Wisata Ziarah Ke Masjid Agung Demak

January 2nd, 2011 dalam kategori Jawa Tengah ditulis oleh 1 Comment | 2,621 kali dibaca |

Masjid Agung Demak dikenal dengan gelombang peziarah yang akan melakukan ritual doa dan zikir untuk Sultan Demak. Tidak setiap saat mereka akan datang, waktu-waktu yang ramai dipadati oleh peziarah adalah bulan Muharam, Bulan Haji dan Bulan Suro. Tanggal 12 Rabbiul Awal, hari kelahiran nabi, 27 Rajab atau Isra Miraj.

Ziarah kubur ke makam Sultan Demak dan keluarganya itu dilakukan untuk berdoa dan berzikir, yang dalam bahasa Jawa sering disebut dengan ngalap berkah atau memohon berkat. Doa ditujukan kepada Tuhan supaya diberikan berkah, rezeki, kesehatan, ketenangan dan dihapuskan dosa-dosanya.

Makam yang dikunjungi adalah makan Kesultanan Bintoro Demak, di mana terdapat Sultan Demak yang pertama, Raden Patah. Raden Patah berkuasa dari 1478 hingga 1518. Ada juga makam Raden Patiunus yang berkuasa tahun 1518 hingga 1521. Raden Trenggono berkuasa dari 1521 hingga 1546, dan juga makam Putri Campa ibunda Raden Patah.

Masjid Demak, diyakini didirikan oleh Wali Songo dalam waktu hanya satu malam. Babad Demak menyebutkan tahun pembuatan adalah 1399 Saka atau 1477 masehi. Tetapi ada juga yang menyebutkan tahun 1401 Saka atau 1479, dilihat dari gambar bulus (kura-kura) di  mihrab Masjid.

Ukuran Masjid Demak adalah 31×31 meter. Terbuat dari kayu jati kualitas unggul. Serambi Masjid berukuran 31×15 meter. Memiliki empat tiang kayu raksasa sebagai saka guru. Masjid memiliki 50 buah tiang penyangga, diantaranya 28 buah terdapat di serambinya.

Soko sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu buah kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (soko tatal), merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga. Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Patiunus atau Pangeran Sabrang Lor), Sultan Demak kedua (1518 -1521) pada tahun 1520. Pada saat Masjid Demak dibangun, arah kiblatnya sempat salah, dan peran Sunan Kalijaga-lah yang membetulkan letak arahnya.

Perbaikan dan pemugaran masjid dilakukan beberapa kali, dengan dana dari APBN, bantuan negara OKI dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Atap bersusun tiga menjadi perlambang bagi setiap orang yang beriman dimulai dari tingkat mukmin, muslim dan muhsin atau iman, islam dan ihsan Demikian halnya dengan lima buah pintu yang menghubungkan satu bagian dan bagian yang lain, diharapkan mengingatkan setiap manusia akan adanya rukun Islam yang lima yakni syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Sedang enam jendelanya melambangkan rukun iman yakni percaya kepada Allah SWT, percaya kepada rasul-rasulNya, percaya kepada kitabNya, percaya kepada malaikatNya, percaya akan datangnya kiamat dan qada qadar.

Ada beberapa ritual yang masih dilakukan hingga kini di Masjid Agung Demak antara lain upacara penjamasan atau memandikan Keris Kyai Crubuk, Kutang Ontokusumo dan Kyai Sengkelat peninggalan Sunan Kalijaga, yang dibawa dari Keraton Surakarta ke Kadilangu Demak, yang disebut Grebeg Besar.

Upacara dimulai setelah melakukan shalat Idul Adha di Masjid Agung kemudian diteruskan dengan prosesi iring-iringan prajurit yang mengawal minyak jamas, minyak untuk memandikan pusaka, yang didatangkan dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Iring-iringan ini dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak sampai ke Makam Kadilangu.

Pada awalnya Grebeg Besar dilakukan tanggal 10 Dzulhijjah 1428 Saka dan dimaksudkan sekaligus untuk memperingati genap 40 hari peresmian penyempurnaan Masjid Agung Demak. Mesjid ini didirikan oleh Walisongo pada tahun 1399 Saka, bertepatan 1477 Masehi seperti tertulis pada candrasengkala “Lawang Trus Gunaning Janmi”.

Pengukuhannya secara resmi pada 1 Dzulhijjah 1428 Saka ketika Sunan Giri meresmikan penyempurnaan masjid ini. Karena di luar dugaan pengunjung sangat banyak, kesempatan ini digunakan para Wali untuk melakukan dakwah Islam. Tujuan Grebeg Besar, hakikatnya adalah merayakan Hari Raya Kurban dan memperingati 40 hari peresmian Masjid Demak.

Tradisi Grebeg Besar, sekitar tahun 1970-an, hampir dilupakan masyarakat, karena semakin berkurangnya jumlah pengunjung. Ketika itu Bupati Demak Drs Winarno bersama Kepala Dinas Pariwisata Jateng Drs Sardjono, memiliki gagasan mengembangkan pariwisata untuk menambah daya tarik pengunjung. Kemudian dibuatlah atraksi upacara penyerahan minyak jamas dari Kraton Surakarta kepada Bupati Demak, diiringi prajurit “Patangpuluhan” yang jumlahnya empat puluh orang.

Pakaian prajurit ini dirancang oleh Dinas Pariwisata Jateng, sedangkan untuk aba-aba baris-berbaris dilatih secara khusus oleh anak wayang kelompok “Ngesti Pandowo”. Juga masih ditambah lagi dengan atraksi pemotongan “Tumpeng Sanga” yang melambangkan Walisanga karena jumlah tumpengnya sembilan buah. Di luar dugaan, dengan ditambahkannya even ini, pengunjung Grebeg Besar semakin banyak.

One Comment

Aku beberapa kali kaunjungi masjid ini, shalat di sana. Sampai sekarang wibawa majsid ini sebagai salah satu yang tertua di Jawa masih terjaga. Apalagi ada beberapa makam raja di sekitar sini.

Arjuna

2/6/2012

Leave a Reply