Seren Taun 2011, Upacara Adat 7 Hari Di Sindang Barang

Masyarakat Sunda setiap tahunnya mengadakan upacara adat yang dinamai Seren Taun, dan tahun ini diadakan di Sindang Barang, Bogor. Seperti tahun-tahun sebelumnya yang diadakan pada bulan Januari, tahun inipun Seren Tahun diadakan pada tanggal 18 hingga 23 Januari 2011 yang lalu.

Seren Tahun adalah sebuah upacara adat Sunda. Seren Taun diadakan untuk mewujudkan rasa syukur kepada Tuhan atas perolehan panen yang berlimpah pada tahun ini. Selain ucapan syukur, seren taun juga dimaksudkan sebagai permintaan doa agar panenan mendatang semakin baik, dihindarkan dari wabah penyakit tanaman dan gagal panen. Petani berharap semua kegiatan bercocok tanam dapat berjalan dengan lancar.
Kabupaten Bogor yang merupakan peninggalan Kerajaan Padjadjaran kaya akan budaya yang masih lestari. Masyarakat di kaki sebelah timur Gunung Salak, di kampung Cibogel di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari masih setia dengan nilai-nilai adat mereka dan karena alasan inilah, mereka menjadikan desanya sebagai desa adat dengan nama Kampung Budaya Sindangbarang.


Kegiatan adat yang berlangsung selama 7 hari ini diisi dengan rangkaian acara sebagai berikut:

Hari ke 1, Neutepkeun
Neutepkeun ini dimaksud adalah memanjatkan niat agar acara Seren Taun berjalan lancar serta memohon agar kebutuhan pangan selama acara terpenuhi tanpa ada kekurangan. Upacara ritual ini dipimpin oleh Sang Rama dan Kokolot Panggiwa yang dilaksanakan di tempat pabeasan (tempat menyimpan beras) di Imah Gede.

Hari ke 2, Ngembang
Ngembang / nyekar / ziarah dipimpin oleh Kokolot Panggiwa dan Panengen dilakukan ke makam sebagai leluhur warga Sindangbarang yaitu Sang Prabu Langlangbuana, Prabu Prenggong Jayadikusumah di Gunung Salak.

Hari ke 3, Sawer Sudat dan Ngalage
Sunatan massal, yaitu upacara sudat (sunat) bagi anak-anak di kampung Sindang Barang, dengan berpakaian adat lengkap serta duduk di atas tandu (jampana) Acara ini dilaksanakan di alun-alun.

Hari ke 4, Sebret Kasep
Pelaksanaan sudat (sunat) di Bale Pangriungan.

Hari ke 5, Ngukuluan
Ngukuluan ini adalah mengambil air dari tujuh sumber mata air, bermula dari Imah kolot. Dilepas oleh Sang Rama kepada para kokolot dan parawari (panitia). Perjalanan mengambil air dari sumber mata air ini diiringi dengan kesenian tradisional Angklung Gubrag.

Hari ke 6, Sedekah kue, Helaran, Nugel Munding, Sedekah daging, Pertunjukan seni
Acara hari keenam dilaksanakan pagi hari di alun-alun, diawali dengan parawari (panitia) mempersiapkan sebanyak 40 tampah yang berisi aneka kue, upacara dipimpin oleh kokolot, diawali dengan meriwayatkan sejarah leluhur Sindangbarang. Serta membacakan doa buat para leluhur .

Hari ke 7, Helaran dongdang, Majiekeun Pare, Pintonan kesenian
Persiapan oleh masayarakat sudah diawali sejak subuh, karena pagi harinya sebanyak 54 RT di kampung Sindangbarang sudah berkumpul di depan masjid Sindangbarang dengan membawa dongdang (hasil bumi) yang dihias aneka bentuk. Pawai dongdang ini dilengkapi oleh barisan pembawa Rengkong (padi) hasil panen, para kokolot, rombongan kesenian, dan sebagainya. Jam 08.00 WIB rombongan bergerak menuju kampung budaya Sindangbarang untuk melaksanakan Upacara puncak yaitu Majiekeun Pare ayah dan ambu ke dalam lumbung Ratna Inten. (Sumber: Indonesia.Travel Gambar: Julianus Limbeng.)

10760 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply