Trekking Cibom

Salah satu agenda pesiar selama di Pulau Peucang adalah trekking masuk hutan menuju Tanjung Layar melalui Cibom sejauh sekitar 1,66 kilometer yang dapat ditempuh selama lebih kurang satu jam jalan santai. Untuk menuju Cibom, diperlukan waktu lebih kurang 15 menit naik perahu kecil dari dermaga Pulau Peucang. Pada jaman Belanda, Cibom sempat akan dijadikan sebagai pelabuhan internasional bagi kapal-kapal dagang Belanda.

Pada jalur trekking Cibom-Tanjung Layar, banyak dijumpai pohon Kiara berlubang yang melintang di tengah-tengah jalan. Lubang pada pohon ini mirip gapura, dengan hiasan akar-akar yang menjuntai ke tanah.

Sebelum tiba di tanjung layar, kita akan melewati bangunan mercusuar yang sampai saat ini masih dioperasikan dinas perhubungan. Kita juga akan menemukan bangunan bekas penjara di zaman Belanda.  Bangunan tua yang hanya terdiri dari tiga kamar dengan sebuah lorong tersebut masih berdiri kokoh meskipun dimakan usia. Melewati bangunan bekas penjara Belanda, terbentanglah padang penggembalaan Tanjung Layar yang merupakan salah satu tempat yang menggoda untuk dipakai berkemah.

Selewat itu, kita akan mencapai titik di ujung paling barat Pulau Jawa. Di Tanjung Layar, terdapat sebuah karang yang menjulang tinggi dan kokoh. Pemandangan dan suara hempasan ombak samudera di antara karang-karang kokoh di sekitar Tanjung Layar merupakan pengalaman yang surealis. Kita juga bisa menikmati indahnya pemandangan di Tanjung Layar dari atas mercusuar baru. Wisatawan dapat juga melanjutkan perjalanan trekking hingga mencapai Pantai Ciramea yang tak kalah indahnya.

Padang Cidaon
Dari Pulau Peucang kita juga bisa menuju ke Padang Penggembalaan Cidaon untuk melihat satwa liar, seperti Merak Hijau, Banteng, Kera Ekor Panjang, Babi Hutan dan berbagai jenis burung. Tiba di lokasi ini kita perlu hati-hati dan tidak boleh terlalu dekat ke satwa liar yang sedang asyik merumput. Tanpa perlu diperingatkan oleh jagawana saya otomatis menjaga jarak aman setelah melihat seekor banteng jantan besar berwarna hitam.

Bagi yang suka menikmati tenggelamnya Sang Surya, bisa berjalan menuju sisi barat Pulau Peucang. Di tempat tersebut terdapat batu karang yang mirip Pulau Kecil, disebut Karang Copong. Jika membawa kapal dari Labuan atau Carita, kita dapat menuju lokasi sekitar karang copong dengan lebih cepat. Di lokasi itu kita akan disuguhi terbenamnya matahari (jika langit sore bersih tak berawan) dengan latar depan ombak besar serta karang menjulang yang indah.

Dari Pulau Peucang sebagai titik tolak, kita bisa mencapai Pulau Handeuleum menggunakan kapal. Inilah salah satu keuntungan mengunjungi Pulau Peucang menggunakan kapal sewaan. Salah satu yang menarik dari Pulau Handeuleum adalah kita bisa menelusuri Sungai Cigenter menggunakan perahu kano dan melihat ekosistem hutan Mangrove. Di musim hujan, menurut jagawana yang mengantar, tidak jarang terlihat ular sanca bergelantungan di pepohonan. Di sungai ini saya melihat jejak Badak Jawa, berupa kotorannya yang mengambang di tepian sungai. Tentu jangan berharap bisa menemukan atau melihat satwa langka ini. Selain jumlahnya yang tinggal sedikit, badak jawa adalah satwa liar yang suka bersembunyi di rimbunnya hutan.

Selain beberapa spot yang sudah dijelaskan tersebut, anda bisa mengunjungi Pantai Kelejetan, Karang Ranjang, Cibandawoh. Di lokasi tersebut kita bakal disuguhi fenomena gelombang laut selatan dan pantai berpasir tebal serta pengamatan tumbuhan dan satwa. Pulau Panaitan dan Gunung Raksa menarik juga untuk dikunjungi. (Lukas Setia Atmaja, Penikmat Fotografi, Kompas 28 Maret 2011)

5987 Total Views 9 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply