Pulau Pari Kepulauan Seribu; A Place To Remember

Saya ke Pulau Pari bersama Diana (20 bulan), suami, adik dan adik ipar. Berempat, kami sepakat tidak menggunakan travel agent, karena sepertinya juga hampir mustahil bisa mendapatkan ‘teman‘ seperjalanan, supaya bisa diperoleh harga paket yang lebih murah. FYI, jika hanya 4 orang dalam satu kelompok, maka harga yang ditawarkan berkisar 600 hingga 700 ribu rupiah per orang. Lagipula, saya juga berencana hanya liburan santai saja di pantai kali ini, tanpa aktifitas snorkeling. Biar saya tahu dulu kondisi Diana gimana kalau diajak jalan-jalan ke pantai, apakah rewel, kecapean, atau gimana.

Malam sebelum berangkat, Diana sudah sukses begadang. Jadinya baru pada tidur lewat tengah malam. Paginya, air PALYJA mati, dan semua nggak bisa mandi. Berbekal gosok gigi dan cuci muka doang, kami keluar rumah. Nunggu taksi hampir setengah jam nggak dapet-dapet. Akhirnya naik angkot dulu keluar kompleks. Dan mungkin memang sudah berjodoh sama tukang taksinya, kami dapat seorang supir taksi yang berasal dari Pulau Tidung! Jadi nggak ada alasan dia nggak tahu jalan tercepat menuju Muara Angke.

Tak seperti di hari libur Sabtu di mana pilihan kapal bisa lebih banyak, di hari kerja lebih sedikit kapal yang melayani penumpang menuju Kepulauan Seribu. Kami berempat naik kapal jam 7 pagi, tepat saat kapal sudah hendak berangkat. Saya yakin kalau supir taksi kami bukan orang Pulau Tidung, pastilah kami sudah ketinggalan kapal.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 014

Pertama kali Diana naik kapal, udah langsung seneng aja dia. Diajak bapaknya duduk di bagian dek depan, langsung memandang luas lautan dan birunya langit. Lupa saya bawa kain pantai, ternyata panasnya di luar dek itu lumayan juga, dan yang pasti cukup silau, jadinya ditutup pakai kaos aja deh kepalanya.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 012

Kapal tidak langsung menuju Pulau Pari, melainkan menurunkan penumpang terlebih dahulu di Pulau Untung Jawa. Nah, pulau ini kayaknya bakal jadi incaran saya selanjutnya kalau mau jalan-jalan ke Kepulauan Seribu, nih. Setelah menurunkan kami di Pulau Pari, kapal kembali melanjutkan perjalanan ke Pulau Lancang.

Kamipun segera menuju ke penginapan. Penginapan kami lumayan oke. Bukan homestay, yang nyampur sama rumah penduduk, tetapi memang rumah yang sudah sengaja didisain sebagai penginapan. Dengan harga 500 ribu per malam, rumah ini layak untuk kami rekomendasikan. Dengan dua kamar ber-AC, ruang depan dan ruang televisi yang cukup luas, ditambah kamar mandi yang besar dan bersih. Sayang saya sebagai fotografer trip ini lupa ngambil gambarnya. *self keplak*

Pulau Pari Kepulauan Seribu 015

Karena bekas begadang semalam yang belum terbayar, suami dan ipar memilih istirahat. Saya dan adik keluar mengajak Diana, niatnya mau nyari minuman dingin dan segar. Eh, malah Diana seneng banget mainan pasir di pinggir pantai sebelah barat dermaga.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 011

Dari penginapan ke dermaga memang tidak jauh. Jadi kami bisa menyaksikan aktivitas orang-orang yang lalu-lalang hendak pergi snorkeling, bermain banana boat, atau naik jet ski. Cuma lihat doang sih, karena dari awal memang tidak ingin mencoba itu semua di Pulau Pari.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 017

Dari awal sebelum berangkat, saya sudah membaca kalau pasir pantai di Pulau Pari cukup bersih. Bisa betah anak-anak kalau diajak mainan pasir pantai ini. Makanya, sengaja saya beli satu set mainan pasir supaya Diana bisa bikin istana pasir.

Setelah puas bermain pasir di pinggir pantai dekat penginapan, saatnya kembali untuk makan siang. Kami memesan makan siang dan ternyata menunya lumayan komplit. Nasi, sayur asem, ayam bumbu asem pedas, tempe goreng, tahu goreng, sambal, kerupuk dan buah. Tidak mahal untuk harga 25 ribu rupiah per porsi. Setelah kenyang, saatnya berganti kostum dan bersenang-senang… (Lupakan soal belum mandi sedari pagi.)

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0110

Mengendarai sepeda yang kami sewa, langsung saja kami menggowes dengan tujuan yang tidak jelas. Pokoknya jalan, hahaha. Sampailah kami di ujung timur Pulau Pari, Pantai Pasir Perawan. Inilah sang primadona Pulau Pari. Saat parkir sepeda, kami celingak-celinguk, kok nggak ada yang minta bayaran tiket masuk? Sedangkan saya baca, wisatawan diwajibkan membayar 3.500 ribu rupiah per orang sebagai retribusi objek wisata ini. Ah, paling ntar waktu pulang dimintainnya, kata adik saya.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 016

Pulau Pari Kepulauan Seribu 019

Diana langsung seneng nyebur di air. Main air, bikin istana pasir, main air lagi, dan terakhir duduk di pinggir pantai sambil ngemil. Nggak ada pengunjung lain. Cuma kami berempat sore itu.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 018

Saya mengingatkan, agar kami jangan terlalu sore kembali ke penginapan, karena harus segera mandi. Sebelum pulang, kami mampir terlebih dahulu ke Pantai LIPI. Sayang kualitas fotonya nggak ada yang bagus. Pantainya juga masih kalah bagus dari Pantai Pasir Perawan, sih.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0111

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0112

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0113

Setelah mandi, saya memilih bersantai sambil menonton televisi, sedangkan suami memilih bersepeda keliling pulau sambil menikmati sunset.

Malamnya, agak-agak horor sih, Diana nangis terus dan nggak mau tidur. Matanya ngelihat ke satu titik mulu. Saya sih mikirnya mungkin karena kecapean, tapi kok ya tetep kepikiran sesuatu hal lain ya? Sampai sekitar jam 2 malam ini, lho. Tapi akhirnya ya tidur karena udah capek nangis mulu.

Pagi harinya, giliran suami entah kemana menghilangnya, menikmati sunrise. Saya, adik, ipar dan Diana masih tepar sisa begadang semalam. Sepulang suami ke penginapan, barulah semua bangun, termasuk Diana juga mau bangun begitu mendengar kami akan jalan-jalan lagi ke pantai.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0114

Rumah-rumah penduduk masih sepi, namun satu dua orang mulai terlihat menyapu halaman dan membereskan penginapan, karena long week end akan segera tiba. Ratusan wisatawan pasti akan memadati pulau ini sebentar lagi. Kami mengayuh sepeda perlahan menuju Pantai Pasir Perawan lagi.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0126

Sama seperti warga yang menyiapkan penginapan masing-masing, di Pantai Pasir Perawan nampak kegiatan menyapu dan membersihkan pantai ini dilakukan oleh satu rombongan bapak-bapak. Wajar saja kalau pantai ini kebersihannya lumayan juara dibandingkan pantai lain di Kepulauan Seribu. Kesadaran warganya akan ‘aset‘ pariwisata yang perlu dijaga sudah cukup baik. Tempat sampah juga banyak tersedia, dan hampir di setiap tempat ada.

Apa yang dilakukan penduduk saat senggang? Dengan sebuah alat semacam tonggak yang ujungnya runcing, mereka akan mengambil daun-daun yang gugur berserakan di sekitar tempat tinggal mereka, dan memasukkannya ke tempat sampah. Yaaah, tapi tetep aja sih, ada bagian yang terlihat kotor. Sepanjang jalan setapak menuju ke Pantai LIPI, sampai sebelum pintu gerbang, terlihat sampah di kanan kiri jalan. Kalau di lingkungan LIPInya sih lumayan bersih juga ya.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0115

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0116

Sesampainya di Pantai Pasir Perawan Pulau Pari, ya langsunglah ya, tancap, nyebur dan main air. Air belum sepenuhnya surut sih. Kalau sudah siang, airnya tinggal cetek banget. Jadi nggak khawatir anak bayi bakalan kecebur kalau main di pantai ini. Emak bapaknya bisa santai-santai di bawah pohon. 😆

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0117

Kayak saya nih, kerjaannya ngadem doang di bawah pohon, sambil pasang lensa tele, jeprat-jepret dari kejauhan. Nggak perlu ikut basah-basahan kayak Diana. :mrgreen:

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0118

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0119

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0120

Tuh, lihat, Diana sama tantenya dan bapaknya kelihatan seneng banget maenan aer. Saya juga ikutan seneng, karena bisa lihat ekspresi-ekspresi bahagia mereka. Nggak kerasa lah ngeluarin biayanya jadinya. Malah semangat nyari duitnya jadi berkobar, karena ngebayangin bakalan ‘dituker‘ dengan pengalaman berharga seperti ini.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0123Itu kalau mau nyobain snorkeling jalan sedikit ke arah pantai sana yang agak dalem itu bisa kali ya? Tantenya Diana bawa satu set alat snorkeling lengkap sih, tapi nggak kepake, karena udah pada seneng bisa main pasir dan berendem di tempat yang cetek doang.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0122

Abis puas berendem, Diana balik ke daratan dan main pasir lagi. Yang dewasa, ngapain lagi kalau bukan ngganjel perut, pesen mie rebus, makanan sejuta umat. Harganya normal kok, 8.000 rupiah saja sudah pakai telur. Karena saya bawa tumbler, saya bawa kopi sendiri dari penginapan. Sedep deh, minum kopi di pinggir pantai.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0133

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0134

Bosen mainan pasir dan berendem? Bisa nyantai-nyantai kok, duduk di hammock atau naik perahu keliling gugusan mangrove. Kalau mau naik perahu, ada bapak-bapak tukang perahunya yang akan mendayung. Biayanya cukup 35.000 rupiah saja.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0130

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0131

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0132

 

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0125

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0127

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0128

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0129

Menjelang siang, tapi wisatawan lain belum datang, akhirnya kami ditagih juga retribusi tiket masuk ke Pantai Pasir Perawan ini. Rp. 14.000,- untuk 4 orang masuk, tapi hanya ‘diwakili’ oleh 1 lembar tiket. Hihihi, masukan buat pengelola, kalau narik bayaran 4 orang, ya tiketnya 4 lembar dong ya. Yuk, ah, dimulai tertib juga.

Pokoknya, agenda jalan-jalan ke Pulau Pari ini hanya dihabiskan di Pantai Pasir Perawan saja. Memandangi deretan foto Diana pasca jalan-jalan aja masih terasa bahagianya sampai sekarang, lho. Aaahh, saya jadi melow kalo sudah begini. *buang tisu*

Pulau Pari Kepulauan Seribu 0135Siangnya, kami harus berpisah dengan Pulau Pari. Sambil nunggu kapal, Diana masih tetep saja mainan pasir nggak ada bosan-bosannya. Untung memang sengaja, waktu packing, mainan pasir ini di luar saja, jadi gampang kalau Diana pengen mainan, tinggal bongkar plastiknya. Jam 1 kapal baru berangkat dari pelabuhan.

Pulau Pari Kepulauan Seribu 013Bisa dilihat, kapal yang saat weekend biasanya dijejali hingga 400 orang, hanya kami saja yang menguasai. Diana bisa tidur pules, pula, padahal di dalam kapal lumayan panas! Ah, bangganya Nak, punya anak sepertimu. Yuk, kapan kita jalan-jalan lagi?

 

22004 Total Views 74 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

16 Comments

  1. linda April 24, 2014
  2. Susanti Dewi April 25, 2014
    • admin April 25, 2014
  3. HM Zwan April 25, 2014
    • admin April 25, 2014
  4. Florent April 25, 2014
    • admin April 25, 2014
  5. Hidayah Sulistyowati April 26, 2014
  6. noe April 27, 2014
  7. Riski Fitriasari April 27, 2014
    • admin May 6, 2014
  8. Uniek Kaswarganti May 18, 2014
  9. Nur May 11, 2015
    • admin May 18, 2015
  10. yana July 28, 2015
    • admin July 29, 2015

Leave a Reply