Sejit Kongco, Pesta Para Dewa

Tak cuma terkenal dengan perayaan Imlek atau Capgome, kelenteng (Vihara) yang tersebar di pelosok Tanah Air juga memiliki tradisi Sejit Kongco atau peringatan ulang tahun dewa penjaga kelenteng. Oktober 2011 silam, Vihara Bio Fat Cu Kung terletak di Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, mendapat kesempatan menggelar pesta para dewa tersebut.

Pesta yang diberi tajuk “Sejit Kongco: Yang Mulia Kongco Fat Cu Kung” ini punya cerita unik. “Kami harus so-pue dulu,” kata Nico, ketua panitia pesta tahun ini. Maksudnya: minta izin para dewa. Disertai doa-doa, panitia melempar dua lempeng kayu warna merah yang agak lonjong dan cembung. Bila keduanya jatuh pada sisi yang sama berarti dewa memberi izin perayaan Sejit Kongco, jika tidak, dewa tak berkenan.

Perayaan Sejit Kongco di tahun 2011 dibanjiri peserta, jauh lebih ramai dari sebelumnya. Delegasi kelenteng dari seantero Jawa hampir semuanya hadir, ditambah wakil dari Kelenteng di Manado, Madura dan Bali. Sama seperti kelenteng penyelenggara, peserta juga harus so-pue pada dewa-nya masing-masing. Dalam perayaan Sejit Kongco, patung dewa yang hadir diusung di atas joli (tandu).

Setiap Kelenteng mempunyai dewa utamanya masing-masing, beberapa memiliki dewa yang sama. Proses menentukan dewa juga melalui so-pue. Bisa saja dewa yang didaulat menolak, dan umat harus mencari dewa lain untuk dinobatkan menjadi dewa utama.

Sosok Fat Cu Kung berawal dari masa Dinasti Songhang, Xiao dan Hong bertarung melawan siluman ular yang mengacau di daerah Yong Chun, tepatnya Telaga 9 Naga. Karena kehebatan ilmu tarung siluman ular, Hong dan Xiao tewas. Beruntung, Zhang dapat melarikan diri ke gua pertapaan. Di sini, Zhang dapat memohon bantuan Lu Dong Bin, salah satu dewa yang terkenal sakti.

Lu Dong Bin berkenan meminjamkan pedang pusakanya pada Zhang. Berkat kehebatan pedang ini, siluman ular dapat dikalahkan. Sebagai rasa hormat pada Zhang, warga Yong Chun mendirikan kelenteng di gua pertapaan Tao Yuang Dong. Pemujaan kepada Zhang, yang memiliki nama lengkap Zhang Gong Shen Jun, pun dimulai. Karena kesaktiannya, masyarakat menyebutnya dengan nama Fa Zhu Ghong, yang di Indonesia dikenal dengan Fat Cu Kung.

Sebagai tuan rumah, Bio Fat Cu Kung wajib menjamu para tamu, yaitu patung dewa yang akan mengikuti kirab Sejit Kongco. Perjamuan dimulai dengan penerimaan kiem sien (patung dewa) dari seluruh peserta secara bergantian, lalu dilanjutkan dengan doa bersama di depan kumpulan patung dewa. Karpet merah digelar dari depan pintu gerbang hingga ke ruang doa, tempat kiem sien disimpan. Anak-anak, kaum muda, dan orang tua bergiliran memasuki are kelenteng yang tersembunyi di balik gang sempit ini, untuk berdoa.

Menjelang tengah hari, tabuhan tambur mulai memenuhi udara. Peserta kirab memainkan musik khas Cina sambil melantunkan tembang Jawa ala campur sari. Sesekali terdengar lagu ondel-ondel dari Jakarta. Tambur ditabuh, simbal dimainkan bersahutan, dan penonton mulai bergoyang. Naga Liong siap beraksi sedangkan beberapa barongsai menggoda kerumunan anak kecil. Benar-benar suasana pesta!

Di tengah warna warni cerah khas kelenteng, rombongan dari Lasem yang berjumlah 100 orang tampil dengan pakaian serba hitam. “Kami bukan dari kelenteng, tapi dari yayasan,” kata Oei Oen Liang, salah satu perwakilan Lasem. Yayasan ini melayani jasa penguburan bagi siapa saja, tak peduli bagi penganut Islam, Kristen, Hindu, atau Buddha. Mungkin karena selalu berurusan dengan kematian, mereka berpakaian serba hitam.

Menjelang kirab, umat dilarang berdoa di dalam kelenteng karena kiem sien harus diberi jalan untuk dibawa keluar menuju joli. Satu per satu peserta dipanggil sesuai kiem sien-nya untuk kemudian berdoa guna menghormati Yang Mulia Kongco Fat Cu Kung. Mereka lalu diarak menuju joli dengan pengawalan petugas yang membawa Ling Kie (bendera kecil) dan hio lo (tempat dupa). Barongsai dan Liong melakukan melakukan penghormatan lebih dulu pada para kiem sien sebelum pentas selama kirab Sejit Kongco.

Rombongan barongsai mulai membuka jalan, diikuti rombongan penabuh tambur. Kewasan Petak Sembilan penuh pengunjung. Dengan tandu hias, satu per satu kiem sien diarak melewati gang yang cukup sempit, menuju jalanan. Meski ada penonton yang berusaha menyentuh sang dewa, sebagian warga berhormat khidmat dengan tangan di dada. Sebagian lagi menaruh angpau di depan joli.

Atraksi mulai digelar saat iring-iringan memasuki jalan besar. Barongsai mulai berjingkrak-jingkrak. Liong menunjukkan aksinya dan gawangan Lasem yang ganjil mulai menggoda anak-anak. Ada juga rombongan yang membawa sosok orang sakti. Rombongan Bekasi misalnya, berpawai dengan salah satu anggota menusukkan jarum besar di sekujur wajah.

Sesekali, rombongan kirab berhenti untuk menunjukkan atraksinya, sekedar bermain musik dan bergoyang bersama penonton termasuk turis asing yang kebetulan melintas. Semuanya larut dalam pesta bersama para dewa. (Yudasmoro, Majalah Garuda Indonesia Februari 2012)

6121 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply