Situs Karangkamulyan Di Ciamis Jawa Barat

Ciung Wanara

Pernah mendengar cerita tentang Ciung Wanara? Jika belum, Ciung Wanara adalah kisah berdirinya Kerajaan Galuh, Kerajaan yang telah ada sebelum Majapahit dan Pajajaran. Ciung wanara sendiri selain mengisahkan Kerajaan Galuh, adalah cerita tentang kesaktian dirinya yang luar biasa.

Kerajaan Galuh dipimpin oleh Prabu Adimulya, yang memiliki permaisuri bernama Dewi Naganingrum. Selain Dewi Naganingrum, Prabu Adimulya juga beristrikan Dewi Pangrenyep. Saat hendak mati, Prabu Adimulya masih belum dikaruniai anak, sehingga kekuasaan diserahkan pada Patihnya, Bondan Sarati.

Karena kesewenang-wenangan Raja Bondan sepeninggal Prabu Adimulya, Dewi Naganingrum secara ajaib bisa memiliki seorang putera, bernama Ciung Wanara. Ciung Wanara kelak akan menjadi pimpinan Kerajaan Galuh dan memimpin secara adil.

Lokasi Situs Karangkamulyan

Situs Karangkamulyan Di Ciamis Jawa Barat, memiliki luas kurang lebih 25 hektar. Berada 17 km di sebelah timur Kota Ciamis, diantara Ciamis dan Banjar. Anda dapat menempuhnya dalam waktu 30 menit dari pusat kota Ciamis. Situs ini memiliki benda-benda peninggalan sejarah Kerajaan Galuh. Sebagian besar berupa batu-batuan yang menyebar dalam sebuah ruangan kamar yang terbuat dari tumpukan batu dengan satu buah pintu.

Meskipun Situs Karangkamulyan Di Ciamis Jawa Barat hanya terdiri dari bebatuan, namun lumayan menarik untuk ditelusuri. Masyarakat sekitar memberikan nama pada batu-batuan tersebut sesuai dengan cerita Ciung Wanara yang mereka ketahui. Ada batu yang bernama pangcalikan, adalah batu tempat duduk, batu untuk tempat beribadah, batu lokasi melahirkan dan batu sebagai lokasi sabung ayam.

Situs Karangkamulyan Di Ciamis Jawa Barat diyakini berasal dari abad ke 9, ditandai dengan ditemukannya keramik China dari dinasti Ming. Situs Karangkamulyan berbatasan dengan dua buah sungai besar yaitu sungai Citanduy dan Cimuntur. Suasananya sangat sejuk, cocok untuk berwisata di akhir pekan.

Nama-Nama Situs Karangkamulyan

Seperti yang sudah disebutkan di atas, pada bagian pertama dari situs, bernama Pangcalikan. Pangcalikan adalah berupa batuan bertingkat, segi empat berwarna putih dan biasanya digunakan sebagai tempat memuja (altar). Di sekitarnya terdapat batu-batu kecil, dan terletak di dalam bangunan tembok seluas 17 x 5 meter.

Bagian selanjutnya adalah ruangan berukuran 6×6 m yang biasa disebut dengan Sahyang Bedil. Sahyang Bedil dikelilingi tembok setinggi 80 cm, dengan pintu menghadap ke utara. Di dalamnya terdapat 2 menhir dengan ukuran 60 x 40 cm serta 20 x 8 cm.
Yang disebut situs Penyabungan Ayam adalah mirip dengan lapangan kecil, yang letaknya lebih rendah, dan dipercayai sebagai tempat untuk menyabung ayam oleh Ciung Wanara. Tempat ini juga digunakan sebagai tempat berdemokrasi, memilih raja dan pimpinan mereka pada zamannya.

Di bagian lain, terdapat batu yang bentuknya mirip dengan stupa candi, sebagai tepat peribadatan atau pemujaan. Seperti layaknya candi, batu ini juga dihias dengan pahatan. Lokasi penemuan batu kemuncak ini agak jauh dari situs, yaitu 50 meter di sebelah timur.

Selain batu-batu di atas, terdapat sebuah menhir bertinggi 120 cm dan dolmen dengan ukuran 120×32 cm. Lokasi ini adalah lokasi kelahiran Ciung Wanara. Oleh Dewi Naganingrum, Ciung Wanara dihanyutkan di derasnya aliran Sungai Citanduy. Sumur Cikahuripan, sumur yang berisi air kehidupan, juga ada di lokasi ini. Sumur Cikahuripan tidak pernah kekeringan sepanjang tahun.

Berkeliling jalan-jalan di Situs Karangkamulyan, menjadikan wisata sejarah tersendiri bagi kita, khususnya warga Jawa Barat. Jangan khawatir, karena di sekitar lokasi terdapat banyak penjaja makanan dan warung-warung yang siap menyuguhkan masakan khas berupa pepes ayam dan ikan mas. Untuk minumannya, tak ada yang bisa mengalahkan segarnya es kelapa muda yang baru dipetik dari pohonnya. Bukan begitu?

403 Total Views 6 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Comments
  1. alampriangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *