Tak Terlindung di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu

Sudah agak lama perjalanan ke Pulau Tidung ini gw rencanain. Awalnya, dapet email dari Nduth [adek gw] yang menginformasikan sebuah iklan dari tour travel, jalan-jalan ke kepulauan seribu dengan harga yang terjangkau. Emang dasar udah lama nggak pernah jalan-jalan selain Mudik tiap tahun ke Klaten, gw pengen nyobain juga sekali-kali ngerasain piknik.

Piknik kali inipun ngutang dulu. Dibayarin sama Nduth karena gw lagi nggak punya uang. *Buka aib nih ceritanya* Bayarnya bulan depan. Enak kan? Buat beli makanan kecil bekel di perjalanan, pake voucher hadiah yang dapet setelah nulis ini. Lumayan. Isi tas nggak kosong-kosong amat.

Karena perjalanan dimulai hari Jumat pagi, maka hari Kamis sepulang kerja, nggak mungkin gw pulang dulu ke rumah. Jumat jam 6 pagi sudah harus ngumpul di Muara Angke, gw terpaksa nginep dulu di Budhe di daerah Harmoni. Nggak bisa tidur semaleman, biasa kalo excited mo bepergian, bawaannya udah pengen langsung pergi aja. Jam 03.30 udah mandi, dan keluar rumah jam 04.30. Gw pikir busway molai jalan jam 04.30, nggak taunya jam 05.00. Itupun setelah gw ngeshoot ambil video pake Ipod karena jam 05.15 belom juga dibuka loketnya. Gw udah naik pitam, kalo jam 06.00 gw belom sampe Muara Angke dan ditinggal sama rombongan, pasti gw bakal tuntut tuh busway karena molor dari jam operasional yang tertulis di jadwal, mentang-mentang hari itu bukan hari kerja.

Sesuai informasi yang kami cari, abis naek busway turun di Halte Jelambar, ganti naek angkot B01 jurusan Angke. Meski diturunin di tengah jalan karena si angkot muter dan ogah macet-macetan di pasar, terpaksa gw harus jalan melintasi pasar ikan yang bau dan beceknya minta ampun. Mo naek becak, nggak jadi, gara-gara nanya ke ibu-ibu di pasar, jauh nggak pom bensin Muara Angke, dijawab, enggak. Padahal ya lumayan juga. Huh dasar.

Untungnya, kapal berangkat jam 07.00 pagi. Dan perjalanan di atas kapal menuju Pulau Tidung memakan waktu 2 jam. Kenalan sama 3 orang cowok di atas perahu, salah satunya bernama Bashir. Entah yang dua lagi siapa, lupa. Perahu kapal yang membawa kami ke Tidung, bisa memuat hingga 150an orang penumpang beserta barang-barang bawaannya, dan terdiri dari dua lantai. Ada bagian bawah dek kapal dan di bagian atas dengan atap terbuka separuh, yang separuh lagi di beri tutup terpal. Harga menyeberang ke Pulau Tidung sekali jalan Rp. 35.000,-

Masih pagi, langit cerah, dan matahari tidak begitu meyengat, membuat mata jadi mengantuk dan cocok dimanfaatkan buat tidur. Bayar utang semalam nggak tidur sama sekali. Pasang ipod di telinga, ambil posisi, dan zzzzzzz…. Nggak bisa menikmati pemandangan selama perjalanan deh.

Baru setelah beberapa puluh menit sebelum tiba di Pulau Tidung, gw kebangun dan matahari sudah mulai panas, meski gw memutuskan untuk tetap berada di bagian yang panas dan tidak beratap, sekalian buat pemanasan, nanti kan bakalan bejemur juga akhirnya. Sesampainya di Tidung, rombongan dibagi menjadi dua group, Group A dan B. Gw sama Nduth masuk ke Group A. Sebelum memulai petualangan, semua peserta masuk ke penginapan terlebih dahulu. Sebuah Guest House di Pulau Tidung berharga antara Rp. 250.000,- sampai dengan Rp. 300.000,- dan bisa menampung hingga 6 orang. Gw masuk Guest House yang lumayan bagus dibandingkan yang lain, yaitu di rumah Ibu Titin, tepat di sebelah Puskesmas Pulau Tidung. Guest House kami posisinya sangat strategis, berada tepat di tengah ‘kota’ Pulau Tidung, hanya berjarak beberapa meter dari Taman, Pelabuhan, Puskesmas, dan Kantor Kelurahan.

Gw menempati guest house ini bersama teman-teman lainnya, total 10 orang, dan 8 adalah teman baru yang ketemu di Pulau Tidung untuk pertama kalinya. Ada Mas Dhanang, Dony, Erwin, Gafur, Husnul, Mio, Ega dan Mamen. Pada akhirnya, orang-orang ini ancur semua!

Pulau Tidung berbentuk memanjang. Puanjang banget, sampe capek deh kalo jalan menuju salah satu ujungnya. Lebar Pulau Tidung hanya paling dua ratus meter saja. Dibelah dengan jalan setapak tepat di tengah Pulau Tidung, sebelah kanan jalan nggak sampai seratus meter, dan sebelah kirinya juga sama. Jadi jika Anda berjalan di satu-satunya jalan yang ada, laut akan tampak di sebelah kanan dan sebelah kiri jika Anda melemparkan pandangan. Di mana-mana air.

Tujuan pertama adalah laut di bagian timur Pulau Tidung. Karena jadwalnya snorkeling, makanya gw ganti kostum buat ke laut. Inget kan cerita gw jalan-jalan NgeMall nyari tank top, tapi dapetnya jaket pink? Untung masih ada stok tank top yang masih bisa dipake. Nggak perlu pake yang baru deh.

Jam 11.00 siang, gw pikir sama sekali bukan saat yang tepat untuk berendam di laut, tapi apa boleh buat, jadwal yang gw dapet seperti itu, ya dijalanin aja deh. Toh, kulit hitam sama sekali bukan hal yang menakutkan buat gw yang anak seorang petani ini.

Nduth sudah punya pengalaman terlebih dahulu sebelumnya karena pernah snorkeling di Kepulauan Karimunjawa beberapa waktu yang lalu. Buat gw, ini pengalaman pertama. Untungnya, adaptasi dengan peralatan snorkel nya nggak begitu susah. Satu-satunya masalah adalah: gw nggak bisa berenang! Untungnya Koko Ray [si penyelenggara yang hebad ituh] mau dengan baik hatinya mendorong gw dan teman-teman lain yang nggak bisa berenang, berkeliling melihat-lihat terumbu karang yang ada. Kereeennn! [Sewa alat snorkel Rp. 30.000,-]

Habis snorkeling, foto-foto dulu di jembatan. Jembatan kayu ini, menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan pulau Tidung Kecil yang berada di sebelah timurnya. Pulau Tidung Besar berpenghuni [menurut informasi sebanyak 5.000 KK] sedangkan Pulau Tidung Kecil tidak berpenghuni dan dianggap oleh masyarakat sekitar sebagai Pulau yang agak angker.

Jam satu siang, gw sama Nduth balik ke Guest House untuk makan siang, dan mendapati ke-8 kawan serumah nggak ada. Mereka sudah selesai makan siang dan jadwalnya ganti snorkeling. Gw dan Nduth jalan ke bagian barat dari Pulau Tidung. Karena cape dan nggak ada yang terlalu menarik perhatian kami, makanya gw sama Nduth balik ke Guest House untuk tidur! Ya, kami butuh istirahat.

Baru sore harinya, kami balik lagi menuju pantai timur Pulau Tidung, untuk menikmati sunset. Di situlah, baru kami bener-bener mengenal ke-8 teman ‘serumah’ yang ternyata seru-seru semua. Nyesel juga kenapa kami nggak se Group, soalnya mereka tadi terjun dari jembatan semua! Berbekal kamera DSLR milik Mamen, gambar-gambar mereka keren semua… Ngiler gw ngeliatnya! Nggak mungkin kan udah habis sunset gini nyebur ke laut. Lagian, air juga sudah surut.

Pulang ke Guest House, dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol sambil minum kopi. Hanya itu yang bisa kami lakukan, karena di Pulau Tidung, kami sama sekali nggak mendapatkan sinyal! Simpati, mati. XL mati. Hanya Indosat saja yang masih bisa online, itupun dengan sinyal yang sangat memprihatinkan.

Malemnya, ada acara barbeque yang dimulai jam 23.30. Saking berisiknya kami ber-10, kelompok lain yang dateng ke acara barbeque sampe balik lagi dan nggak ikut acara, hahahha… Bakar-bakar ikannya bener-bener penuh perjuangan karena nyalain apinya bermodalkan kayu-kayu hasil nyari di jalanan. Dan terakhir, kami makan ikan utik, ikan hiu dalam ukuran kecil.

Semua langsung tepar kelelahan dan tidur dengan sukses sepulangnya ke penginapan. Udah nggak ada lagi yang becanda, karena perut udah keras semua, keketawaan nggak berenti-berenti. Jadwal bangun pagi jam 5 untuk menikmati sunrise, nggak ada yang mampu bangun kecuali Husnul, yang dengan semangat 45 bangun dan jalan sendiri sampai ke ujung Pulau Tidung Kecil! Dari Husnul pulalah kami mendengar cerita bahwa di Pulau Tidung kecil itu terdapat makam dari salah satu pahlawan yang bernama Pangeran Hitam.

Yang lain, baru ‘berangkat’ melihat sunrise setelah pukul 7! Hahahaha… Itupun, dengan mengendarai Kaisar, sebuah ‘motor’ roda tiga yang biasanya digunakan untuk mengangkut sayuran di pasar induk, atau untuk berdagang keliling jika di sini. Kaisar, sorry sebut merk, adalah satu-satunya ‘mobil’ yang ada di Pulau Tidung. Alat transportasi yang lain adalah sepeda motor dan sepeda onthel. Harga sewa sepeda motor adalah Rp. 50.000,- per hari, dan sepeda onthel sebesar Rp. 15.000,- per harinya.

Tapi, worth banget deh, bayar Rp. 5.000,- sekali jalan naek Kaisar, mengurangi pegel-pegel pada kaki. Mumpung masih pagi, ambil foto-foto lagi. Teuteup, narsis adalah nomer satu. Pulangnya juga nungguin Kaisar lagi. Dan harus check out dari penginapan. Nanti jam 12.00 siang sudah harus meninggalkan Pulau Tidung.

7695 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

2 Comments

  1. Romy November 23, 2011
  2. iwan tidung December 12, 2012

Leave a Reply