Wisata Kelotok di Sungai Martapura

Pagi masih berkabut, tapi kehidupan Sungai Martapura, Kalimantan Selatan, sudah menggeliat. Pengemudi kelotok (perahu bermotor) menerabas dingin dan petani ikan mengumbar jala di sungai yang merupakan nadi kota Banjarmasin. Konon, dulu ada seribu sungai melintasi Banjarmasin, tapi kini hanya Sungai Martapura yang mampu bersanding dengan modernitas.

Namun bila Anda meluangkan waktu berkelotok menuju Desa Lok Baintan, Anda akan merasa seakan menembus lorong waktu. Perjalanan dari pusat kota yang hiruk pikuk menuju dunia baru yang membuat waktu seolah semu.

Di buaian gelombang saat pagi hari, puluhan pengemudi perahu sudah beriak saling menimbang dan berunding untuk menukar barang. Sistem barter ini mungkin sudah dianggap punah, tapi masih hidup di Sungai Martapura.

Di Lok Baintan, semua tampak lambat. Pemandangan pejalan kaki dengan baju takwa dan sarung kotak-kotak beriringan di jembatan gantung sepanjang kurang lebih 500 meter di atas sungai, sambil menenteng kitab, terlihat memesona.

Bagi yang takut ketinggian, pemandangan parade jukung dari atas jembatan bisa jadi pilihan. Pemandangan gerombolan jukung dengan aneka buah dan sayur berwarna-warni sayang sekali untuk dilewatkan. Tapi bagi yang fobia ketinggian, sebaiknya tetap di bawah karena jembatan gantung selebar satu meter ini tidak dilengkapi jaring pengaman.

Untuk melengkapi kunjungan, kita bisa berbelanja buah-buahan segar seperti jeruk, rambutan atau kecapi yang di Banjarmasin biasa dibuat rujak. Jika ingin buah tangan yang tahan lama, mampir saja di kampung sebelah mesjid yang akan dilewati sepulang dari Lok Baintan. Tempat ini dikenal sebagai tempat perajin kain tradisional Banjar Sasirangan.

Saya beruntung mendapatkan potongan terakhir kain Sasirangan yang dicelup pewarna dari daun mangga. Benda itu melengkapi perjalanan saya menembus lorong waktu.

(Farah Hidayati, Reader’s Digest – Gambar: banjarmasinkota.go.id)

6816 Total Views 3 Views Today

Ayo Berkomentar Dengan Akun Facebook:

comments

Leave a Reply