Pulau Enggano Bengkulu Yang Menawan

Pulau Enggano menawarkan suasana alam yang asri di tengah lautan. Pulau Enggano adalah salah satu pulau terluar di Indonesia yang terletak di Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Pulau Enggano secara administratif terdiri dari 3 pulau kecil yaitu Pulau Dua, Pulau Bangkai, dan Pulau Merbau. Kecamatan Enggano terbagi dalam 6 Desa yaitu Desa Kahyapu, Desa Kaana, Desa Malakoni, Desa Apoho, Desa Meok, dan Desa Banjar Sari.

pulau enggano

Dari Pelabuhan Pulau Bai, Kota Bengkulu, Anda membutuhkan waktu sekitar 12 jam untuk sampai di Pulau Enggano. Kapal Motor Penyeberangan Raja Enggano akan mengantarkan Anda sampai di Dermaga Kahyapu. Perjalanan kapal fery menuju Pulau Enggano hanya dua kali dalam satu minggu. Pulau Enggano belum memiliki fasilitas penginapan dan rumah makan yang memadai. Namun Anda tidak perlu khawatir karena penduduk Enggano sangat terbuka dan ramah terhadap pendatang. Jika ada pengunjung yang belum memiliki kenalan di Pulau Enggano, mereka tinggal datang saja kepada kepala desa atau kepala suku setempat. Para pemuka masyarakat tersebut akan memberi tumpangan dan makanan kepada pengunjung tersebut. Makanan yang biasa disuguhkan masyarakat Enggano adalah nasi dari padi gogo dan ikan.

Pulau Enggano yang memiliki luas sekitar 40 km persegi ini banyak menyimpan potensi alam yang luar biasa. Pulau Enggano memiliki kawasan hutan wisata dan konservasi hutan buru Gunung Nanu’ua seluas 10.000 Ha, dengan aneka jenis flora fauna langka dan target sasaran pemburuan adalah babi hutan, sapi liar, dan kerbau liar. Pulau Enggano memiliki pantai yang indah dengan taman laut yang mengandung beraneka ragam ikan hias dengan karang laut yang indah dan berwarna-warni.

Pulau yang sebagian besar penduduknya adalah nelayan dan petani kelapa sawit ini secara ekologi sangat kaya dengan sumber daya alam, baik yang terdapat di daratan maupun di lautnya. Pulau Enggano merupakan pulau yang masih alami dan belum banyak tersentuh orang berkunjung ke sana sehingga keaslian kondisi alamnya masih terjaga. Tetapi ekosistem Pulau Enggano rentan rusak karena struktur pulaunya yang tersusun dari batu karang dengan ketebalan tanah permukaan sangat tipis, hanya 1-2 meter saja.

Ketika Cornelis de Houtman mengunjungi pulau ini pada 5 juni 1596, pulau ini telah dinamakan pulau Enggano. Kata “Engano” berasal dari bahasa Portugis yang berarti ”keliru” atau  “kecewa”. Namun Anda tidak akan kecewa jika Anda datang ke pulau ini karena Pulau Enggano menawarkan berbagai keindahan alam yang tak akan dapat Anda lupakan.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Enggano, Anda langsung dapat melihat hamparan pasir putih yang mengelilingi pulau ini. Jalan-jalan di Pulau Enggano bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau dengan menyewa kapal milik warga setempat untuk mengelilingi Pulau Enggano.

Berjalan kali bisa jadi cara terbaik untuk menyusuri dan menikmati indahnya Pulau Enggano. Keindahan terumbu karang dengan berjenis-jenis ikan lautnya dapat dilihat dengan mudah hanya dengan berdiri di atas gugusan karang terdekat. Anda juga bisa membenamkan diri dalam kenikmatan sensasi pantai dengan berenang, menangkap ikan, membakar ikan, memetik kelapa, berlarian kesana kemari, dan duduk di pasir puti dengan rasa santai yang damai.

Selain menikmati pemandangan luas dan birunya Samudera Indonesia, Anda juga dapat menemui objek wisata di dalam Pulau Enggano. Di Pulau Enggano terdapat dua obyek wisata, yaitu Taman Burung Gunung Nanu’ua dan Pantai Humo. Di Taman Burung Gunung Nanu’ua yang terdapat  di sebelah selatan Pulau Enggano itu terdapat dua spesies burung langka. Kedua jenis burung  yang hanya dapat Anda temui di pulau ini adalah Burung Kacamata Enggano dan Burung Celepuk Enggano. Selain di Taman Burung Gunung Nanu’ua, spesies burung sebaran-terbatas itu juga sesekali dapat dijumpai di lahan pertanian, terutama perkebunan kelapa, dan lahan-lahan terbuka di sekitar perkampungan.

Pantai Humo terkenal dengan hamparan pasir putihnya yang halus ini memiliki ekosistem laut yang cukup kaya. Di sepanjang bibir pantai, Anda dapat menjumpai banyak kepiting dan hewan-hewan kecil bercangkang yang berkeliaran secara bebas. Di pantai ini juga hidup berbagai jenis ikan-ikan kecil berwarna-warni yang sering berenang di tepi pantai dan dapat dilihat dengan mata telanjang. Yang paling sering dijumpai adalah ikan berwarna biru dengan strip kuning-putih dan ikan berwarna merah dengan variasi putih dan perak di tubuhnya.

Pantai Humo yang memanjang sekitar dua kilometer dari utara ke selatan ini juga memiliki kumpulan karang. Oleh masyarakat setempat kumpulan karang itu disebut tubiran. Tubiran digunakan sebagai titian untuk berjalan agak ke tengah laut. Tubiran yang mirip dermaga ini juga sering digunakan oleh pengunjung dan masyarakat setempat sebagai tempat memancing. Lokasinya yang menjorok ke laut membuat tubiran ini menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan laut.

Selain memiliki dua lokasi wisata yang indah tersebut, Pulau Enggano juga memiliki keistimewaan lainnya, yaitu hutan bakau yang sangat lebat yang secara alamiah berfungsi sebagai penahan laju abrasi pantai. Di hutan bakau ini, hidup beraneka jenis burung, seperti burung pelatuk, burung pergam enggano, burung beo, burung nuri, burung kakatua, dan berbagai jenis burung lainnya.

Pulau Enggano juga memiliki bangunan bersejarah berupa benteng peninggalan masa penjajahan yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Benteng itu terdapat di Desa Malakoni dan Apoho. Sebagian bangunan tersebut masih utuh dan memerlukan perawatan untuk menjaga keasriannya serta dapat menghindari pengrusakan oleh yang tidak bertanggung jawab. Bangunan pertahanan di pulau terluar itu belum dapat dipastikan peninggalan bangsa mana karena belum diteliti oleh para arkeolog.

 

13186 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply