Warisan Teh Nusantara di Rumah Bambu Garut

Indonesia memang kaya dengan warisan leluhur yang selalu menakjubkan untuk dinikmati. Meski sudah mulai banyak warisan budaya yang ditinggalkan, ternyata masih ada yang mencoba membangkitkan kembali warisan yang luhur itu. Salah satunya adalah Rumah Bambu yang sengaja diciptakan untuk mewarisi sejarah perkebunan teh dan budaya Parahyangan. Rumah Bambu terletak di Desa Cimurah, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. Jaraknya sekitar 60 kilometer dari Kota Bandung.

Untuk mengunjungi Rumah Bambu Garut, Anda bisa naik bus dari Terminal Bus Leuwipanjang Bandung menuju Terminal Bus Garut. Ongkos bus Bandung-Garut ini Rp. 10.000,- untuk bus non-AC dan Rp. 15.000,- untuk bus AC. Dari Terminal Bus Garut, perjalanan dilanjutkan ke Gerbang Desa Cimurah dengan naik angkutan umum No. 07 Jurusan Wanaraja. Nah, dari Gerbang Desa Cimurah itu Anda bisa naik ojek (ongkos Rp. 3.000,-) atau Anda cukup berjalan kaki karena jarak menuju Rumah Bambu Garut hanya sekitar 1 kilometer.

Lokasi Rumah Bambu Garut terletak di tengah-tengah hamparan sawah, di dekatnya juga terdapat aliran Sungai Cimanuk. Dari lokasi Rumah Bambu Garut itu, Anda bisa menikmati pemandangan Garut yang dikenal sebagai “Swiss van Java”. Pemandangan indah semakin terlihat karena daerah ini diapit oleh empat gunung, yaitu Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Cikuray, dan Gunung Karacak.
Pendiri Rumah Bambu Garut, Kuswandi, memang merancang lokasi seluas 1 hektar ini untuk menyimpan informasi dan koleksi yang berkaitan dengan pengaruh teh bagi Hindia Belanda dan Indonesia. Di ruangan berbilik bambu seluas 7×6 meter itulah, Kuswandi ingin melestarikan warisan sejarah bangsa. Semua koleksi yang dimiliki Rumah Bambu Garut berasal dari hasil koleksi Kuswandi ketika bekerja di PT Perkebunan Nusantara VIII. Ada juga yang berasal dari sumbangan dari keluarga para perintis perkebunan teh di Indonesia.

Di antara koleksi Rumah Bambu Garut antara lain berupa foto-foto lama, peta kuno, berbagai jenis daun teh, dan awetan harimau Jawa yang sudah punah. Selain itu juga ada banyak dokumentasi mengenai teh di Indonesia. Di Rumah Bambu Garut juga ada kisah tentang Karel Frederik Holle yang mendirikan Perkebunan Teh Waspada di Garut pada tahun 1865. Ternyata Karel Frederik Holle inilah yang pertama kali mengembangkan varietas domba Garut yang sangat terkenal itu. Dalam sejarahnya, domba Garut merupakan hasil silangan dari domba Australia yang dibawa Holle dengan domba lokal.

Tidak hanya menawarkan wisata sejarah, Rumah Bambu Garut juga menawarkan wisata outbund yang disiapkan sebagai wahana pengusir penat. Di Rumah Bambu Garut terdapat wahana drum jungkit, kolam renang, tarik tambang, arena pemancingan ikan, dan tangga goyang. Uniknya, kolam renang mini dan pemancingan ikan tersebut menyatu dengan sawah warga di sekitar Rumah Bambu Garut. Bagi pengunjung yang ingin bermalam, Rumah Bambu Garut menyediakan empat rumah panggung yang masing-masing bisa memuat sampai delapan orang.

Tarif untuk menginap di rumah panggung itu berkisar antara Rp. 400.000,- hingga Rp. 500.000,-. Biaya tersebut sudah termasuka satu kali sarapan pagi. Selain itu ada juga paket yang akan mengantarkan Anda keliling perkebunan teh Waspada, Malabar, dan Gambung. Rumah Bambu Garut tidak hanya menarik bagi wisatawan lokal, karena tidak jarang ada turis dari luar negeri yang berkunjung untuk menikmati wisata sejarah perkebunan teh yang sudah jarang ditemukan di mana pun.

7826 Total Views 12 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply