Thailand Menikmati Wisata Dengan Rasa Berbeda

Rugi ke Thailand jika hanya berbelanja. Nikmati jadi wisatawan pencinta alam yang lebih memacu adrenalin. Di balik carut-marut politik belakangan ini, Thailand tetap giat mempromosikan pariwisata lewat Amazing Thailand. Bersama TAT (Tourism Authority of Thailand), Redaktur Eksekutif Boga, Heni Pridia, menikmati Thailand dari sudut lain.

Magnet Thailand sebagai surga pariwisata dan belanja cukup membius warga Jakarta. Saya yang datang untuk ke dua kalinya ke Thailand, kali ini menjelajah Provinsi Nakhon Ratchasima. Tidak jauh, dari Bangkok cukup tiga jam perjalanan bermobil menuju ibu kota provinsi, Korat.

Bertualang Di Candi

Lokasi: Amphoe Phimai, 60 Km (1 jam) perjalanan dari Korat. Jam buka: 07.30-18.00. Tiket: Rp. 12.000,- Tips: Kenakan sepatu sendal agar bebas naik turun candi.

Karena dekat perbatasan Kamboja, atau punya nenek moyang yang sama, yaitu bangsa Khmer, candi di Phimai Historical Park ini mirip Candi Angkor Wat, tapi lebih kecil.

Dibangun abad ke 16 pada zaman Raja Surioyawan I, candi Buddha ini mempunyai gaya Baphuon. Pada abad ke 18, pada massa Raja Chaiworaman VII, bangunan di dalam candi ini ditambah, hingga menjadi kompleks. Seiring meredupnya Kerajaan Khmer, candi ini kemudian terlupakan.

Badan candi terbuat dari batuan pasir. Magnet candi ini adalah candi utama yang memiliki empat muka. Candi utama masih terbilang utuh, tetapi situs sekelilingnya berbentuk reruntuhan. Untunglah, candi ini tak terlalu tinggi, sehingga tidak terlalu capek naik turun untuk mengamati ukirannya.

Wine Thailand Segar

Lokasi: 52 Moo 9 Phayayen, Pakchong, Nakornrachasima, Thailand, Jam buka: 11.00-21.00 Tips: Reservasi dahulu sebelum datang.

Menyambangi GrandMonte Winery (2 jam dari Bangkok) mengingatkan saya pada perkebunan anggur di Singaraja, Bali. Terletak di Asoka Valley, cuaca di perkebunan ini cukup ideal untuk dijadikan perkebunan anggur.

GrandMonte Winery (artinya big mountain), berada di lereng pegunungan Khao Yai. Luasnya sekitar 40 hektar, 25 hektarnya ditanami jenis anggur merah, yaitu Syrah, Tempranillo, dan Cabernet Sauvignon, sedangkan sisanya ditanami anggur hijau jenis Chenin Blanc. Panenan pertamanya pada Desember 2003 menghasilkan Primavera Syrah dan Primavera Chenin Blanc.

Visooth Lohitnavy, founder perkebunan itu tidak main-main. Wine juara yang dihasilkan adalah syrah untuk jenis red wine dan Chenin Blanc untuk jenis white wine. Syrah dihasilkan dari panenan anggur tahun 2006, yang merupakan panenan terbaik untuk jenis anggur merah. Sedangkan Chenin Blanc dihasilkan dari panenan tahun 2007 untuk jenis anggur hijau. Hasil kerja keras terbesarnya adalah GrandMonte Primavera “Unfiltered” Syrah 2006 yang menjadi pemenang kedua diajang kompetisi tingkat dunia, Syrah du Monde 2008 versi Prancis.

Selain membeli wine, jika datang di saat yang tepat (sekitar Juni-Juli) Anda boleh memanen buah anggur (dipetiki satu per satu dengan tangan). Anda juga bisa mampir di resto Vin Cotto, yang masih satu kawasan dengan perkebunan. Istri Visooth yang gemar memasak, menjamu saya dengan sup jamur, daging sapi panggang, dan ditutup pai saus vanili. Hmmm, lezat! Apalagi, saya pun mencicipi wine, fresh from the farm.

Wisata Memerah Susu

Lokasi: Farm ChocChai Nakhon Ratchasima, Tiket: Rp. 75.000,- Tips: Lebih baik datang berombongan sehingga Anda tidak perlu menunggu terlalu lama untuk ikut tur keliling  peternakan.

Bagi saya yang penggemar susu, kunjungan ke pertanian Chokchai di Provinsi Nakhon Ratchasima ini sungguh mengasyikkan. Terlebih, setelah belajar memerah susu sapi, saya juga mencoba mencicipi susu sapi dan es krim segar buatan pertanian paling modern di daerah ini. Tak hanya itu, di amusement park di tengah pertanian, saya bisa merasakan suasana kota Cowboy, lengkap dengan pertunjukan rodeo-nya, horse riding, dan aneka permainan, seperti atraksi menembak dan lempar gelang.

Karena pertanian ini didesain dengan mengadaptasi gaya ala peternakan di Amerika Serikat, saya disambut oleh para Cowboy yang menggenakan busana khas, yaitu boots, celana jeans, kemeja kotak-kotak dan topi cowboy.

Agar bisa merasakan kehidupan seutuhnya ala cowboy Thailand, saya camping dengan menginap di tenda. Tapi tenda ini dirancang khusus dan fasilitasnya tak kalah dari hotel bintang lima. Anda tak usah khawatir akan kebersihan kamar mandinya. Benar-benar bersih nyaman dan harum. Bahkan jika Anda hobi melamun di kamr mandi, Anda bisa merenung dengan pemandangan langsung ke kebun yang hijau sejauh mata memandang.

Sutra Asli

Lokasi: Desa Pak Thong Chai, 3 jam perjalanan dari Bangkok. Jam buka: 10.00-18.00. Tips: Saking murahnya, Anda bisa kalap berbelanja. Lihat dulu semua koleksi, sebelum menentukan pilihan.

Tidak afdol rasanya jika pulang dari Thailand tanpa membawa oleh-oleh sehelai selendang sutera. Dengan moto OTOP (One Tambon, One Product) alias setiap desa punya satu produk istimewa yang dihasilkan, saya menjelajah ke Pak Thong Chai, desa yang terkenal akan hasil tenun sutranya yang halus.

Masih memakai teknik tradisional alias ATBM (alat tenun bukan mesin) saya melihat benang sutera dengan warna mencolok seperti kuning kunyit, biru azura, fuchia, dan ungu terong. Di satu tempat, Macchada Thai Silk, tampak beberapa wanita sedang asyik menenun benang sutera menjadi sehelai kain dengan motif cantik, yang bikin saya gatal untuk segera mengoleksinya.

Perjalanan benang sutera menjadi sehelai kain sutera memang panjang. Dimulai dari coccon alias kepompong ulat sutera dengan warna aslinya (putih), ada juga coccon yang sudah diwarnai menjadi kuning, merah atau biru. Setelah dimasukkan ke dalam air pana, kepompong ini diurai menjadi helaian benang tipis, namun sangat kuat. Setelah dimasukkan ke dalam gelondongan, benang siap ditenun menjadi kain.

Dalam waktu sekejap, sehelai selendang seharga Rp. 50.000,- dan dua meter kain warna gold yang semeternya hanya Rp. 75.000,- berpindah ke dalam tas belanja saya.

Menembus Hutan

Lokasi: Khao Yai National Park. Tiket: Rp. 120.000,- Tips: Jika punya jiwa petualang, disarankan untuk menginap di tempat ini.

Sebelumnya Indra Nugraha, staf TAT yang menemani kami, memberitahu agar kami menggunakan kaus lengan panjang, karena hendak hiking menyusuri Khao Yai National Park seluas 3,8 juta hektar di Pegunungan Khao Yai.

Untuk mencapai gerbang Taman Nasional kami semua pindah ke sebuah truk mini dan naik menyusuri punggung bukit yang jalannya sangat mulus. Sama seperti hutan basah tropis lain saya tidak seperti merasa berada di tengah pegunungan di Thailand, melainkan di Cibodas. Yang terlihat hanya kerimbunan pepohonan hutan hujan basah.

Saat tiba di Taman Nasional, saya harus dibalut dengan sejenis sepatu khusus dari kain mirip bekas karung terigu. Manurut pemandunya, untuk mencegah lintah masuk ke dalam sepatu dan mengisp darah. Karena waktu yang terbatas, kami hanya mencicipi rute terpendek, yaitu menyusuri pinggir sungai sekitar 500 meter, sambil mengamati kehidupan satwa liar. Ternyata betul, di sepanjang perjalanan kami bertemu banyak lintah berukuran sangat kecil, siap masuk ke dalam sepatu untuk mencari makan.

Di ujung rute, tampak sebuah cekungan air akibat sungai yang terbendung. Airnya hijau, karena banyak tumbuhan air. Di salah satu batang kayu terapung, tampak dua ekor kura-kura hijau. Cantik sekali.

Banyak aktivitas menarik bisa dilakukan seperti trekking, mengamati burung dan kupu-kupu, bersepeda, dan camping. Jangkauan waktunyapun beragam, dari 1 hingga 4 hari. Di taman ini pernah juga dilakukan syuting film The Beach, yang dibintangi Leonardo DiCaprio. Air terjun Haew Suwat yang kelihatan begitu deras, ternyata hanya separuhnya saja kedasyatannya. Wah, saya ternyata tertipu oleh proses editing film yang memberikan efek tambahan.

Tembikar Made In Thai

Lokasi: Dan Kwian Municipal District. Tips: Buatlah reservasi agar tidak kehabisan home stay.

Desa Dan Kwian terkenal sebagai Kasongan ala Thailand. Siang itu, beberapa pria dengan kulit terpanggang matahari dan otot yang kuat asyik menggerakkan piringan yang di atasnya ditaruh vas seperempat jadi. Tak hanya vas atau jambangan, beragam gerabah dari gentong air hingga hiasan untuk kulkas dihasilkan di desa gerabah ini.

Dan Kwian terbentuk sejak awal era Kerajaan Ayuthaya yang menguasai lembah Sungai Mekong. Kawasan Dan Kwian merupakan tempat pertemuan antara pedagang yang biasa lalu lalang antara Korat, yang terletak di lembah sungai Mekong, dan Kamboja. Dari para pendatang yang dipimpin oleh Chao Khaa, penduduk Desa Dan Kwian mempelajari cara membuat gerabah.

Awalnya, gerabah yang dihasilkan hanya digunakan untuk alat dapur dan wadah penyimpan air. Tapi dengan majunya teknologi, gerabah yang dihasilkan sangat beragam. Saya menemukan beragam hiasan cantik untuk taman, seperti bangau, kodok, dan beragam jenis lampu.

Tak hanya belajar membuat  gerabah (hanya perlu waktu beberapa jam), di Dan Kwian ini tersedia juga home stay nyamann. Tarif per malamnya hanya Rp. 100.000,-. Jika ingin menginap tersedia lima home stay yang mirip rumah panggung di Kalimantan. (Sumber: Femina)

2499 Total Views 2 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply