sekitar Water Hole, akhirnya kami bertemu dengan seekor komodo besar. Di lokasi itu biasanya komodo mengincar rusa yang sedang mencari air.

Komodo itu berjalan berlawanan arah dari kami sehingga kami harus memberinya jalan terlebih dahulu. Berkat para ranger yang membawa tongkat bercabang dua, kami bisa menyaksikan komodo dari jarak aman sekitar 5 meter. Rasanya luar biasa bisa menilik ‘sang naga” komodo yang berjalan pelan lalu menjulurkan lidahnya. Sang naga itu benar-benar nyata.

Menurut sejarah, hewan purbakala bermarga Varanus itu hidup di daratan Asia sejak 40 juta tahun lalu. ‘Sang naga’ lalu bermigrasi ke daratan Australia. Namun pada 15 juta tahun lalu, saat terjadi pergerakan lempeng Australia dan Asia, ‘sang naga‘ berpindah ke pulau yang kemudian dikenal dengan Pulau Komodo.

Jejak ‘sang naga‘ ditemukan armada kapal Belanda pada tahun 1910 saat menyusuri Kepulauan Sunda Lesser. Peter A. Ouwens, Direktur Museum Zoologi Bogor, lalu mempublikasikan ‘sang naga‘ melalui disertasinya. Peter A. Ouwens memberikan nama latin Varanus Komodoensis untuk satwa purba yang eksotik ini.

Pesona Indonesia Menilik Sang Naga Komodo Nan Eksotik

Keberadaan satwa purbakala yang bertahan sampai zaman modern ini menjadikan Taman Nasional Komodo sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Komodo merupakan spesies kadal terbesar di dunia yang bisa mencapai panjang 3 meter dan berat 90 kg.

Salah satu yang menyebabkan lestarinya satwa purbakala ini adalah komodo betina bisa meneruskan keturunan tanpa komodo jantan yaitu dengan cara reproduksi aseksual partenogenesis. Komodo bisa bertahan hidup karena bisa menyelam hingga 4,5 meter dan bisa berlari hingga kecepatan 20 km per jam.

Komodo bisa dengan mudah memanjat pohon dengan cakarnya yang kuat. Komodo juga bisa berdiri dengan dua kaki belakangnya dan ditopang ekornya untuk menangkap mangsa di luar jangkauannya. Komodo bisa mencium dan menemukan hewan sekarat atau mati dalam jarak radius 9,5 km.

Namun yang menjadi tantangan komodo adalah burung Gagak Flores (Corvus florensis) yang sering mencuri dan memakan telur komodo. Burung gagak itu bisa dengan mudah saya temui di sekitar pos masuk Pulau Komodo. Namun Gagak Flores juga dalam status terancam punah sehingga dilindungi.

Pesona Indonesia Menilik Sang Naga Komodo Nan Eksotik

Setelah puas melihat komodo dari jarak cukup dekat, kami melanjutkan ke titik selanjutnya yaitu Sulphurea Hill. Sulphurea Hill merupakan bukit tertinggi di area trekking Pulau Komodo. Dari bukit itu, saya bisa melihat Teluk Loh Liang. Setelah puas menikmati panorama teluk Komodo, kami menuruni bukit.

Kami akhirnya kembali ke arah pantai yang sejajar dengan dermaga Pulau Komodo tadi. Berbelok ke arah kanan, kami kembali melihat beberapa komodo di bawah bangunan restoran. Semua komodo di situ tampak tertidur di siang yang terik. Kami pun kembali ke pos masuk dan mengakhiri trekking itu.

Sambil menunggu teman-teman selesai trekking, saya berkeliling di sebelah kanan dari dermaga. Di sana ada beberapa warung dan toko aksesoris. Ada kalung mutiara, gelang, patung komodo, dan kaos. Saya hanya membeli kaos oleh-oleh bergambar komodo untuk anak.

Setelah meninggalkan Loh Liang, kami menuju Pantai Pink atau Pink Beach yang masih berada di kawasan Pulau Komodo. Pantai Pink berada dibalik ujung timur Teluk Loh Liang sehingga bisa dicapai dalam hitungan menit. Karena pantainya landai, speed boat tidak bisa bersandar dan kami turun beberapa meter dari bibir pantai.

Pesona Indonesia Menilik Sang Naga Komodo Nan Eksotik

Siang itu matahari terik sekali, pasir pantai terasa panas dan begitu juga dengan jalur trekking menuju bukit di atas Pink Beach. Sebelum snorkeling, kami menyantap makan siang di bawah pohon yang berada di ujung barat pantai tersebut. Setelah dua kali trekking, tidak terasa saya makan banyak siang itu. 🙂

Setelah perut kenyang, saya langsung snorkeling karena tidak mau menyia-nyiakan waktu yang hanya beberapa jam di Pink Beach. Sebelum dikenal sebagai Pink Beach, pantai ini awalnya bernama Pantai Merah. Pasir di pantai ini memang berwarna merah muda atau pink yang dihasilkan oleh hewan mikroskopik Foraminifera.

Selain pasirnya yang berwarna pink, pemandangan bawah laut Pink Beach juga sangat indah. Terumbu karang yang dihuni ikan-ikan warna-warni masih bisa ditemukan. Untuk menjaga terumbu karang ini, kapal-kapal wisatawan tidak boleh bersandar. Para wisatawan akan diantarkan dengan kapal-kapal kecil menuju pantai.

Rasanya belum puas menikmati indahnya bawah laut Pink Beach, namun rombongan harus melanjutkan perjalanan menuju Pulau Rinca. Oh ya, karena tidak ada penyewaan alat snorkeling di Pink Beach, wisatawan harus membawa sendiri atau menyewa di Labuan Bajo saat berangkat.

Dari Pink Beach, perjalanan menuju Pulau Rinca kembali melewati Batu Tiga kemudian memutar ke arah kanan. Loh Buaya yang menjadi pintu masuk ke Pulau Rinca juga berbentuk teluk seperti Loh Liang. Konon warga setempat mengira komodo adalah buaya sehingga menemai teluk itu Loh Buaya yang artinya Teluk Buaya.

Tidak landai seperti pantai di Loh Liang, pantai di Loh Buaya merupakan pantai mangrove. Mangrove di pintu masuk Pulau Rinca itu sangat lebat. Air di sekitar dermaga Loh Buaya cukup jernih sehingga ikan-ikan tampak dari atas dermaga. Seperti Pulau Komodo, Pulau Rinca adalah habitat komodo.

Ada tiga pilihan trekking untuk melihat komodo di Pulau Rinca yaitu Short Trek selama setengah jam, Medium Trek selama satu jam, dan Long Trek selama dua jam. Di awal trekking, kami langsung melihat banyak komodo yang berada di bawah rumah panggung. Beberapa tidur dan ada beberapa yang “menyambut” kami.

Meski masih satu spesies, komodo di Pulau Rinca berukuran lebih kecil dari komodo di Pulau Komodo. Mungkin karena ukurannya lebih kecil, komodo di Pulau Rinca ini lebih agresif. Karena itu ranger mengingatkan kami untuk tidak berlari atau membuat gerakan yang menarik perhatian komodo.

Pesona Indonesia Menilik Sang Naga Komodo Nan Eksotik

Setelah melewati jalur trekking yang cukup rindang, kami menemukan lubang atau liang yang menjadi tempat tinggal komodo. Komodo menggali lubang sedalam 1-3 meter untuk tempat berlindung dan juga untuk menjaga panas tubuhnya saat malam hari.

Setelah melewati jalur trekking yang penuh pepohonan, kami menaiki bukit yang hanya ditanami rerumputan dan beberapa pohon lontar. Begitu sampai di atas bukit, kami bisa melihat panorama Pulau Rinca dari atas. Dermaga Loh Buaya terlihat dari panorama point di atas bukit itu.

Saat menuruni bukit itu, kami melewati pohon yang menjadi satu-satunya pohon di bukit itu. Konon pohon itu dinamakan Pohon Cinta oleh para ranger. Di dekat pohon itulah para ranger biasa menelepon pacar atau istri karena hanya di situlah mereka memperoleh sinyal.

Kami pun turun dan menikmati panorama sunset dari pos Loh Buaya. Saat matahari perahan terbenam, kami pun mulai meninggalkan Pulau Rinca. Dalam perjalanan pulang itu, saya melihat kapal Phinisi bernama Cheng Ho. Saya lalu teringat dengan perjalanan saya ke Klenteng Sam Poo Kong seminggu sebelumnya.

Pesona Indonesia Menilik Sang Naga Komodo Nan Eksotik

Dalam perjalanan pulang menuju Labuan Bajo itu, saya duduk di atas kabin speed boat. Memandangi langit senja di balik Pulau Rinca sambil berdoa semoga ‘sang naga’ selalu lestari. Berkat satwa purbakala itu, nama Indonesia dikenal ke seluruh dunia. Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia.

Terima kasih Kementrian Pariwisata Republik Indonesia yang sudah mengajak kami menikmati keindahan #PesonaIndonesia #SaptaNusantara

2 Comments

  1. nengbiker December 14, 2015
  2. kodokngepot.com May 19, 2016

Leave a Reply