Pesona Wamena Di Kaki Langit

Banyak surprise menunggu di Lembah Baliem. Tempat yang begitu cantik dan menyimpan berjuta misteri.

Udara dingin menyergap saat kaki menjejak lapangan udara Wamena. Setelah berganti pesawat tiga kali dari Jakarta, disambung perjalanan mobil 1,5 jam, sampailah aku di Lembah Baliem. Lembah yang menyimpan berjuta misteri dan kekayaan budaya suku asli tertua dan terbesar di Papua, suku Dani.

Ditemani local Guide, Tarry Lonna Yikwa, aku mendapatkan surprise luar biasa. Tarry mengajakku ke desa Jiwika, kampung Sompatima, menemui kepala suku Dani. Dalam perjalanan, kami berjumpa Tuan Konono Mabel, yang memperlihatkan mummi Kurulur berumur lebih dari 3000 tahun. Pada leher mummi yang diawetkan dengan posisi jongkok tersebut, terdapatlilitan kalung yang setiap 5 tahun d tambahkan, untuk menandai umur mummi tersebut.

Memasuki Desa Jiwika, aku dikagetkan dengan tarian perang-perangan. Mereka mengerumuniku. Rasa khawatir melanda, mataku mencari-cari Tarry, berharap ia tak meninggalkanku. Ah, ternyata dia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya, mengisyaratkan aku tak perlu khawatir.

Tanganku disambut salah satu anak muda, yang ternyata anak kepala suku Tuan Yalli Mabel. Sang kepala suku memakai hiasan kepala bulu kasuari, bulu kus kus di lengan, ekor babi, taring babi, dan koteka. Badannya dilumuri arang dan minyak babi. Sambil membawa tombak dan panah, tuan Yalli (58 tahun) mempersilakan aku memasuki desanya. Matanya yang memancarkan keramahan dan ketulusan menghilangkan keraguan dan kekuatiranku.

Wajahnya selalu tersenyum dan kharisma kuat terpancar pada saat ia menjabat tanganku dan mengatakan ‘kinawonak’ (selamat datang) dan ‘wawawa, wawawa’, ucapan terima kasih akan kehadiranku. Aku diajarinya unutk membalas ucapannya dengan bahasa yang sama.

‘Tur’ Honai

Kepala suku memperlihatkan desanya yang terdiri dari dari rumput alang-alang), yaitu 4 honai untuk perempuan, 1 honai untuk laki-laki, dan 1 honai memanjang untuk dapur dan menyimpan babi. Tinggi honai sekitar 2 meter dengan 2 tingkat di dalamnya, yang dapat menampung 4 orang dewasa dan 2 anak-anak. Aku memasuki salah satu honai, di dalamnya terdapat tungku pemanas, selebihnya kosong.

Di desa tersebut, aku beruntung dapat menyaksikan bakar batu untuk memasak ubi dan daging babi. Diperlukan 1 jam proses bakar batu untuk mereka yang sehari-harinya hanya makan 2 kali, pagi dan siang atau malam. Makanan pokok suku Dani adalah ipere, eroom, mbi, sejenis ubi, dan keladi (koom). Sementara mata pencaharian mereka bercocok tanam padi, ubi-ubian, sayur, dan buah-buahan.

Setiap kali desa tersebut membuka diri untuk tamu, terdapat gelaran pasar kerajinan dari desa Jiwika antara lain kalung, gelang, noken (sejenis tas untuk membawa hasil kebun yang biasa ditaruh di atas kepala), manik-manik, koteka, dan tempat minum dari buah labu. Aku membeli beberapa manik-manik dan noken berwarna-warni sebagai oleh-oleh. Koteka yang menjadi ciri khas dari suku Dani ternyata dapat dipakai hingga 5-10 tahun! Tentunya tergantung dari kondisi tersebut.

Aku sempat bertanya, kapan seorang anak laki-laki mulai memakai koteka ternyata anak umur 8 tahun baru diperkenankan untuk memakai koteka tersebut. Mereka memilih panjang pendeknya koteka tergantung dari buahnya, sejenis labu. Sementara perempuan memakai sali (semacam rok berupa rumbai-rumbai dari daun) pada umur 6 tahun yang dapat dipakai sekitar 2-3 tahun.

Seorang ibu-ibu tiba-tiba menghampiri dan memegang tanganku. Badan dan mukanya dilumuri tanah liat berwarna, menandakan ia sedang berduka cita. Dan tanda keluarga dekat meninggal, salah satu jari tangan dipotong.

Mas Kawin Babi

Ada tradisi mas kawin yang unik. Babi adalah hewan sakral yang dapat menjadi mas kawin. Hampir aku ditawar untuk ditukar dengan 15 ekor babi. Wajahku langsung berubah pucat, namun melihat pandangan jenaka dari kepala suku, membuatku menghela nafas lega. Tapi memang benar, untuk mas kawin, satu perempuan dihargai sampai 5 ekor babi besar. Dan tuan Yalli Mabel memiliki 4 orang istri!

Perasaanku mengunjungi Wamena dan bertemu dengan suku Dani sungguh tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Serasa berada di dunia lain, tak terjamah dunia luar. Langit biru terang dengan padang rumput dan lembah hijau di sepanjang jalan, keriaan dan ramahnya penduduk desa, wajah anak-anak yang polos, kakek, nenek tua yang kutemui, selalu menyapaku. Lambaian tangan mereka dan genggaman tangan anak kepala suku. Membayangi langkahku meninggalkan perasaan mengahri biru. Tuhan, betapa mulai karyamu. Selamat tinggal, Wamena! (Sumber: Femina)

2643 Total Views 2 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply