Taman Nasional Tanjung Puting

Taman Nasional Tanjung Puting dulunya bernama Suaka Margasatwa Tanjung Puting. Suaka Margasatwa Tanjung Puting ditetapkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada tahun 1936/1937 seluas 305.000 hektar. Pada12 Mei 1984, Menteri Kehutanan menetapkan Tanjung Puting sebagai Taman Nasional dan luasnya ditambah menjadi 415.040 hektar .Taman Nasional Tanjung Puting ini dibuat untuk melindungi orang utan (Pongo pygmaeus) dan bekanran (Nasalis larvatus). Tepatnya, Taman Nasional Tanjung Puting ini terletak di semananjung barat daya Provinsi Kalimantan Selatan.

Taman Nasional Tanjung Puting ini terletak di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan di Kecamatan Hanau, Danau Sembuluh, dan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah. Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting ini didiami oleh tanaman-tanaman sebagai berikut meranti (Shorea sp.), ramin (Gonystylus bancanus), jelutung (Dyera costulata), gaharu, kayu lanan, keruing (Dipterocarpus sp), ulin (Eusideroxylon zwageri), tengkawang (Dracomentelas sp.), Lithocarpus, Castonopsis, Schiima, Hopea, Licuala, Vatica, Casuarina, Astonia, Imperata cylindrica, Crinum sp., Sonneratia, Rhizophora, Barringtonia, Nipah (Nypa fruticans), Podocarpus, dan Scaevola. Tumbuhan yang mendiami lapisan bawah hutan terdiri dari jenis-jenis rotan dan anakan pohon.

Jenis satwa langka yang dilindungi di hutan Taman Nasional Tanjung Puting ini antara lain orangutan (Pongo satyrus), bekantan (Nasalis larvatus), lutung merah (Presbytis rubicunda rubida), beruang (Helarctos malayanus euryspilus), kancil (Tragulus javanicus klossi), macan dahan (Neofelis nebulosa), dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis borneoensis). Beberapa jenis reptil seperti buaya sinyong supit (Tomistoma schlegel), buaya muara (Crocodilus porosus), dan bidawang (Trionyx cartilagenous) juga ditemukan di Taman Nasional Tanjung Puting ini. Selain itu terdapat lebih dari 200 jenis burung yang hidup di kawasan ini. Salah satunya adalah sindang lawe (Ciconia stormii) yang termasuk 20 jenis burung terlangka di dunia.

Orang utan merupakan ikon Taman Nasional Tanjung Puting ini. Orangutan Kalimantan mempunyai ciri khas yaitu bulu kemerah-merahan gelap dan juga tidak memiliki ekor. Sesuai pertumbuhan usianya, orangutan jantan dewasa mengembangkan pipinya hingga membentuk bantalan. Semakin tua, bantalan pipinya semakin besar sehingga wajahnya terkesan seram. Taman Nasional Tanjung Puting ini ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977 dan merupakan Sister Park dengan negara Malaysia.

Taman Nasional ini memiliki beberapa tipe ekosistem, yaitu hutan tropika dataran rendah, hutan tanah kering (hutan kerangas), hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan bakau atau mangrove, hutan pantai, dan hutan sekunder. Taman Nasional Tanjung Puting merupakan lokasi pertama di Indonesia sebagai pusat rehabilitasi orangutan. Terdapat tiga buah lokasi untuk rehabilitasi orangutan yaitu di Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey.

Tanjung Harapan merupakan stasiun pertama dalam proses rehabilitasi orangutan. Lokasi ini berada di hutan sekunder dan hutan rawa yang dilengkapi dengan wisma tamu, pusat informasi, dan jalan trail. Pondok Tanggui digunakan untuk mengamati orangutan tersebut. Orangutan tetap diamati secara tertutup dan dihindari kontak dengan manusia. Camp Leakey didirikan pada tahun 1971 dan berada di hutan primer yang merupakan tempat dari beberapa orangutan yang setengah liar sampai liar dan dari yang baru dilahirkan sampai usia tiga tahun (raja tua). Natai Lengkuas adalah stasiun penelitian bekantan dan pengamatan satwa lainnya melalui sungai. Sungai Buluh dan Danau Burung digunakan dalam pengamatan satwa burung terutama burung migran.

Camp Pondok Ambung adalah sebuah lokasi penelitian. Lokasi Camp Pondok Ambung terletak di antara Pos Muara Ali dan Camp Leakey. Camp Pondok Ambung ini didirikan oleh Orangutan Foundation International, sebuah yayasan dari Britania Raya pada tahun 2003. Camp ini kemudian direnovasi kembali pada tahun 2005.

Untuk mecapai lokasi Taman Nasional Tanjung Puting, Anda bisa berangkat dari Jakarta atau Semarang menggunakan kapal laut atau pesawat menuju Pangkalan Bun. Dari Pangkalan Bun, Anda bisa menggunakan kendaraan darat menuju Kecamatan Kumai dengan menempuh perjalanan sekitar 20 menit (8 kilometer). Selanjutnya dari Kumai ke Tanjung Harapan, Anda menggunakan klotok selama 1,5-2 jam. Jika Anda ingin langsung ke Natai Lengkuas, Anda perlu waktu 4-5 jam. Jika ingin lebih cepat, Anda bisa menggunakan perahu cepat dari Kumai  ke Tanjung Harapan hanya 0,5-1 jam, dari Kumai – Camp Leakey selama 1,5-2 jam, dan dari Kumai ke Natai Lengkuas selama 1,5-2 jam.

Jika Anda jalan-jalan ke Taman Nasional Tnajung Puting pada bulan Mei, Anda bisa menikmati atraksi budaya di luar taman nasional itu. Pada bulan Mei diadakan Kompetisi Tradisional Rowing di Pangkalan Bun. Musim terbaik untuk mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting ini antara  bulan Juni sampai September. Jika Anda berkesempatan jalan-jalan ke Kalimantan pada bulan-bulan itu, jangan lupa menyinggahi Taman Nasional Tanjung Puting.



13437 Total Views 9 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply