Wisata Kelenteng Pecinan di Surabaya

Tidak seperti Jakarta, Surabaya masih banyak memiliki bangunan tua. Walau banyak yang mengalami kerusakan, bangunan tua masih menjadi daya tarik di Kota Pahlawan.

Salah satu jejak pecinan yang ada adalah kelenteng Boen Bio yang terletak di jalan Kapasan Surabaya. Kelenteng ini sebelumnya bernama Boen Tjiang Soe (Wen Ch’ang Tzu). Kelenteng yang dibangun pada 1883 ini merupakan satu-satunya kelenteng Konghucu di Indonesia. Beda dengan kelenteng biasa, di sini tidak ada rupang (patung suci) sama sekali. Umat Konghucu lantas menggunakan Shinci yaitu altar yang memiliki sebuah papan tulisan yang melambangkan Tuhan Yang Maha Esa.

Jejak Petjinan adalah sebuah komunitas yang menelusuri jejak peranakan Tionghoa di Inodonesia. Kegiatannya banyak berkunjung ke tempat-tempat peninggalan budaya Tionghoa. Lewat kegiatan yang diberi nama Melantjong Petjinan Soerabaja, mereka tidak hanya pergi ke kelenteng-kelenteng bersejarah, tapi juga mengunjungi perusahaan peti mati, pemakaman Tionghoa, hingga belajar membuat bacang.

Tepat di belakang kelenteng Boen Bio terdapat kampung kungfu. Dulunya, kampung ini dihuni master-master kungfu yang disegani warga kota. Namun sayangnya, kampung kungfu ini kini hanya menjadi pemukiman biasa saja. Tak ada lagi perguruan kungfu atau sekedar latihan bela diri. Peminatnya sudah tidak ada karena dari cerita-cerita yang saya dengar, belajar kungfu waktu itu betul-betul sulit. Beberapa orang yang ingin mempertahankannya terpaksa mengkombinasikan dengan bela diri lokal.

Bergeser sedikit ke arah Tuban, Jejak Petjinan juga pernah berkunjung ke Kelenteng Kwan Sing Bio. Tak seperti kelenteng lain yang didominasi ornamen naga dan singa, kelenteng ini memiliki kepiting besar yang menjadi ornamen utama bangunan. Paling menonjol, terlihat pada atap gapura yang seakan dihinggapi kepiting raksasa. Menurut orang-orang di sana, simbol kepiting itu tidak punya arti apa-apa. Boleh jadi, kepiting dijadikan simbol karena letaknya dekat dengan pantai.

Konon, Kwang Sing Bio yang berdiri menghadap laut itu didirikan tanpa direncanakan. Menurut cerita, dulu terdapat kelenteng yang berada di Kecamatan Tambak Boyo, sekitar 30 kilometer arah barat Kota Tuban.

Saat pengurus kelenteng akan memindahkan rupang, Kwan Kong ke Surabaya melalui jalur laut kapal kandas menghantam karang. Berbagai upaya untuk menarik kapal tidak berhasil hingga akhirnya muncul petunjuk untuk membangun kelenteng darurat di pantai Tuban tersebut.

Melalui komunitas Jejak Petjinan, mereka menelusuri kembali jejak-jejak budaya yang belum terungkap nantinya mereka berharap bisa membuat sebuah media yang mengarsipkan data kebudayaan Tionghoa di nusantara.

6698 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply